Friday, November 18, 2011

Kesetrum Metallica di Perth

Australia berada di belahan bumi selatan, sehingga urutan waktu musim-musimnya berbeda dengan Amerika dan Eropa. Musim panas di Australia berlangsung dari bulan Desember hingga Maret dan musim dingin bulan Juni – September. Ketika saya berkunjung pada bulan Oktober 2010, Australia sedang peralihan musim semi ke musim panas dengan suhu antara 18 – 22 derajat Celsius. Namun apabila ditambah angin Australia yang lumayan kencang, suhu jadi terasa lebih dingin menusuk.

Sebagian besar daratan Australia adalah kawasan liar tak berpenghuni, terdiri dari gurun pasir, padang rumput dan pegunungan. Penduduk menghuni wilayah perkotaan yang tersebar di sepanjang pesisir pantai Australia, dari Darwin di utara, Perth di bagian barat, hingga Sydney, Brisbane, Melbourne, Adelaide dan Canberra di kawasan timur. Karena jarak yang jauh, banyak penduduk Perth yang tidak pernah ke kota-kota di wilayah timur. Demikian pula sebaliknya. Orang-orang Indonesia di Perth lebih memilih pulang ke Indonesia daripada bepergian ke Sydney misalnya, karena harga tiket pesawatnya hampir sama.

Untunglah selama di Australia, saya berkesempatan mengunjungi Perth, Sydney, dan Melbourne sekaligus. Perth, menurut saya, adalah kota yang sangat tenang dan bersih. Bayangkan saja, pukul 6 sore, jalanan sudah sepi sehingga rasanya seperti tinggal di kota kecil. Sydney lebih hidup dan ramai dibanding Perth. Melbourne terasa seperti kota Yogya-nya Australia, mungkin karena lokasi hostel saya dekat dengan kampus dan perpustakaan negara.

Di 3 kota tersebut, saya hampir tidak pernah melihat kemacetan karena seperti halnya negara-negara maju, Australia mempunyai sistem transportasi umum yang teratur, baik bis maupun kereta. Kita dapat memperoleh informasi lengkap mengenai moda transportasi Australia di internet atau brosur di hotel dan bandara. Obyek-obyek wisata di tiap kota umumnya dapat dijangkau dengan kereta, bis, atau trem.

Walau demikian, cukup banyak orang Australia yang memiliki mobil karena harga mobil relatif terjangkau disana. Namun biaya parkir, perawatan mobil dan bahan bakarnya yang mahal membuat orang Australia jarang menggunakannya. Sama seperti di Indonesia, kemudi berada di sebelah kanan dan mobil melaju di jalur kiri. Walaupun jalanan sepi, jangan coba-coba melanggar lampu lalu lintas karena CCTV bertebaran dimana-dimana. Penumpang di bangku belakang juga diwajibkan untuk memakai sabuk pengaman.

Parkir mobil dilakukan di sepanjang jalan yang durasi parkirnya berbeda-beda, ada yang setengah jam, 1 jam, 2 jam, dan seterusnya. Di setiap jalan terdapat mesin parkir untuk membayar sesuai lamanya parkir. Bila parkir di jalan yang ketentuannya hanya boleh 1 jam parkir, maka pengemudi harus memindahkan mobilnya sebelum 1 jam itu habis atau membayar lagi untuk 1 jam berikutnya. Agak ngerepotin sih karena harus bolak-balik ke tempat parkir. Kalau tidak begitu, polisi akan mencatat dan menilangnya.

Harga makanan di restoran Australia lumayan menguras kantong, namun porsinya besar karena memang porsi untuk orang bule. Harga makanan rata-rata sebesar AUD 8 atau sekitar Rp 70 ribu. Tapi restoran biasanya memberi air minum gratis, jadi kita tidak perlu memesan minuman untuk menghemat biaya. Karena lumayan mahal, orang Australia lebih suka memasak sendiri karena bahan makanan di sana justru relatif murah.

Bagaimana dengan obyek-obyek wisata untuk dikunjungi? Pasti gak jauh-jauh dari Sydney Opera House dan Harbour Bridge. Apa ada yang lain? Kalau kita lihat brosur tur Australia, biasanya tujuannya cuma itu dan taman-taman hiburan. Sepertinya kurang ‘worth it’ gitu lho. Padahal Australia mempunyai tempat-tempat historis dan keindahan alam yang layak dikunjungi.

PERTH

Pusat kota Perth terbagi dalam 3 wilayah: West Perth, Perth City dan East Perth. Hostel saya berada di dekat Perth Station, di kawasan Perth City yang dikelilingi oleh pusat perbelanjaan, perkantoran dan museum. Jadi kalau mau kemana-mana cukup berjalan kaki dan naik kereta. 

Hari pertama di Perth saya habiskan dengan berkeliling Perth City. Duduk-duduk di taman, cari makanan Asia di James Street, foto sana-sini, dan kongkow2 dengan sepupu saya dan teman Kaskus di Murray Street Mall dan Hay Street Mall. Kedua mall ini berdekatan dan merupakan kompleks yang terdiri dari beberapa mall yang lebih kecil. Area pejalan kakinya luas sehingga cukup banyak pengamen jalanan beraksi di sini. Tentu saja berbeda dengan di Indonesia, para pengamen tidak memaksa para pejalan kaki.


# Metallica – Burswood Dome

Sorenya, saya dan dua orang teman naik kereta dari Perth Station ke Burswood Station demi menonton konser Metallica. Di gerbong kereta sudah ada beberapa penumpang yang mengenakan kaos Metallica, mulai dari anak ABG sampai orang paruhbaya. Pemegang tiket konser ternyata dapat naik kereta atau bis dengan gratis hari itu, hanya dengan menunjukkan tiket. Tidak sampai 20 menit, kami pun tiba di Burswood Station. Kami tinggal menyeberang jalan dan tibalah kami di Burswood Dome. Stadion tempat digelarnya pertandingan2 olahraga dan konser akbar berkapasitas 22 ribu penonton.

Para penonton mengantri di empat pintu masuk yang belum dibuka. Hampir semuanya berkaos Metallica atau minimal berkaos hitam. Yang bule sih cuek2 aja cuma pakai kaos di tengah udara dingin dan terpaan angin kencang. Lha kita yang orang Indonesia berkulit tipis mana tahan. Untung bawa jaket. Biar seragam dengan bule2 itu, saya pun membeli kaos Metallica. Mahal sih, tapi tak apalah buat kenang2an.

Sekitar pukul 17.30, pintu masuk dibuka. Seperti konser pada umumnya, penonton tidak diperbolehkan membawa botol minum dan alat perekam, kecuali kamera kompak. Di dalam stadion, terdapat stand minuman ringan, bir dan snack. Toiletnya pun terdiri dari puluhan sekat, sehingga penonton tidak perlu ngantri.

Letak panggungnya berbeda dengan yang biasa saya lihat, yakni di tengah-tengah stadion. Beberapa mike ditaruh di berbagai sudut panggung sehingga vokalis James Hetfield dapat berpindah-pindah posisi menghadap penonton. Sound systemnya dipasang di langit2 panggung dengan posisi menghadap ke 8 arah mata angin sehingga menghasilkan tata suara dahsyat dan merata. Di sekeliling langit2 panggung juga terdapat 4 ‘peti mati’ yang bisa digerakkan sedemikian rupa dan dipasangi lampu2. Peti mati memang merupakan simbol album terakhir mereka ‘Death Magnetic’ yang dirilis tahun 2008.

Tepat pukul 18.00, konser pun dibuka oleh Baroness dan Lamb of God. Lamb of God rupanya memiliki cukup banyak penggemar, karena banyak penonton yang terburu-buru masuk ke stadion begitu mendengar irama musik mereka. Namun, tentu saja yang paling ditunggu adalah Metallica yang datang tepat pukul 20.00.

Mereka membuka konser dengan 2 lagu dari album Death Magnetic yaitu: “That Was Just Your Life” dan “The End of The Line” yang tanpa ba-bi-bu langsung menghentak dan menggetarkan stadion. Jujur, saya bukan penggemar Metallica dan tidak tahu lagu-lagu mereka. Tapi sepanjang konser, saya seolah ‘kesetrum’ oleh permainan musik mereka. Terasa banget perbedaannya dengan 2 band pembuka. Selain telinga, mata juga dimanjakan oleh tata cahaya dan efek laser. Selama sekitar 2 jam mereka memainkan 22 lagu.

Keempat personel: Hetfield (vokal dan gitaris), Ulrich (drum), Hammett (gitaris) dan Trujilo (bass) masing-masing memiliki kharisma tersendiri dan melengkapi satu sama lain. Saya jadi maklum kenapa mereka punya penggemar fanatik dan tiket konser mereka bisa sold-out dalam waktu 45 menit.

Pulangnya, saya bisa mengalami bagaimana rasanya naik kereta yang semuanya fans Metallica, serba hitam! Terlihat kepuasan di wajah mereka usai menonton konser. Saya juga merasakan rasa ‘persaudaraan’ ketika 2 fans Metallica bertemu keesokan harinya entah dimana, akan saling menyapa dan berkomentar soal konser malam sebelumnya. Atau saling menanyakan apakah akan nonton konser lagi malamnya. Ya, konser Metallica berlangsung 2 malam berturut-turut di Perth dan semuanya sold-out!

Di hostel, saya juga bertemu dengan fan cewek Metallica yang datang sendirian dari Malaysia ke Perth demi nonton konser Metallica. Nekad juga tuh cewek.


# Swan River, Fremantle, dan Kings Park


Keesokan paginya, saya menyusuri Barrack Street, melewati pertokoan Plaza Arcade, taman Stirling Gardens dan berakhir di ujung jalan bernama Barrack Square. Di Barrack Square terdapat gedung unik bernama Swan Bells dan port feri untuk menyeberangi Swan River, menuju South Perth. Di South Perth kita bisa melihat pemandangan Perth City dengan gedung-gedung pencakar langitnya di seberang sungai. Banyak orang yang piknik dan berolahraga di South Perth yang merupakan kawasan perumahan dan apartemen.

Siangnya, saya pergi ke Fremantle dengan kereta. Fremantle adalah kota pelabuhan di sebelah barat daya Perth yang terkenal dengan makanan fish & chips, pasar tradisional dan gedung-gedung peninggalan sejarahnya. Kota ini adalah surga bagi pecinta vinyl karena toko musik bekas bertebaran, menjual CD vinyl dan pemutarnya.

Sekembalinya ke Perth City, saya bertemu dengan komunitas Kaskus Perth. Sempat ngobrol2 dan berfoto bersama, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke Kings Park. Di sepanjang jalan menuju Kings Park, saya melihat banyak limousine Jeep Hummer diparkir di depan klub2 malam. Limousine Jeep Hummer memang sedang trend di kalangan anak muda borju Perth.

Kings Park adalah monumen untuk menghormati tentara2 Australia yang meninggal dalam The Great War tahun 1914 – 1918. Di sana terdapat kolam air yang di tengahnya terdapat api (beneran) yang terus menyala 24 jam. Kita juga dapat menikmati seluruh pemandangan kota Perth menjelang matahari terbenam. Rasanya damai....
[22-28 Oct 2010]


No comments:

Post a Comment