Tuesday, November 29, 2011

Konser Kilau Anggun: Konser dari Hati

Di sebuah harian berbahasa Inggris, beberapa hari sebelum Konser Kilau Anggun (27 November 2011), Anggun berkata, “I want to give them something new each time, because I’m always afraid they will get bored with me.” Pernyataan itu jelas ditujukan kepada para penggemar setianya, terutama yang sudah pernah menonton konser-konser Anggun sebelumnya. Saya beruntung menjadi salah satunya.

Konser Anggun bertajuk A Mild Live Cool Fusion di Hotel Mulia Jakarta pada tahun 2001 adalah konser pertama yang saya hadiri. Diikuti 2 tahun kemudian, dengan konser mini di Taman Ismail Marzuki Jakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan Prancis. Namun 2 konser pertama itu tentu level-nya tidak sebanding dengan karir Anggun yang panjang dan mendunia di industri musik. Anggun pernah menjadi penyanyi pembuka konser Toni Braxton dan The Corrs dan menyanyi di festival musik bergengsi Lilith Fair pada akhir 1990-an di Amerika Serikat, diundang menyanyi di Vatikan tahun 2000, serta tampil di acara ulang tahun PBB di Jenewa tahun 2005.


Maka pada pertengahan 2006, Anggun menggandeng promotor CN Communication dan Art Director Jay Subiyakto untuk menggelar konser tunggal pertamanya yang bernama 'Konser Untuk Negeri'. Di konser ini, Anggun menunjukkan kualitas dan totalitasnya sebagai penyanyi berkelas dunia. Panggung ditata minimalis namun hasilnya maksimal, dan didukung oleh tata lampu spektakuler. Anggun membawa musisi-musisinya dari Prancis dan berkolaborasi dengan band akustik Saunine untuk sesi lagu-lagu Indonesia. Konser yang ditonton oleh 5000 orang dan diliput TV Prancis inipun menjadi tolak ukur kualitas konser-konser lainnya di Indonesia.

Tiga tahun kemudian, Anggun melakukan promosi album Elevation di beberapa kota besar bertajuk LA Concerts: Anggun Roadshow 2009. Sebagai penggemar berat, saya pun mengikuti penampilannya di Bali dan Bandung. Demikianlah, saya sudah 'kenyang' menonton semua konser Anggun. Saya sudah hapal lagu-lagu mana yang 'pasti' dinyanyikan Anggun di setiap pertunjukannya. Bahkan saya hapal kata-kata yang biasanya diucapkan Anggun selama jeda lagu tertentu.

Meski sudah menonton berkali-kali, entah mengapa saya tetap menantikan penampilan Anggun. Seperti iklan Pantene, balik lagi balik lagi hehehe. Saya selalu kangen dengan suaranya yang merdu dan candanya ketika berinteraksi dengan penonton.  Karena itu, saya tidak ingin melewatkan konser tunggal kedua Anggun yang berjudul 'Konser Kilau Anggun', yang diselenggarakan oleh Berlian Entertainment dan disponsori Pantene.

Saya senang mengetahui bahwa kali ini Anggun akan menggunakan orkestra dan menggandeng Art Director Oleg Sanchabakhtiar. Dengan demikian, akan ada aransemen musik dan konsep panggung yang baru. Saya tidak mengharapkan sesuatu yang baru lebih dari itu. Namun ternyata, Anggun memberikan banyak kejutan dalam Konser Kilau Anggun.



KONSER KILAU ANGGUN
27 November 2011
Plennary Hall - JCC, Jakarta


Pada pk 20.15, sesosok wanita bertudung dan berjubah perak-keemasan terlihat berjalan dari tengah tribun melewati area tempat duduk penonton (Gold-Platinum-VIP-Diamond), dan berhenti di'jembatan' ditengah-tengah area Festival. Penonton bertanya-tanya siapa dia dan mulai memanggil nama 'Anggun?!'. Tiba-tiba sosok itu melepas jubahnya dan ternyata dia memang Anggun.

Penonton pun bersorak dan tambah bergemuruh ketika musik pembuka Stronger [01] terdengar. Jembatan itu kemudian berubah fungsi menjadi tangga menuju puncak panggung hidrolik dan Anggun lalu menaikinya. Dengan kostum keemasan rancangan Tex Saverio dan tongkat di tangannya, Anggun tampak berkilau dan berkharisma. Stronger memang lagu pembuka yang pas untuk memanaskan penonton. Di tengah lagu, layar raksasa dibelakang Anggun turun, memperlihatkan 44 musisi orkestra Saunine dan band yang mengiringi Anggun.

Tanpa jeda, Anggun menyanyikan Impossible [02] yang merupakan lagu favorit saya dari album Echoes. Dengan perlahan, panggung hidrolik turun, dan Anggun pun bernyanyi sepanjang panggung utama, sambil menghampiri penonton Festival. Setelah lagu kedua usai, Anggun pun menyapa penonton,"Selamat malam. Aku terakhir konser di Jakarta 5 tahun lalu, tahun 2006. Dan seperti yang terakhir kali, aku tetap deg-degan, nervous. Tapi aku tahu kenapa, karena di sini aku bukan orang asing. Kalian sudah kenal aku lama bahkan dari jaman aku masih pakai celana pendek," ujarnya sambil melihat bagian bawah kostumnya sehingga memancing tawa penonton.

Anggun pun menceritakan tentang kostum yang dikenakannya,"Bagus gak? Desainernya Tex Saverio. Bukan cuma Lady Gaga doang yang dipakein baju sama dia. Eh ngomong-ngomong, tadi pas naik celananya (celana dalamnya) kelihatan enggak? Sedikit? Enggak apa-apa...bonus."

Anggun lalu memberitahu penonton bahwa konser ini juga dihadiri fans-fansnya dari Prancis dan diliput oleh TV Prancis. Sebagai tuan rumah yang baik, kita harus menyapa mereka dengan bahasa mereka. "Ini kan konser edukatif. Bisa nggak kalian ucapkan 'Bonsoir'? Ngucapinnya sambil monyong-monyong ya. Yuk bareng-bareng '1, 2, 3...bonsoir!'" Penonton pun ikut mengucapkannya sekaligus merasa geli.

"Karena kalian sudah pintar-pintar, yuk kita lanjutin nyanyinya," ujar Anggun yang kemudian mendendangkan lagu Still Reminds Me [03] dan Buy Me Happiness [04]. Selama lagu ke-empat, di tengah-tengah panggung utama terdapat 3 buah sangkar burung emas kosong tergantung. Mungkin itu melambangkan kondisi dimana seseorang terpenjara oleh citra atau imej dirinya sendiri, sehingga berpura-pura dan tidak jujur pada diri sendiri.

Karena penonton kerap bertepuk tangan sebelum lagunya selesai, Anggun lalu memberikan 'edukasi' tahap dua, tentang bagaimana seharusnya memberikan applause. Menurut Anggun, penonton seharusnya bertepuk tangan setelah lagunya benar-benar selesai dimainkan oleh musisinya. "Mereka juga kan harus dihargai dan setelah itu kasih tepuk tangan yang meriah. Yuk latihan dulu," katanya sambil mengulang bagian akhir lagu "....can't buy me happiness..." beberapa kali sampai penonton paham kapan dan bagaimana memberikan applause yang benar.

Anggun lalu menyanyikan lagu-lagu versi Indonesia dari album-albumnya yaitu Yang Terlarang [05] dan Yang Kutunggu [06]. Anggun menyanyikan lagu keenam sambil duduk di bangku taman di sebelah kanan panggung utama. Menjelang akhir lagu, Anggun melangkah ke bagian dalam panggung utama yang bergerak turun ke ruang ganti kostum. Selama Anggun menghilang, 2 pemain gitar eletrik dan bas memamerkan kegarangan mereka ke depan penonton.

Tak lama kemudian, Anggun pun 'naik' ke panggung utama dengan mengenakan gaun elegan rancangan Didit Hediprasetyo, menyanyikan lagu Berkilaulah [07]. Layar dibelakang Anggun dan para musisi memperlihatkan foto almarhum sang ayah, Darto Singo dan nama-nama mereka yang sudah pergi. Selain nama sang ayah, ada juga nama Virginie Auclair (partner kerja) dan Ilham Pohan (fans dari Anggunesia). Beberapa fans tampak sangat terharu mengetahui Anggun masih mengingat salah satu penggemarnya.

Dengan terbata-bata Anggun bertutur, "Lagu barusan adalah salah satu lagu yang sulit di album Echoes. Aku tahu kesedihan adalah bagian dari hidup. Siapapun yang meninggalkan kita, memorinya akan tetap hidup."

Lalu dengan bersemangat, Anggun menceritakan gaun yang baru dikenakannya, ""Eh bajunya bagus enggak? Didi Hediprasetyo." Seorang penonton bertanya, "Batik ya?" Dengan lugas Anggun menjawab, "Ini songket, sayang. Kalian tahu, untuk bikin kain songket sepanjang 25 cm itu butuh waktu 3 hari. Ini berapa meter ya? Kayaknya yang bikin sudah pada pingsan," candanya.

Musisi kemudian memainkan intro lagu Bayang-Bayang Ilusi [08]. Beberapa penonton pun terlihat bernostalgia. Menjelang akhir lagu, Anggun menghampiri cermin yang dipasang di bagian kanan panggung utama dan menyanyi di depan cermin.

Begitu lagu usai, Anggun duduk di depan keyboard di tengah panggung utama. Tiba-tiba seorang penonton Festival berseru, "We love you!" Anggun pun membalas setengah bercanda,""Aku tresno koe. Aduh, mau bilang gitu aja pakai bahasa Inggris," sehingga membuat penonton tertawa.

Dengan tenang, Anggun kemudian menceritakan kisah di balik lagu yang akan dibawakannya, Want You to Want Me [09]. "Lagu ini kubuat untuk fans-ku yang suka mengikuti aku, tahu semua tentang aku." Di tengah lagu, tiba-tiba Denada datang turut menyanyikan lagu tersebut bahkan nge-rap. Rasanya agak aneh mendengar lagu lembut mendayu dinyanyikan dengan musik rap oleh Denada. Tapi Anggun dan Denada dapat memadukannya dengan apik. Sayangnya, Denada hanya menyanyikan satu lagu itu saja, padahal kostumnya sudah keren banget!

Anggun kembali bernostalgia dengan lagu Takut [10]. Namun selama menyanyikan lagu tersebut, Anggun sepertinya mengalami masalah dengan alat audionya. Beberapa kali ia memegang telinganya dan membelakangi penonton. Setelah konser usai, saya baru tahu kalau Anggun sebenarnya sedang sakit. Dan seorang teman di bagian Festival bercerita, ketika Anggun membelakangi penonton, dia sedang batuk. Namun saat itu, Anggun berhasil tidak memperlihatkannya di depan penonton. Makin bertambahlah rasa hormat saya kepada Anggun.

Lagu berikutnya adalah lagu Mimpi [11] yang melambungkan nama Anggun di pentas musik Indonesia, bahkan masuk 150 lagu terbaik Indonesia (#47) sepanjang masa menurut majalah Rolling Stone. Tanpa disuruh pun, para penonton bernyanyi bersama. Anggun menghampiri penonton di area Diamond dan bernyanyi bersama mereka. Di bagian interlude lagu, bunyi saksofon pun mengiringi, membuat lagu ini terdengar sedikit jazzy.



Nostalgia masih berlanjut dengan lagu Kembalilah Kasih [12]. Anggun pun berduet dengan Armand Maulana yang bersama GIGI pernah meng-cover lagu tersebut secara akustik. Armand datang dari tengah penonton Diamond dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Anggun menunggu Armand di atas panggung hidrolik. Selama interlude lagu, Anggun dan Armand berpelukan dan berdansa pelan. Sementara Armand penuh penghayatan, Anggun malah memasang wajah jenaka ke arah penonton.

Usai lagu, Armand pun bercerita,"Setelah 21 tahun, akhirnya gue bisa manggung bareng sama Anggun. Waktu itu manggung di PRJ, dulu masih di Monas, tau gak?" Anggun berusaha mengingat,"Eh iya ya? Kalau Kemayoran dimana?" Penonton pun tertawa.

Armand melanjutkan,"Zaman dulu, main di studionya Andy Ayunir, dulu namanya dia (Anggun) nih Lalala. Soalnya, suka nyender di tembok dan nyanyi cuma bisa la la la. Gue bilang, nih anak malas banget. Tapi, ternyata, setelah cabut ke Paris dia meledak. Gue bangga sama Anggun, yang mengharumkan nama Indonesia," mengundang tepuk tangan penonton.

"Ada bini gue nih. Mam tenang aja. Dia gak suka Melayu, sukanya bule," canda Armand. Anggun pun menimpali, begitu Armand meninggalkan panggung,"Dewi Gita sungguh beruntung."

Snow on The Sahara [13] adalah lagu wajib karena merupakan lagu yang membuat nama Anggun di kenal di 33 negara. Dari panggung hidrolik di tengah panggung utama, di belakang Anggun, muncullah seorang penari pria dengan kostum ala Bali dan topeng di bagian belakang kepalanya. Kostumnya mengingatkan akan video klip SOTS yang ada penari Bali-nya. Dia membelakangi penonton, menari mundur, menghampiri Anggun. Setelah itu, barulah penonton bisa mengenalinya sebagai Eko Supriyanto, yang pernah menjadi penari latar konser Madonna. Menjelang akhir lagu, Anggun berjalan ke bagian dalam panggung utama untuk turun dan berganti kostum. Selama Anggun menghilang itu, Eko terus menari diiring musik di atas panggung hidrolik.

Tanpa terputus, musik terus mengiringi, memasuki lagu Year of The Snake [14], sebuah lagu tentang tragedi WTC di tahun ular, tahun 2001. Anggun pun muncul kembali dan Eko pun mundur ke belakang sambil menari. Lagu usai, dengan manja Anggun bertanya,"Eh bagus gak bajuku? Ini buatan Mel Ahyar," sambil berpromosi.



Anggun pun menyanyikan lagu selanjutnya Weapon [15]. Dengan sepatu boot dan lagu yang upbeat, Anggun terlihat seperti Wonder Woman. Tanpa jeda, Anggun lanjut menyanyikan Hanyalah Cinta [16] dan Mantra [17], satu-satunya lagu dari album Luminescence yang dinyanyikan malam itu. Jadi Milikmu [18] pun ditampilkan dengan nuansa rock-orkestra, benar-benar beda!

Tak terasa sudah 18 lagu dinyanyikan. Anggun pun berpura-pura pamit dan turun dari panggung hidrolik bagian tengah panggung. Tapi penonton belum puas dan berteriak, "We want more!" selama kira-kira 1 menit. Begitu Anggun kembali, penonton pun histeris.

Anggun mengejutkan penonton dengan menyanyikan lagu dari salah satu lagu favoritnya, Rolling in The Deep [19]. Dengan iringan orkestra, Anggun membawakan lagu Adele tersebut dengan gayanya sendiri. Anggun lalu meminta penonton berdiri.

"Sebelum benar-benar menutup konser ini," yang langsung disela oleh protes penonton, "saya ingin berterima kasih untuk tim kerja yang membuat semua ini terjadi," ujar Anggun yang lalu menyebutkan nama-nama mulai dari Art Director hingga para musisinya. Tak lupa, Anggun juga berterima kasih kepada penonton yang sudah datang.

Intro lagu yang tidak asing lagi pun terdengar, Tua Tua Keladi [20]. Seorang kru dengan cepat membawakan Anggun topi baret coklat. Anggun pun terkejut, sambil tertawa dia pun memakainya disambut tepuk tangan riuh penonton. Anggun mengajak penonton menyanyikan bersama lagu yang tidak pernah usang oleh waktu itu. Seluruh gedung terasa bergetar ketika semua penonton menyanyikan lagu itu dengan lantang. Saatnya konser benar-benar berakhir.



Secara keseluruhan, saya puas dengan konser ini. Semua lagu terasa mengalir begitu saja, sampai tak terasa sudah 20 lagu dinyanyikan. Saat yang menyenangkan memang selalu terasa lebih singkat. Kemampuan dan kualitas vokal Anggun tidak perlu diragukan lagi. Ketika beberapa teman sesama penggemar menyangsikan kesiapan Anggun untuk konser karena mepetnya waktu, saya tetap percaya akan kemampuan dan pengalaman Anggun. Dan terbukti, meski sedang sakit, Anggun bisa menyanyikan 20 lagu dengan vokal prima. Saya juga terhibur dengan interaksi Anggun dan penonton. Karena itulah di artikel ini saya berusaha menuliskan kembali semua monolog Anggun di atas panggung. Saya juga salut atas penampilan para musisi yang terlibat, yang membuat konser ini terdengar megah dan memberikan dimensi baru terhadap lagu-lagu Anggun yang saya akrabi.

Senang juga melihat beraneka jenis penonton yang berdatangan bukan hanya dari Jakarta, tapi juga dari berbagai propinsi, bahkan dari luar negeri seperti Prancis, Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia. Rentang usia para penonton pun sangat lebar, mulai dari usia 8 tahun hingga 55 tahun. Saya bahkan bertemu dengan fans putri kelas 1 SMP yang nekad pergi sendirian ke konser. Dia dengan lantang berkata,"Biar masih SMP, aku ngefans Mbak Anggun sejak TK lho!"

Anggun memang pernah berkata,"Aku dan fans itu sudah seperti keluarga. Mereka memanggilku Mbak." Ah Anggun, we love you! Eh...kami tresno koe!

Video: Anggun - Rolling in The Deep


CATATAN PENULIS

Ada beberapa kritik membangun yang perlu saya sampaikan:

1. Ada lagu-lagu hit yang tidak dinyanyikan, seperti Kembali dan In Your Mind. Anggun memilih untuk lebih banyak menyanyikan lagu-lagu dari album Echoes. Tidak masalah, buat saya itu adalah penyegaran. Namun sayangnya, Anggun masih menyanyikan lagu-lagu jadul yang sama yang dinyanyikan saat Konser Untuk Negeri (plus lagu Kembalilah Kasih). Tadinya saya berharap Anggun menyanyikan lagu jadul lain seperti Nafas Cinta.

2. Saya suka sekali melihat Anggun bermain piano, maka saya agak kecewa ketika Anggun hanya memainkan piano untuk lagu Want You to Want Me, bukan dengan grand piano lagi.

3. Konsep tata panggung sudah bagus, ada panggung hidrolik, dekorasi, dan lainnya, berbeda dengan Konser Untuk Negeri yang sangat minimalis. Sayang, hasil akhirnya kurang rapi. Misalnya, panggung hidroliknya kelihatan oleh penonton Festival terbuat dari triplek, bentuk 'bulan' di latar belakang tidak bulat sempurna. Semestinya bisa terlihat lebih profesional.

4. Tata lampunya kurang dieksplorasi secara maksimal. Di Konser Untuk Negeri, tata lampu justru menjadi salah satu kekuatan utama yang menghidupkan lagu sekaligus menutupi bagian-bagian 'kosong' dari panggung dan personel yang minimalis.

5. Penonton harus mengantri 2 kali, di pintu masuk gedung dan di pintu masuk ruang konser. Lama pula, sampai jadwal mulai konser pun terlambat 1 jam karena harus menunggu penonton masuk. Begitu konser dimulai, belum semua penonton duduk memasuki ruangan konser. Akibatnya terlihat bangku-bangku belum terisi saat wartawan mendokumentasikan konser dan para penontonnya.

6. Promosi konser Anggun juga minim, lebih banyak lewat twitter (Berlian, Pantene, Anggunesians) dan beberapa kali teleconference Anggun dengan wartawan. Publikasi mulai intens pada saat Anggun datang beberapa hari sebelum konser. Meski demikian, konser Anggun tetap dihadiri ribuan orang.

7. Sebagai bagian dari Anggunesia, saya sedikit kecewa dengan kurangnya komunikasi dan koordinasi pihak promotor. Promotor menghubungi kami via email hanya ketika mengumumkan penjualan tiket presale dan penggunaan desain poster konser. Mereka tidak memberikan informasi tentang konferensi pers dan meet & greet sampai kemudian kami menanyakan sendiri kepada mereka. Antar personel juga kurang koordinasi, si A ngomong ini, si B ngomong itu. Bahkan akun twitter kami tidak difollow oleh mereka, akun twitter bertujuan saling tukar-menukar dan melengkapi informasi. Banyak sekali fans Anggun yang menanyakan soal konser kepada kami, dan kami pun seolah-olah menjadi 'humas' tidak resmi bagi promotor. Fans club semestinya digandeng oleh promotor karena mereka dapat melakukan promosi dengan lebih efektif.


Credits:
Photos: Mike Sitorus & @antishagg
Video: Jason21

9 comments:

  1. Hebat mbak ika...artikelnya nya bagus bangett merinding bacanya..

    ReplyDelete
  2. Sungguh beruntung saya bisa menemukan blog ini. Sudah lama saya tidak membaca ulasan yang demikian detailnya mengenai konser musik. Media online sekarang benar2 cuma memberitakan sesuatu ala kadarnya seakan-akan takut halamannya habis... Tulisan ini benar2 bagus dan sangat informatif banget... Thanks Mbak Ika...

    ReplyDelete
  3. Cut Ayu: Maklum lah, wartawan dikejar banyak deadline. Beda dengan saya hehehe. You're welcome, eh...sama2 (takut ditegur Anggun, gitu aja pake bhs Inggris) ;D

    ReplyDelete
  4. Hehehe... itu yg saya maksud dgn informatif. Anggun menjawab teriakan penonton yg sok Ngenglis dgn gayanya yg kenes. Mbak Ika menuliskannya dgn bahasa yg membuat saya benar2 ketawa sendiri.. Saya juga tak dikejar-kejar deadline Mbak tapi saya pikir saya tak akan pernah bisa menulis sebagus Mbak Ika. Harusnya tulisan ini bisa dibaca banyak orang terutama fans Anggun yg tak punya kesempatan untuk menonton... sayang saya tak tau cara utk mempublikasikannya...

    ReplyDelete
  5. Eh.. saya salah deng.. ternyata tulisan ini sudah ada di Kompasiana. Saya aja yg deso tak melihat.. Maaf ya Mbak Ika...

    ReplyDelete
  6. Ika...Keren euy! Seneng gw bacanya, serasa lagi nonton konsernya si mbak =)

    btw, yang soal catatan elu gw setuju banget,terutama soal promosi yg minim. Gw aja bingung biasanya 1 bulan sblm udah kenceng promosinya. Tp kalo soal piano, setau gw emang tdnya mau pake grand piano tp menurut kabar sih rusak or gimanaa gitu. Trus yang kita mesti ngantri lama, itu mesti ditanya ke panitia aja, kenapa oh kenapanya. Soalnya setau gw, si mbak kan dah dari sore siap di venue.

    Eniwei, ini artikel keren abisss...tengkyu yaw!!

    ReplyDelete
  7. Cut Ayu: Mungkin karena topiknya adalah orang yg saya kagumi, tulisannya jadi bagus hehe. Jd penasaran ama tulisanmu. Saya malah ikut Kompasiana dulu, baru bikin blog ini.

    Ganjar: Hehe makasih mas info soal grand piano-nya. Ttg kritik yg lain, itu memang ditujukan kepada pihak penyelenggara dan sponsor utama, krn itu memang tugas mereka. Aku satukan kritiknya karena konser kilau Anggun itu adalah hasil kerja keras banyak orang, jadi harus dilihat sbg satu tim.

    ReplyDelete
  8. Satu kata saja, Menyesal.
    Aku nyesel ga bs liat konser Anggun yg Luar biasa ini, kayaknya Tuhan emang blm mengizinkan jauh2 hari aku begitu antusias mendengar berita Anggun mau menggelar konser dijakarta e... Mobilku kecelakaan. tapi yagapapalah... Kita harus legowo.. karna ternyata Rencanaku bukanlah rencana-Nya.
    Bismilah saja yg akan datang aku ga akan melewatkanya. BLOG yg bagus Mbakyu...
    Thanks N Monggo.......

    ReplyDelete