Wednesday, July 12, 2017

Indahnya dan Ramahnya Sawarna!

video

Lebaran kemarin, sebenarnya saya tidak punya rencana berlibur. Selain sedang berhemat, juga malas bermacet-macet ria ke tempat-tempat wisata. Saya berencana pulang kampung saja ke Rangkasbitung, Lebak, Banten. Tapi karena Ibu saya kekeuh ingin ‘main’, saya pun menawarkan beberapa alternatif pergi ke Bandung atau Cirebon, asal naik kereta. Eh sayangnya tiket kereta pun sudah ludes, maklum Lebaran, sedangkan saya paling anti terjebak kemacetan panjang menuju Bandung.

Akhirnya muncul ide ke Pantai Sawarna, yang dari dulu sebenarnya ingin saya kunjungi. Apalagi pas saya cek Google Map, wow garisnya biru, bukan merah! Karena perjalanannya jauh, sekitar 150km (3.5 – 4 jam dari Rangkasbitung), saya harus pastikan penginapannya ada, soale bawa emak-emak. Kalau sampai dia marah, bisa kelar hidup gue.

Di Google Map ternyata cuma ada 3 penginapan. Sempat deg-degan karena 2 penginapan pertama tidak ada kamar kosong. Tinggal Penginapan Srikandi. Saya hubungi orangnya, namanya Pak Encep (Sunda banget euy) yang bilang kamarnya tinggal 2, pakai AC dan non-AC. Saya bilang pakai AC dong, namanya juga orang kota hehe. Katanya harganya Rp 600ribu untuk 6 orang. Saya pikir-pikir sayang juga ya kalau kapasitas 6 orang cuma diisi 2. Akhirnya saya ajaklah tante, om dan sepupu-sepupu saya, sekalian penuhin mobil hehe.

Friday, November 11, 2016

Tahun Suci Kerahiman Ilahi, Saatnya Pertobatan dan Pengampunan

Paus Fransiskus membuka Pintu Suci di Basilika St. Petrus
Bagi umat Katolik, tahun 2016 ini merupakan tahun yang istimewa karena ditetapkan sebagai Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah oleh Paus Fransiskus. Secara universal bernama  Extraordinary Jubilee of Mercy yang dimulai dari tanggal 8 Desember 2015 dan akan berakhir tanggal 20 November 2016 nanti. Gereja Katolik di seluruh dunia menjadikan periode tersebut sebagai masa pengampunan dosa dan pengampunan universal. Umat Katolik diharapkan untuk melakukan pertobatan, memaafkan diri sendiri dan orang lain serta merubah hidup mereka agar lebih berarti.

Tahun Kerahiman berakar dari tradisi Perjanjian Lama atau Yudaisme yang membebaskan para budak dan tahanan setiap 50 tahun yang kemudian dihidupkan kembali dan dimodifikasi oleh Paus Bonifasius VIII di abad 14. Tahun ini merupakan Tahun Suci ke-27 sepanjang sejarah Katolik.

Thursday, November 10, 2016

Lucunya Pak Oded, Orang Israel dengan Humor Indonesia


Di bulan September lalu, saya dan Ibu berkesempatan melakukan ziarah ke Tanah Suci umat Nasrani di Israel dan Palestina. Kami memasuki perbatasan Israel (Allenby Border) melalui kota Amman, Yordania. Di sanalah kami dijemput Pak Hadaya Oded, pemandu wisata kami selama berziarah di Tanah Suci. Beliau adalah orang Israel yang fasih berbahasa Indonesia, begitu fasihnya sampai dia mengerti selera humor orang Indonesia. Dia suka stand up comedy di bis tur, asli lucu banget!

Dia belajar bahasa Indonesia selama dua bulan di Jakarta tahun 1995, karena dia melihat peluang dengan banyaknya turis Indonesia ke Israel dan saat itu belum ada tour guide yang bisa berbahasa Indonesia. Sekarang, selain menjadi tour guide, dia juga mengajar bahasa Indonesia di Yerusalem, terutama untuk para guide. Pantas saja, para tour guide lain yang kami temui dalam perjalanan sepertinya begitu akrab dan hormat kepadanya.

Wednesday, November 9, 2016

Laut Mati yang Menyatukan Israel, Palestina & Yordania

Pemandangan Laut Mati di wilayah Israel
Laut Mati (Dead Sea) berlokasi di tiga negara, yakni Israel, Yordania, dan Palestina. Laut Mati sebenarnya merupakan sebuah danau yang pasokannya airnya berasal dari aliran Sungai Yordan. Mengapa dinamakan Laut Mati? Karena memang tidak ada kehidupan di dalamnya. Tidak ada hewan maupun tumbuhan air yang sanggup bertahan hidup di air yang kadar garamnya tertinggi di dunia, 9-10 kali lebih asin daripada air laut biasa. Karena keasinannya itu, manusia dapat mengapung, tanpa perlu kuatir akan tenggelam. Yang gak bisa berenang, boleh banget nih mandi di sini!


Laut Mati juga disebut sebagai tempat terendah di dunia, karena berada 429 meter di bawah permukaan laut. Pantas saja, saat menuju ke sana dari arah Yerusalem, kami melewati jalan yang terus menurun. Menurut hasil penelitian, karena posisinya yang jauh di bawah permukaan laut, radiasi sinar ultraviolet, kadar bakteri dan virus di udara pun lebih rendah. Itu saja sudah memberikan manfaat kesehatan bagi manusia.

Monday, July 4, 2016

T3 Ultimate Soekarno-Hatta dan Citra Pariwisata Indonesia

Check-In Area
Sebagai pecinta traveling, bandara adalah tempat yang pasti saya lewati sebagai pintu gerbang negara atau tempat tujuan. Pada beberapa perjalanan perdana saya ke luar negeri, saya selalu terpukau dengan kemegahan bandara, kelengkapan fasilitas, dan sarana transportasinya. Tapi terus terang, lama-kelamaan saya jadi tidak begitu memperhatikan lagi karena sekarang antara bandara yang satu dengan bandara lain tidak jauh berbeda.

Tapi yang masih saya ingat adalah bandara Changi di Singapura cuma karena untuk pertama kalinya saya merasakan minum langsung dari air keran dan menikmati fasilitas kursi pijat. Juga bandara Sydney, hanya karena di sana saya bisa menunggu penerbangan berikutnya sambil main Playstation! Bagi saya, kini bandara tidaklah berarti apa-apa selain prosedur rutin yang harus dilewati untuk menuju tempat tujuan, tidak ada pengalaman emosional di dalamnya.

Sunday, March 20, 2016

Balada F1 & Membangun Bisnis

Source: gpf1.cz
Terakhir kali saya mengikuti F1 itu pas hebohnya persaingan antara Michael Schumacher dan Mika Hakkinen. Buset itu udah lama banget ya hahaha. Berbeda dengan orang lain, saya mendukung Mika Hakkinen. Habis bosan lihat Schumacher juara melulu.

Gara2 Rio Haryanto lah, saya mengikuti lagi F1. Mirip CLBK gitu deh hahahaha. Kebetulan banget banyak sekali 'drama' yg muncul di GP perdana Melbourne ini. Yg paling dramatis tentunya tabrakan mobil antara Alonso dan Guttierez. Thank God, Alonso selamat dan masih bisa jalan. Padahal mobilnya udh ringsek abis.


Wednesday, January 18, 2012

Bulu Babi, dari Sampah menjadi Emas

Pics: www.bbc.co.uk
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lebih dari 17.000 pulau yang terbentang sepanjang garis khatulistiwa. Sebagai negara maritim, tentu saja Indonesia mempunyai potensi kekayaan laut yang luar biasa. Bahkan kita memiliki keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia, setelah Brazil. Namun sayangnya, kita belum memaksimalkan potensi bahari kita karena kurangnya dukungan pemerintah, rendahnya pengetahuan, belum tingginya semangat kewirausahaan, dan sebagainya. Komoditas ekspor utama kita masih dari sektor perminyakan, pertambangan, perkebunan, kayu, dan tekstil.

Saat ini, pengembangan potensi perairan lebih banyak difokuskan pada wisata bahari dan industri perikanan. Ikan laut sudah lama diketahui memiliki kandungan protein tinggi dan merupakan komoditas utama. Namun, selain ikan, udang, kepiting, dan lain-lain, laut kita juga sebenarnya memiliki potensi lain, seperti rumput laut, kuda laut, bulu babi atau landak laut yang seringkali dianggap tidak menguntungkan. Pandangan seperti itu terjadi karena rendahnya pengetahuan masyarakat bahkan pemerintah sendiri akan manfaat dan nilai ekonomi hewan-hewan laut tersebut.

Wednesday, January 11, 2012

Kisah Bocah Penjinak Angin dari Afrika

(Pic: ulas-buku.blogspot.com)
Membaca buku ini, membuka mata saya bahwa betapa beruntungnya saya hidup di Indonesia. Afrika adalah benua yang serba kekurangan, tanah yang sebagian besar tandus, musim kering yang panjang, serta penduduk yang mayoritas memiliki fanatisme kesukuan. Selalu ada kisah sedih dari Afrika, entah itu yang disebabkan oleh bencana kelaparan, wabah penyakit, ataupun perang antar-etnis.

Namun selalu ada setitik embun di tengah padang pasir. Dalam buku ini, embun itu bernama William Kamkwamba. Seorang bocah Malawi miskin yang tinggal di desa kecil bernama Masitala, dekat kota Kasungu. Kekeringan dan gagal panen chimanga (jagung) di tahun 2002 yang melanda negeri itu, membuatnya terpaksa putus sekolah karena ayahnya tidak punya panen untuk dijual.

Gagal panen juga sama artinya dengan bencana kelaparan. Di tahun itu, konon bencana kelaparan telah membunuh ratusan penduduk Malawi. UNICEF memperkirakan ada 46 ribu anak Malawi yang kekurangan gizi. Saat itu William masih 14 tahun.