Tuesday, November 15, 2011

Menulis

Menulis. Siapapun yang pernah duduk di bangku sekolah pasti bisa menulis. Menulis nama, mencatat, mengisi formulir, dan dizaman lebay dan alay ini, menulis status di Facebook atau twitter. Tapi tidak semua bisa menulis dengan runut, gamblang dan panjang lebar tentang pendapat mereka mengenai berbagai hal. Bisa menulis dengan jujur, informatif dan enak dibaca adalah suatu hal yang ingin saya kuasai. Karena dengan menulis, saya akan lebih kritis, lebih perhatian terhadap hal-hal kecil, dan mampu mencari sudut pandang baru. Saya sadar diri kalau saya kurang imajinatif untuk bisa menciptakan novel ala Dee Lestari, atau ala favorit saya Agatha Christie, apalagi sekelas JK Rowling. Tapi bukan tidak mungkin kan saya bisa seperti mereka kelak, bukankah semuanya butuh proses?

Tulisan-tulisan saya bisa dihitung dengan jari. Dimulai dari tulisan iseng-iseng tentang perjalanan saya ke sebuah wihara di Sukabumi. Tulisan itu 'cuma' saya pajang di Facebook-Notes, yang 'cuma' bisa dilihat oleh teman-teman saya. Soalnya saya kurang pe-de kalau dibaca orang lain dan takut dikritik juga sih. Kalau sama teman kan, kritiknya lebih pengertian. Ternyata respon teman-teman cukup bagus (atau karena mereka gak mau mengecilkan hati saya?), saya pun jadi lebih pe-de dan membuat beberapa tulisan lagi. Kebanyakan tentang kisah jalan-jalan saya atau review buku yang saya baca.

Setelah beberapa waktu, saya memberanikan diri bergabung dengan Kompasiana. Senang juga rasanya kalau tulisan saya dibaca atau kadang dikomentari. Sayangnya kemalasan membuat jumlah tulisan saya di Kompasiana bisa dihitung dengan satu tangan. Selain malas, gak mood dan gak ada inspirasi menjadi alasan andalan saya.

Tapi beberapa waktu belakangan ini, saya mengalami beberapa peristiwa yang menggugah hasrat menulis saya. Dimulai dari kebosanan menunggui toko saya (kadang ramai, kadang sepi), saya pikir alangkah baiknya kalau saya bisa membunuh waktu luang saya dengan aktivitas yang produktif. Lalu karena saya baru saja melakukan perjalanan ke Prancis dan Italia, beberapa teman mulai menagih oleh-oleh tulisan tentang kisah perjalanan saya itu. Sahabat saya, Adit, pun mulai memancing-mancing saya dengan bilang kalau dia suka dan kangen dengan tulisan saya (hmm ternyata diri saya kurang ngangenin dibanding karya saya).

Saya juga membaca blog yang begitu menggugah, judulnya 'Remember Me This Way'. Isinya tentang gadis remaja penderita kanker yang tetap ceria dan selalu bersyukur ditengah sakitnya. Yang juga menarik adalah kebiasaannya menulis buku harian. Benar saudara-saudara, buku harian! Mungkin itulah barang kenangan paling berharga dari gadis itu untuk keluarganya, yaitu buah-buah pikirannya. Seperti kata seorang filsuf (saya lupa namanya), 'Manusia ada karena dia berpikir'.

Saya pun jadi teringat kata-kata penyanyi yang saya kagumi, Anggun, bahwa:
"Inspirasi itu gak datang begitu saja, tapi harus dicari! Pergi ke cafe, baca buku, nonton film, ngobrol...itu semua bisa mendatangkan inspirasi." 
Dengan demikian, tidak boleh lagi ada alasan 'gak ada inspirasi' kalau saya mandek menulis. Eh tapi saya masih bisa pakai alasan lain lho: gak mood. Kalau sudah begitu, Adit mungkin akan SMS saya lagi, "Jeung, gue kangen! Kangen tulisan lu!"

5 comments:

  1. asik asik . . . . blm apa2 aja udah senyam senyum sendiri baca tuliasanmu mbak.... hihihihihi
    **lanjut ah**

    ReplyDelete
  2. Hehehe makasih udah mampir, de :)

    ReplyDelete
  3. hai Ika,
    Waduh akhirnya hajat nya terlaksana juga, setelah melewati baragam pertimbangan.. :p

    Terus menulis ika, menurut gw ini bakat lain yang lu miliki, dan gw siap jadi pambaca setia lu sekaligus "pengkritik" terpedas lu heheheheheh..

    so, jangan ditelantarin ya blog ini karena,dan jangan bosan nulis, karena :

    “menulis seribu kalimat dimulai dengan satu hurup” -- By : Alfian Malik (http://alfianmalik.blogspot.com/ )

    Sukses buat Blognya ya ka

    Mulmizar, a.k.a Adit

    ReplyDelete
  4. Ika, senang bacanya. Saya suka baca yang ringkas-ringkas soalnya. Kalau kritik sih mungkin ini selera pribadi saya aja: badan paragraf nya di justify dong :)) estetika say.. hehehe. Tapi ga di justify juga tidak mengapa. Isi tulisannya yang indah ya tetap indah.
    Terus menulis ya.

    ~ nairuj

    ReplyDelete
  5. Adit: Akhirnya muncul juga 'biang kerok' nya. Makasih Dit udah nagih2 mulu, macam debt collector saja kau :D

    Nairuj: Haha kuturuti saran mu bang, di justify biar balance haha

    ReplyDelete