Tuesday, November 29, 2011

Hi Lady Gaga, Hola Shakira!

Lady Gaga dan Shakira. Dua penyanyi dengan imej yang bertolak belakang, seperti langit dan bumi, daratan dan lautan, utara dan selatan, Yin dan Yang. Tapi saya menyukai musik mereka. Musik Lady Gaga merupakan electro-pop dengan lirik-lirik gelap dan penuh dengan sarkasme. Sedangkan musik Shakira lebih beragam, perpaduan kompleks antara pop, rock, Latin, Arab, reggaeton dan merengue. Lirik-lirik lagunya be-rima dan pilihan katanya kadang mengundang tanya.

Vokal Lady Gaga mengingatkan saya akan suara Cher, tapi dengan kemampuan meliuk hingga nada-nada tinggi. Shakira memiliki vokal vibrato dan mampu ’menyemburkan’ frase demi frase dengan kecepatan peluru. Jika Lady Gaga kerap bereksperimen dengan pakaian-pakaiannya, Shakira bereksperimen dengan musiknya yang membuat setiap albumnya terdengar berbeda.

Meski demikian, mereka memiliki persamaan, misalnya dapat menciptakan lagu-lagu mereka sendiri. Lady Gaga dapat memainkan piano, sedangkan Shakira memainkan gitar atau harmonika. Baik Lady Gaga maupun Shakira sama-sama dapat berdansa. Mereka berdua merupakan performer yang luar biasa di atas panggung. Namun Shakira memang lebih berpengalaman konser dibanding Lady Gaga, terlihat dari kemampuannya mengatur nafas meski menyanyi dan menari hampir non-stop selama 2 jam.

Karena menggemari keduanya, saya pun terbang ke London guna menyaksikan konser Lady Gaga (tanggal 17 Desember 2010) dan Shakira (tanggal 20 Desember 2010) di O2 Arena yang berkapasitas 20 ribu penonton. Kedua konser tersebut begitu berbeda satu sama lain. Konser Lady Gaga begitu spektakuler dengan tata panggung yang wah, outfit yang rumit, dan sederetan penari latar. Konser Shakira lebih simpel, namun lebih kaya dan berani dalam aransemen musik.

Saya akan membahas keduanya satu per satu.




LADY GAGA: THE MONSTER BALL TOUR
17 Desember 2010 – O2 Arena, London


Siapa yang tidak kenal Lady Gaga? Penyanyi bernama asli Stefani Germanotta ini terkenal akan lagu-lagu hitnya, seperti Pokerface, Paparazzi, Telephone, Bad Romance, dan lain-lain. Dia juga dikenal dengan aksi sensasionalnya dan gaya pakaiannya yang kontroversial. Di satu sisi, sensasi-sensasi itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun di sisi lain, hal itu juga membuat kemampuan bermusiknya diremehkan sebagian orang. Karena itulah, ketika saya menemukan video Lady Gaga bermain piano sambil menyanyikan Paparazzi dalam salah satu promonya di Australia, saya begitu terkejut. Karena dia bermain piano dengan ahlinya dan dengan kualitas vokal yang luar biasa.

Seketika itu juga saya berpikir bahwa pakaian yang dikenakannya dan sensasi yang dibuatnya mungkin hanyalah polesan belaka. Sebuah bagian dari strategi pemasaran untuk membuatnya berbeda dari ratusan penyanyi berbakat lainnya yang dimiliki Amerika Serikat. Saya mulai menghargai kemampuan musiknya, tetapi tetap tidak peduli dengan sensasi atau kontroversi yang dibuatnya.

Bagi saya, kualitas dan totalitas seorang penyanyi bisa kelihatan dari konsernya, bukan dari jumlah album terjual ataupun posisi single-nya di tangga lagu. Karena itulah, saya tidak ingin melewatkan kesempatan menonton konser Lady Gaga di salah satu venue paling prestisius di dunia, yakni O2 Arena London. Konser yang saya hadiri merupakan konser ke-empat Lady Gaga di tempat yang sama dan di tahun yang sama. Sehari sebelumnya, dia juga tampil di venue yang sama. Di masing-masing konser itu dia menyanyi, menari dan bermain piano selama hampir dua jam. Jadi bisa dibayangkan betapa besar stamina yang dimilikinya untuk melakukan konser dua hari berturut-turut.

Panggung Monster Ball Tour terdiri dari dua bagian yaitu panggung utama dan catwalk. Pada awalnya panggung utama ditutup dengan semacam layar yang memproyeksikan beberapa pose Lady Gaga dalam gambar hitam putih. Lalu terdengarlah intro lagu Dance in The Dark dan penonton pun bersorak. Perlahan layar terangkat dan terlihatlah sosok Lady Gaga. Pembukaan konser yang nendang banget!

Lady Gaga menyanyikan dan menarikan 18 lagu. 2 lagu di antaranya dinyanyikan sambil bermain piano, yaitu ‘Speechless’ dan ‘You and I’ yang akan dimasukkan ke dalam album berikutnya ‘Born This Way’. Meski bernyanyi sambil bermain piano, bukan Lady Gaga namanya kalau tidak melakukan hal aneh-aneh. Dia menungging, mengangkangi bahkan menginjak tuts piano. Kalau Anda tidak ’tega’ melihat aksi brutalnya, tutup mata saja. Tapi bukalah telinga lebar-lebar, karena vokalnya mantap dan permainan pianonya indah walau ’sedikit’ kasar.

Bisa dibilang, hampir setiap 2-3 lagu, Lady Gaga berganti kostum. Karena beberapa kostumnya rumit (atau ribet?), jeda waktunya cukup panjang dan diisi dengan musik instrumental atau video. Penonton pun bersabar karena tahu akan disuguhi penampilan hebohnya. Setting panggungnya pun kerap berganti, mulai dari lampu-lampu neon khas kota besar, hutan di malam hari, hingga ikan (piranha?) raksasa.

Saya juga melihat sisi lain seorang Lady Gaga, yakni dia sangat perhatian terhadap para penggemarnya. Meski memasang wajah dingin sepanjang konser, dia intens berkomunikasi dengan mereka, menceritakan kisah dibalik sebuah lagu, bersenda gurau, menerima pemberian fans bahkan membacakan tulisan yang ada. Tidak heran jika dia memiliki penggemar fanatik yang menyebut diri mereka ’little monsters’, mengacu pada judul album kedua, The Fame Monster.

Namun karena Lady Gaga menggunakan head-microphone (maaf saya tidak tahu istilah yang tepat), suaranya yang kehabisan nafas seusai bernyanyi dan berdansa jadi terdengar jelas. Mungkin masalah kecil ini bisa diatasi jika dia sedikit menjauhkan mic-nya dari bibirnya ketika mengambil nafas. Itu satu-satunya kritik saya untuk konser ini.

SHAKIRA: THE SUN COMES OUT TOUR
20 Desember 2010 – O2 Arena, London


Kita mulai mengenal Shakira Isabel Mebarak Ripoll ketika dia merilis album berbahasa Inggris pertamanya Laundry Service tahun 2001 dengan hitsingle ‘Whenever, Wherever’. Pada tahun 2006, Shakira merilis album dalam 2 versi, yaitu versi bahasa Inggris dan bahasa Spanyol, dengan single terlaris abad 21 ‘Hips Don’t Lie’, lagu yang juga dinyanyikannya pada acara penutupan Piala Dunia 2006 di Jerman. Shakira sepertinya berjodoh dengan sepakbola, karena awal tahun lalu FIFA memilihnya untuk menyanyikan lagu resmi Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Lagu ‘Waka Waka (This Time for Africa)’ menjadi nomor 1 di banyak negara, videonya di Youtube dilihat lebih dari 260 juta kali dan single-nya menjadi single Piala Dunia terlaris sepanjang masa.

Saya juga mulai tertarik dengan Shakira gara-gara Waka Waka. Setelah membaca biografi dan beberapa artikel wawancaranya, saya baru menyadari bahwa Shakira bukan sekedar penyanyi seksi bersuara unik. Shakira ternyata juga seorang pencipta lagu, gitaris, drummer, pemain harmonika, produser dan lebih dari itu, dia juga seorang dermawan. Pada tahun 1995, dia mendirikan Pies Descalzos Foundation yang membangun dan mengelola sekolah gratis untuk anak-anak miskin di Kolombia hingga sekarang.

Kemudian setelah menyaksikan beberapa penampilannya di festival musik Glastonbury dan Rock in Rio Madrid, terlihat bahwa dia memiliki karisma besar dan kemampuan panggung kelas dunia. Sesuatu yang wajar mengingat dia sudah berada di industri musik selama hampir 20 tahun dan sudah empat kali menggelar tur dunia.

Karena alasan-alasan itulah, saya tertarik menonton konser Shakira di O2 Arena London pada tanggal 20 Desember lalu yang bertema: ’The Sun Comes Out Tour’. Judul yang awalnya terasa lucu karena dilaksanakan pada saat musim dingin. Tetapi begitu menonton konsernya, atmosfer kehangatan dan kegembiraan memang begitu terasa seperti suasana musim panas. Hampir semua penonton di area tribun ikut berdiri dan berdansa sepanjang konser.

Shakira dikenal praktis. Karena itu, dia tidak memakai outfit yang dapat menghambat gerakannya dan tidak menggunakan tata panggung yang berlebihan. Bahkan dia bertelanjang kaki setelah lagu kelima. Panggungnya terdiri dari panggung utama dan catwalk, serta dilengkapi dengan layar monitor raksasa sebagai latar belakang. Layar ini memproyeksikan wajah dan tubuh Shakira secara close-up, serta dapat membelah dan di tengah-tengahnya muncul topeng raksasa dalam 3 dimensi.

Selain panggung yang ’sederhana’, Shakira juga hanya didampingi dua orang penari profesional dan musisi-musisi yang sudah dikenalnya sejak lama. Acungan jempol juga pantas dialamatkan untuk para musisinya. Beberapa lagu diaransemen ulang menjadi sangat berbeda dengan di albumnya. Di nomor Why Wait misalnya, terdapat perpaduan unsur musik rock dan Arab. Lagu Whenever, Wherever terdengar seperti musik heavy-metal yang kemudian dipadukan dengan lagu Unbelievable dari EMF. Kemudian favorit saya adalah ketika Shakira meng-cover lagu Metallica ‘Nothing Else Matters’ dengan irama latin dan dimainkan secara akustik. Shakira secara total menyanyikan 19 lagu dan 2 cuplikan lagu, yakni Unbelievable (EMF cover) dan Despedida. Dia juga memainkan gitarnya di nomor Inevitable dan harmonika untuk Te Dejo Madrid dan Gipsy.

Selain memanjakan mata dan telinga penontonnya, Shakira juga berinteraksi dengan mereka sejak awal konser. Sambil bernyanyi Pienso En Ti, dia memasuki panggung dari tengah-tengah penonton, memberi pelukan, senyuman dan jabatan tangan untuk para penonton yang beruntung. Selain itu, di tengah-tengah lagu ’Whenever, Wherever’, Shakira memilih 4 gadis dari kerumunan penonton dan mengajari mereka berdansa. Terakhir, ketika menyanyikan lagu penutup Waka Waka, terdapat sekitar 12 orang penggemar yang ikut berdansa di atas panggung. Ke-12 orang ini adalah mereka yang beruntung memenangkan kontes di majalah atau radio. Saya salut dengan upaya keras Shakira untuk memberikan pengalaman tak terlupakan bagi sebagian penggemarnya.

Meski Shakira tidak banyak bicara pada saat konser, dia tidak henti-hentinya tersenyum dan terkadang matanya bersinar jenaka. Dia selalu berhasil mengajak semua penonton untuk bergoyang atau mengikuti gerakan tangannya. Aura kehangatan dan keceriaan begitu terasa bahkan hingga konser berakhir. Beberapa penonton masih bermain-main dengan confetti, ada pula yang berdansa. Saya melihat senyuman puas di wajah mereka.

No comments:

Post a Comment