Thursday, November 17, 2011

Antara Bangkok dan Kuala Lumpur

Terjadinya demonstrasi berdarah di Bangkok sekitar 3 bulan (kami ke Bangkok awal Agustus 2010) lalu sempat menggoyahkan rencana liburan kami ke negeri itu. Untunglah seiring waktu, kondisi keamanan disana berangsur membaik. Namun seminggu sebelum keberangkatan, ada berita bom meledak di daerah Siam Centre. Kami pun waswas kembali. Setelah bertanya kepada staf GfK Thailand tentang situasi keamanan di sana, kami pun memutuskan untuk tetap pergi dan berharap kami akan baik-baik saja. Toh Jakarta sudah pernah mengalami situasi yang jauh lebih buruk.

Jadi, tibalah kami di Bandara Suvarnabhumi sekitar pukul 22.30. Berbeda dengan Changi yang terkesan 'higienis', Suvarnabhumi terasa lebih 'membumi', bersih tapi gak keterlaluan bersihnya (maklum sudah biasa hidup di lingkungan jorok). Di taxi counter kami memesan taksi untuk lima penumpang sekaligus. Di Bangkok ada taksi argo (ada tulisan Taxi Meter) dan taksi borongan. Kalaupun memakai Taxi Meter, kami juga harus membayar biaya tol dan tiket masuk bandara. Karena kami berlima, maka kami harus menggunakan dua taksi, biaya pun jadi berlipat. Maka kami memutuskan untuk menggunakan taksi borongan untuk lima orang dengan biaya paket 700 Baht (sekitar Rp 200ribu). Perjalanan dari bandara menuju guesthouse kami di kawasan Samsen memakan waktu sekitar satu jam.

Setibanya di guesthouse Penpark Place, kami disambut oleh resepsionis yang langsung menanyakan paspor dan data pribadi kami, juga meminta pelunasan uang menginap selama 3 malam sebesar 3990 Baht untuk 5 orang (sekitar Rp 232ribu/orang). Cukup murah kan? Seperti di Singapura, kami juga memesan 2 kamar. Kamar untuk cewek sih ber-AC dan ada kamar mandi dalam (dengan water heater). Sayangnya, kamar untuk cowok cuma ada kipas angin dan tidak ada kamar mandi dalam (biarlah, buat cowok-cowok ini hehe). Tapi kamar mandi luarnya bersih dan dilengkapi pemanas air. Meski tidak dilengkapi televisi dan breakfast, tapi tetap worth it banget lah!

DAY 03
>> Chatuchak Market, Siam Paragon, Platinum, Khaosan Road


Sekitar pukul 8.30 pagi, setelah sarapan di cafe hotel dan menanyakan arah kepada resepsionis, kami pun naik bus nomor 3 ke Chatuchak Market dengan biaya 16 Baht (sekitar Rp 4700). Sama seperti di Singapura, bis di Bangkok hanya menaikkan dan/atau menurunkan penumpang di halte, namun ada kondektur berseragam yang akan mengumpulkan uang dari penumpang. Lucunya uang penumpang disimpan dalam semacam dompet yang diketrek-ketrekin ketika kondekturnya menghampiri untuk meminta uang. Mungkin kondekturnya ada bakat mengamen juga.

Chatuchak Market terdiri dari kios-kios yang hanya buka pada Sabtu dan Minggu. Beragam produk dijual di sana, mulai dari baju, tas, sepatu, kerajinan tangan, suvenir, makanan dan minuman dengan harga terjangkau dan itu pun masih bisa ditawar. Penggila belanja wajib datang ke pasar ini. Kalau kekurangan Baht, jangan panik, ada money changer di pasar itu. Menjelang tengah hari, nafsu belanja makin menggila. Untunglah salah seorang staff GfK Thailand, Sirinant menelepon Suling dan menanyakan janji makan siang di Siam Centre. Aktivitas belanja pun langsung terhenti dan kami tergopoh-gopoh menaiki taksi menuju Siam Centre.

Sesampainya di Siam Centre, kami malah tidak bertemu dengan Sirinant, karena dia harus les siang itu. Namun ada staff lain yang akan menemui kami yakni Pattra dan No. Kami pun makan siang di Gold Restaurant di Siam Paragon, tetanggaan dengan Siam Centre. Perbincangan berlangsung santai, namun kami kok jadi mulai membahas kerjaan. Parahnya lagi, Adi menanyakan tentang persentase Independent and Organised Retailer di Thailand. Waaaaaaaks!

Setelah makan siang, kami berhasil membujuk Pattra dan No untuk menemani kami belanja di Platinum, sekitar 30 menit jalan kaki dari Siam Paragon (bisa 1 jam kalau mata jelalatan melihat barang-barang kaki lima). Kami melewati mall Central World yang sedang direnovasi karena dibakar massa ketika kerusuhan beberapa bulan lalu. Platinum sendiri dalamnya mirip-mirip ITC Mangga Dua, tapi lebih bersih dan lebih terang. Barang-barangnya juga bisa ditawar. Kalau saya bandingkan dengan di Chatuchak, harga di Platinum sedikit lebih tinggi. Namun memang tempatnya lebih nyaman, karena itu mall ini cukup ramai oleh penggila belanja. Sampai-sampai beberapa pedagang menjual tas besar untuk menampung barang-barang belanjaan.

Setelah puas berbelanja, kami pun berjalan menuju Erawan Shopping Mall, yang di depannya ada patung Buddha berwajah empat (Four Face Buddha) yang ramai dikunjungi. Kata Pattra, konon orang yang berdoa di sini, permohonannya biasanya terkabul. Mendengar itu, kami pun tertarik juga untuk berdoa dan mendengarkan penjelasan Pattra tentang tata cara doanya. Jadi pertama-tama, kami harus membakar 9 batang hio dan 1 lilin kuning yang dipasang di tempat persembahan. Kemudian kami berdoa menghadap masing-masing empat wajah Buddha (empat kali doa), dengan memutari patung tersebut (searah jarum jam). Setiap selesai berdoa, kami menancapkan 3 batang hio di tempat abu (kecuali doa terakhir). Tapi karena saya Katolik, jadi saya berdoanya kepada Yesus Kristus hehehe.

Kami lalu berjalan ke arah MBK, tempat Pattra dan No akan bertemu teman-temannya. Sedangkan kami naik taksi untuk pulang ke guesthouse. Sebelum pulang kami sempat membeli 2 bungkus durian (dibungkus seperti di supermarket) seharga total 100 Baht (Rp29ribu). Lebih murah dibandingkan dengan di Jakarta dan enak (pastinya).

Malamnya, kami pergi ke Khao San Road, kawasan terkenal di kalangan turis, seperti halnya Jalan Jaksa di Jakarta atau Jalan Legian di Bali. Sepanjang jalan itu terdapat cafe atau bar, pedagang-pedagang kaki lima yang menawarkan baju, topi, kacamata, CD bajakan, makanan, bahkan ijazah palsu. Mau bikin ijazah ala Harvard atau Yale, di situ tempatnya. Kami lalu mencoba makanan 'khas' Thailand yakni snack serangga yang harga satu paketnya 20 Baht (Rp 6000), terdiri dari ulat, belalang, kecoa, dan kalajengking. Yang berani makan cuma saya dan Suling, itu pun agak ragu-ragu pada awalnya. Sambil merem, yowiss saya coba dan ternyata enak, gurih, maknyus karena sudah digoreng dan dibumbui. Tapi bukan berarti saya jadi berani makan kecoa di rumah saya lho.  

Kami juga mencicipi padthai yang dijual pedagang kaki lima. Tapi rasanya kok hambar, di bawah harapan saya. Yang menyebalkan, karena kami numpang makan di meja dekat tukang padthai itu, kami 'dipaksa' membeli minuman bir atau cocktail. Jadi ya sudah, saya dan Danny pesan bir lokal, Chang seharga 80 Baht. Padahal setelah kami cek di 7th Eleven, harganya hanya 43 Baht (Rp13000) saja. Sialan!

Kami sempat berdiskusi apakah mau pergi ke kawasan Silom atau tidak. Silom terkenal dengan hiburan malamnya, seperti halnya kawasan Mangga Besar. Kami bermaksud menonton pertunjukan 21 tahun ke atas, Patpong. Kan mumpung di Bangkok gitu lho. Kami sempat diskusi harga dengan supir tuktuk, tapi karena kuatir ada 'kongkalikong' antara supir tuktuk dan bar abal-abal, akhirnya kami membatalkannya. Menurut beberapa website atau blog, sering terjadi penipuan dimana turis dibujuk atau bahkan dipaksa masuk ke bar yang katanya menyajikan pertunjukan Patpong. Tapi ternyata pertunjukannya hanya seadanya dan turis harus membayar minuman dengan harga mahal. Kalau tidak mau membayar, katanya sih akan digebukin. Gimana gak seram?

Jadi kami memutuskan untuk pulang saja dengan berjalan kaki. Jarak antara guesthouse kami dan Khao San Road bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit.

DAY 04
 >> Wat Pho, Grand Palace, Sathorn


Pagi itu gerimis membasahi kota Bangkok. Meski demikian, itu tidak menghalangi rencana kami pergi ke Wat Pho dan Grand Palace. Untuk sampai ke sana, kami pun berperahu dari dermaga Arthit ke dermaga Tha Tien, yang letaknya persis di depan dua situs itu. Dermaga Arthit dapat dicapai dengan berjalan kaki dari guesthouse kami. Tiketnya pun cukup murah, yakni sebesar 16 Baht (Rp 4800), sebanding dengan pemandangan pinggir sungai Chao Phraya yang menawan.

Situs pertama yang kami kunjungi adalah Wat Pho, dengan tiket masuk sebesar 50 Baht (Rp 15000), yang di dalamnya terdapat patung Reclining Buddha, patung Buddha raksasa dalam posisi tidur. Sang Buddha pun terlihat anggun walau sedang tiduran. Setelah kami melewati patung sang Buddha dari ujung kepala hingga ujung kakinya, terdapat meja yang di atasnya ada beberapa mangkok berisi koin-koin. Untuk mendapat mangkok koin itu, kami harus membayar 20 Baht (Rp 6000). Koin-koin itu lalu dimasukkan satu per satu ke dalam puluhan kendi kecil di sepanjang dinding. Sebelum memasukkan koin itu, kami dianjurkan untuk berdoa dan mengucapkan permohonan kepada Yang Kuasa.

Tapi Wat Pho tidak hanya terdiri dari patung Reclining Buddha saja, tapi juga beberapa kompleks bangunan dan patung yang sayang untuk dilewatkan. Akhirnya kami malah menghabiskan hampir dua jam untuk mengitari dan berfoto di sana.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Grand Palace di seberang Wat Pho, yang pintu masuknya agak susah ditemukan. Grand Palace adalah kompleks istana Raja Thailand yang di dalamnya juga terdapat Temple of the Emerald Buddha. Harga tiket masuknya lumayan mahal, yakni 350 Baht (Rp 102,000). Tapi memang harganya sebanding dengan keindahan bangunan-bangunannya dan sejarah yang melingkupinya.

Bangunan pertama yang kami temukan di dekat pintu masuk adalah Temple of the Emerald Buddha, yang berisi patung Buddha yang terbuat dari batu giok dan mengenakan kostum tradisional terbuat dari emas. Kalau terbuat dari batu giok (jade), lantas mengapa disebut The Emerald Buddha? Konon itu karena pendeta Buddhist yang menemukan patung tersebut pada tahun 1430-an salah mengira warna kehijauan itu sebagai emerald. Namun, legenda emerald itu sudah telanjur melekat dan nama emerald memang terdengar lebih keren. Yang jelas, walaupun 'hanya' terbuat dari batu giok, patung itu sendiri benar-benar indah. Sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotretnya.

Tepat di seberang Temple of The Emerald Buddha, terdapat The Upper Terrace yang terdiri dari beberapa stupa dan miniatur Angkor Wat (yang ada di Kamboja). Selain itu juga terdapat beberapa bangunan indah lainnya yang layak jadi latar belakang foto, seperti The Borom Phiman Mansion, Dusit Maha Prasat Throne Hall, dan lain-lain. Kami juga sempat mengabadikan prosesi pasukan khusus kerajaan di depan The Chakri Maha Prasat Hall.

Sekitar pukul dua siang, petualangan kami di Grand Palace pun usai. Kami pun mencari oleh-oleh di luar tembok istana itu. Tak lama kemudian terdengar sirene motor dan mobil pengawal pejabat tinggi istana, tidak tahu deh, itu Raja atau siapa. Yang jelas, berbeda dengan di Indonesia yang mobil pejabatnya berwarna hitam, mobil petinggi Thailand berwarna krem. Mungkin biar mirip warna khas kerajaan Thailand, kuning keemasan.

Apesnya, saat kami menuju dermaga Tha Thien untuk naik kapal, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Setelah beberapa lama berteduh, kami memutuskan pulang naik taksi untuk mandi dulu sebelum pergi ke kantor GfK Thailand di kawasan bisnis Sathorn.

Bila selama ini perjalanan kami lancar-lancar saja, kali ini kami mengalami bagaimana rasanya terjebak kemacetan di Bangkok dalam perjalanan kami menuju Sathorn. Janji kami datang ke kantor GfK jam 4 akhirnya molor jadi jam 5. Tapi akhirnya kami senang bisa kelayapan ke kantor GfK sana dan mengobrol dengan para staff setempat selama hampir satu jam.

Kawasan Sathorn sendiri sangat mirip dengan Sudirman-Thamrin, mirip sampai ke macet-macetnya. Bedanya, kalau di Sudirman-Thamrin ada busway, di Sathorn ada Bangkok Sky Train (BTS). Selain itu, yang membuat kawasan ini sangat khas Thailand adalah kuil Buddha kecil yang selalu ada di setiap sudut jalan, bahkan di halaman gedung bertingkat. Kebiasaan ini agak mirip dengan di Bali, yang mempunyai pura hampir di setiap ujung jalan.

Setelah berbelanja di 7th Eleven, kami pun menaiki taksi walau jalanan masih macet. Apesnya yang kami naiki adalah taksi abal-abal, karena argonya kayak sprinter, cepat banget naiknya. Padahal jalanan macet total, praktis mobil-mobil cuma bisa merayap. Akhirnya tidak jauh dari tempat kami naik, kami memutuskan turun daripada kami sport jantung melihat kecepatan argonya. Kami lalu berjalan kaki menuju jalanan yang tidak macet-macet amat setelah menanyakan arah. Orang-orang Thailand rata-rata tidak bisa berbahasa Inggris, namun sepertinya ada pengecualian untuk mereka yang bekerja di kawasan bisnis Sathorn.

Setelah sampai di jalanan yang relatif lancar, kami justru menemukan pasar malam Suan Lum yang ada foodcourt-nya. Harga makanannya pun cukup murah, sekitar 50 – 100 Baht (Rp 15000 – 30000). Bir juga disajikan di sana dalam semacam dispenser besar, bisa mabuk sepuasnya deh kalau mau. Di sekitar foodcourt itu juga terdapat kios-kios pakaian dan suvenir. Setelah kenyang, kami naik taksi menuju guesthouse. Kali ini, taksi dengan argo yang 'benar'. Sesampainya di guesthouse, kami langsung berkemas dan tidur lebih awal. Karena kami harus berangkat ke bandara jam 4 pagi esoknya, terbang ke kota berikutnya: Kuala Lumpur.


KUALA LUMPUR
DAY 05

Tur kami di Kuala Lumpur adalah perjalanan dengan jadwal terketat, karena kami hanya punya waktu sekitar 5 jam di Kuala Lumpur. Tiba di Kuala Lumpur pukul 10.30an dan harus kembali check in di bandara selambatnya pukul 4 sore. Karena kami menggunakan Air Asia, maka kami mendarat di LCCT Airport (Low Cost Carrier Terminal) bukan di KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Untuk sampai di Petronas, kami harus naik shuttle bus dari LCCT ke KL Sentral selama satu jam, lalu lanjut naik MRT ke KLCC Petronas selama sekitar setengah jam. Dengan memperhitungkan lama perjalanan bolak-balik antara KLCC dan LCCT, praktis kami hanya punya waktu 2 jam berleha-leha di Petronas. Hanya cukup untuk foto-foto dan makan siang saja. Tak apalah, yang penting saya punya bukti sahih kalau saya pernah ke Kuala Lumpur hehehe.

Cukup banyak shuttle bus di LCCT (stand-nya ada di dekat pintu keluar), tinggal cari yang harganya relatif murah dan banyak pilihan waktu berangkatnya. Waktu itu kami memilih naik Aerobus yang menawarkan paket PP LCCT – KL Sentral seharga RM 14 (Rp 40,000). Lebih murah dibandingkan naik LCCT Bus Bay yang harga PP nya RM 22.

Setibanya di stasiun MRT KL Sentral yang menyatu dengan mall, kami pun mencari mesin penjual tiket. Berbeda dengan MRT di Singapura, mesin penjual tiket di Kuala Lumpur ternyata hanya dapat menerima pecahan uang maksimal 5 Ringgit. Lebih dari 5 Ringgit, kami harus membeli tiketnya di loket. Yeee, sama aja bohong dong. Oh ya, sebelum naik MRT, pastikan jalur dan arah MRT Anda sudah benar. Jangan ragu untuk bertanya, siapa tahu orang di sebelah Anda ternyata orang Indonesia juga hehe.

Sesampainya di KLCC Petronas, kami langsung menuju KLCC Park untuk sesi foto walaupun di tengah terik matahari. Tidak lama kemudian adik Suling yang kuliah di KL, Kent datang. Selain punya adik di Singapura dan Kuala Lumpur, Suling konon juga punya adik di Taiwan. Sepertinya keluarga Suling mengekspor anak-anaknya ke mana-mana.

Kami pun makan siang di foodcourt Petronas dengan beragam pilihan. Mumpung di KL, saya tidak mau melewatkan kesempatan makan masakan khas Malaysia dan teh tarik. Karena teman saya menitip CD Elevation Anggun versi Malaysia, saya pun mencarinya di toko musik Rock Corner. Ternyata selain Elevation, mereka juga punya CD Best Of Anggun.

Menjelang pukul 15.30, kami pun bergegas ke stasiun MRT KLCC di basement Petronas, kembali ke LCCT. Pesawat kami untuk kembali ke Jakarta sudah menunggu. Saatnya pulang dan kembali ke dunia nyata.

[1 - 3 Aug 2010]

No comments:

Post a Comment