Wednesday, November 16, 2011

Cina: Negeri 1001 Cerita

Pada September 2009, saya melakukan perjalanan ke Cina. Sejujurnya Cina bukanlah pilihan pertama saya untuk berlibur, melainkan Australia. Namun ternyata rute perjalanan ke Cina lebih menarik hati saya karena ia memiliki peninggalan sejarah, kisah-kisah, dan budaya berumur ribuan tahun (selain karena memang biayanya lebih murah sih). Bagi saya, perjalanan ini telah memperluas wawasan saya dan memberikan pengalaman yang luar biasa.

“Perjalanan ribuan mil dimulai dengan sebuah langkah kecil.” (Lao Tzu – abad 7 SM)



BEIJING

Perjalanan selama 8 hari di Cina dimulai dengan mengunjungi ibukota negara, BEIJING atau Peking. Ketika saya berkunjung pada awal Desember, Beijing sudah memasuki musim dingin dengan temperatur antara minus 2 C - 10 C. Kota ini lebih dingin, dibanding kota lain yang akan saya kunjungi, karena letaknya agak ke utara.

Satu hal yang membuat saya terkesan dengan kota ini adalah jalanannya yang lebar dan adanya jalur khusus sepeda. Di kota ini terdapat lebih dari 4 juta mobil dan 8 juta sepeda, sedangkan motor hanya ada sekitar 10.000 buah untuk mengakomodasi kebutuhan transportasi penduduk Beijing, selain angkutan publik berupa bis dan subway. Turis asing mungkin akan mengalami kesulitan dalam menggunakan bis, karena hampir semua bis metro tidak menggunakan huruf latin untuk menunjukkan destinasinya. Selain itu, sulit juga bertanya kepada penduduk lokal karena mereka rata-rata tidak mampu berbahasa Inggris.

Seperti halnya kota-kota besar dunia, Beijing tidak luput dari kemacetan. Meski menganut paham komunis atau sosialis, pemerintah Cina tidak membatasi kepemilikan mobil pribadi. Lain halnya dengan di Indonesia di mana produk mobil Jepang mendominasi pasar, di Beijing justru mobil-mobil Eropa dan Korea lah yang merajai jalanan seperti VW, Audi, Peugeout, Hyundai, KIA, dan lain-lain. Mungkin penyebabnya adalah masih adanya sentimen anti-Jepang di kalangan masyarakat senior Cina karena Jepang pernah menjajah Cina di masa lalu.

Jumlah Beijinger mencapai hampir 30 juta jiwa. Namun hanya sekitar 1,3 juta orang yang mempunyai KTP. Padahal adanya KTP akan mempermudah mereka untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Maka banyak orang luar Beijing yang berusaha keras mendapatkan KTP ini, salah satunya melalui pernikahan. Padatnya jumlah penduduk Beijing akhirnya menimbulkan masalah seperti semakin sempitnya lahan pemukiman dan semakin tingginya tingkat persaingan dalam mendapatkan pekerjaan. Cukup keras kehidupan yang harus mereka jalani. Mungkin karena itu juga, rata-rata mereka agak ‘kurang ramah’ terhadap orang asing. Selain karena masalah keterbatasan bahasa, tentu saja.

Obyek wisata pertama di Beijing yang saya kunjungi adalah Summer Palace. Bisa ditebak dari namanya saja, itu merupakan istana tempat peristirahatan Kaisar setiap musim panas, terutama sejak jaman Dinasti Qing (1644-1911). Di dalam kompleks ini terdapat beberapa istana, taman, kuil, dan danau yang indah.

Selanjutnya saya mengunjungi The Great Wall yang dibangun selama hampir 1500 tahun sejak jaman Dinasti Qin (221 SM – 261 SM). Panjangnya mencapai lebih dari 7000 km yang gunanya untuk menjaga perbatasan Cina dari serangan bangsa Mongol di utara. Tentu saja, saya tidak akan sanggup menelusuri seluruh Tembok Besar. Baru menaiki satu pos penjagaan saja, napas saya sudah ngos-ngosan dan kaki saya gemeteran. Mungkin karena faktor tangga yang sangat curam, lokasi di pegunungan dan adaptasi perbedaan suhu yang ekstrim (alasan yang bagus!).

Malamnya, saya menonton akrobat Cina dan bebek Peking yang tersohor itu. Soal akrobat, saya harus mengacungkan jempol karena mereka mampu memaksimalkan panggung yang minimalis dengan tata cahaya dan tata ruang yang efektif di samping kemampuan akrobatik mereka yang tidak diragukan lagi. Namun untuk bebek Peking, jujur saja, saya lebih menyukai Bebek Goreng Pak Slamet.
Hari kedua di Beijing, saya mengunjungi Temple of Heaven yang merupakan kuil persembahan untuk Raja Langit (Surga). Pada jaman Dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1644-1911), kaisar mengadakan upacara tahunan untuk meminta/mensyukuri panen yang berlimpah. Di sana terdapat Sundial, semacam jam matahari untuk menunjukkan waktu dan menjadi elemen penting dalam prosesi. Meski merupakan peristiwa besar dan diikuti oleh 3000 orang, wanita (bahkan permaisuri) tidak diperbolehkan menghadiri upacara tersebut. Karena adat pada jaman itu melarang wanita terhormat untuk memperlihatkan wajahnya di depan orang asing.

Lapangan Tiananment adalah tempat yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berkunjung ke Beijing, mungkin ibarat Monumen Nasional di Jakarta. Di sekeliling lapangan tersebut ada 57 pilar bergambarkan pakaian khas 57 suku bangsa di Cina (saya baru tahu suku bangsa di Cina sebanyak itu). Kemudian ada potret raksasa Mao Zedong, pendiri Partai Komunis Cina, yang dianggap sebagai pahlawan dan pemersatu Cina. Di sebelah timur lapangan ada Museum Nasional Cina dan di seberang kirinya terdapat gedung parlemen (parlemen di negeri komunis?).

Dari Lapangan Tiananment, saya melewati jalan bawah tanah menuju Forbidden City yang dulunya merupakan kediaman resmi Kaisar sejak jaman Dinasti Ming. Mengapa kediaman kaisar ini disebut ‘kota’? Karena di dalamnya terdapat beberapa istana dengan berbagai peruntukan: istana untuk kaisar, permaisuri, selir, tempat pertemuan dengan para menteri, dan sebagainya. Disebut Kota Terlarang, karena ‘kota’ ini sangat tertutup dan orang luar dilarang masuk tanpa seijin kaisar. Hanya kaisar, permaisuri, selir-selir, dan para pengawal/pelayan yang boleh tinggal disana. Para pengawal/pelayan itu pun harus dikebiri dulu (orang kasim). Maka bisa dibilang, Kaisar adalah satu-satunya ‘lelaki’ di kota itu. Gambaran Kota Terlarang bisa dilihat di film The Last Emperor karya Bernardo Bertoluci.

Dari bangunan peninggalan masa lalu, saya beralih ke bukti kejayaan Cina masa kini, Olympic Bird Nest. Luarnya saja sudah tampak spektakuler, apalagi bagian dalamnya. Sangat jauh bila dibandingkan dengan stadion kebanggaan kita, Gelora Bung Karno. Di seberangnya, terdapat Beijing National Aquatics Center yang bentuknya menyerupai akuarium. Sayang, lampunya tidak dinyalakan pada malam itu sehingga saya tidak bisa melihat pendar cahayanya yang spektakuler.

SUZHOU – HANGZHOU - SHANGHAI 

Paginya dalam perjalanan menuju bandara (untuk terbang ke Shanghai), saya sudah membuat ‘kekacauan’ dengan meninggalkan handphone tercinta di ranjang hotel. Alhasil tour local kami pun tergopoh-gopoh kembali ke hotel untuk mengambilnya. Begitu kami akhirnya bertemu kembali di lobi bandara, saya segera memeluknya dengan hangat sebagai wujud maaf saya yang telah merepotkannya dan juga terima kasih saya untuk tour guidenya yang luar biasa. Lalu saya berlari menuju gate penerbangan saya, takut ketinggalan pesawat ke Shanghai. Sungguh pagi yang menyenangkan....

Di Beijing, saya sudah membuat gambaran di otak saya bahwa orang-orang sana kaku dan tidak ramah. Namun kesan itu terhapus ketika di pesawat saya mendapat teman sebangku orang Beijing asli dan bahkan bekerja untuk pemerintah Cina. Dengan bahasa Inggris yang (sama-sama) terbatas bahkan kadang-kadang membuka kamus, kami mencoba saling berkomunikasi. Dia adalah pria terpelajar awal usia 30-an yang ramah dan cukup terbuka membicarakan kehidupannya di Beijing. Waktu dia bilang dia adalah anak tunggal, saya dengan antusias bilang saya juga anak satu-satunya. Saya terlambat menyadari bahwa keluarganya adalah peserta kebijakan pemerintah ‘Satu Keluarga Satu Anak’ untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk di negeri 1.3 miliar orang ini. Saya lalu bertanya apa yang terjadi kalau lahir anak kedua. Ternyata pemerintah akan mendenda keluarga tersebut dan anak tersebut tidak akan diakui oleh negara. Kasihan....

“Heaven above, Suzhou and Hangzhou below.” (Peribahasa Cina)

Begitu tiba di Shanghai, saya melanjutkan perjalanan darat ke SUZHOU yang merupakan pusat industri sutra terkemuka sejak jaman dahulu. Bahkan penjelajah terkenal, Marcopolo, pernah mengunjunginya. Suzhou dikelilingi Sungai Yangtze dan Danau Taihu serta memiliki banyak jembatan, pagoda, dan taman yang indah. Salah satu taman itu adalah Liu Garden, yaitu rumah menteri zaman kekaisaran bermarga Liu. Di rumahnya terdapat berbagai koleksi kaligrafi dan arsitektur Cina. Kemudian saya mengunjungi Tiger Hill, sebuah kompleks taman yang luas. Di dalamnya terdapat pagoda Yunyan yang dibangun pada masa Lima Dinasti. Karena struktur fondasi yang melemah, pagoda ini mengalami kemiringan, seperti Menara Pisa di Italia.

Esoknya, saya mampir ke Water Village di WUZHEN, yakni sebuah desa yang dikelilingi oleh air, hampir mirip dengan Venesia di Italia. Hanya saja, bangunan-bangunannya terbuat dari kayu dengan arsitektur kuno Cina. Pemerintah menjadikan desa ini sebagai situs peninggalan sejarah yang dilindungi sehingga bentuk asli bangunannya terjaga. Bahkan kita bisa melihat proses pembuatan arak dan kain secara tradisional. Yang menarik, ada jembatan yang terdiri dari dua lorong yang harus kita pilih salah satunya. Kalau melewati yang kiri, konon kita akan mendapat peningkatan dalam karir. Jika lewat yang kanan, konon kita akan kaya. Tentu saja saya memilih yang kanan.

Kemudian, saya melanjutkan perjalanan ke HANGZHOU yang merupakan salah satu kota terkaya di Cina. Buktinya, di kota ini saya melihat cukup banyak mobil-mobil mewah seperti Ferrari, Maserati, Porsche berkeliaran. Kotanya pun tertata apik dan pohon-pohonnya lebih berwarna. Saya mengunjungi Yue Fei’s Tomb, makam jenderal perang legendaris Cina. Seperti halnya Gajah Mada yang ingin mempersatukan Nusantara, Yue Fei juga ingin mempersatukan Cina yang saat itu terpecah belah. Tidak jauh dari sana, terdapat West Lake yang merupakan latar belakang legenda Siluman Ular Putih. Danau itu hanya memiliki kedalaman antara 2 – 2.8 meter. Kami menggunakan kapal ferry wisata untuk menyusuri keindahan danau tersebut. Untuk melindungi danau dari pencemaran, semua kapal ferry menggunakan tenaga listrik.

Dari Hangzhou saya beralih ke kota terbesar di Cina, SHANGHAI. Kota ini merupakan pusat bisnis dan basis bagi perusahaan-perusahaan multinasional. Pada 2010 nanti akan ada even Shanghai Expo, di mana setiap negara akan memamerkan teknologi-teknologi termutakhir. Nuansa kota masa depan memang begitu terasa di Shanghai dengan gedung-gedung berarsitektur modern-nya, khususnya di kompleks Pudong skyline. Salah satu ikon kota Shanghai adalah Oriental Pearl TV Tower yang bentuknya menyerupai pesawat ulang-alik. Tidak jauh dari situ ada semacam dermaga untuk menikmati pemandangan kota Shanghai.

Bagi yang senang berbelanja, Shanghai memiliki Chang Hong Market dan Nanjing Road yang konsepnya mirip dengan Pasar Baru. Chang Hong Market adalah suatu kompleks pertokoan berarsitektur tradisional di mana kita bisa membeli oleh-oleh dan menawar harganya. Sedangkan Nanjing Road adalah pusat pertokoan modern yang menjual produk-produk branded. Kebetulan waktu saya mengunjunginya, beberapa toko sedang sale. Tapi berhubung dompet sudah menipis, saya lebih memilih cuci mata saja. Kemudian mata saya menangkap sosok yang tidak asing lagi: Andy Lau! Meski bukan sosok aslinya, melainkan patung lilinnya, saya sangat senang bisa memelototi kegantengannya. Akhirnya saya rela membayar 10 yuan (Rp 14500), untuk bisa foto bersama dan mencium pipinya. Yah sekedar pemanasan sebelum bertemu aslinya entah kapan.

 HONGKONG
Dari Shanghai saya terbang ke Shenzen untuk melanjutkan perjalanan darat ke HONGKONG. Karena mulai terbiasa dengan pemandangan kota Cina yang jalanannya lebar-lebar dan jarak antar gedungnya cukup lega, saya merasa berada di ruang sempit ketika di Hongkong. Gedung-gedungnya seakan berimpitan. Ketika melihat salah satu gedung apartemen di kota itu, saya jadi berpikir mungkin saja saya bisa tersesat ketika mencari alamat seseorang di gedung itu.

Di Hongkong tidak ada jadwal tur, sehingga kami dibebaskan pergi kemana saja. Karena saya termasuk banci Facebook, begitu tahu di hotel ada fasilitas internet gratis, maka aktivitas pertama yang saya lakukan adalah mengupdate status. Lalu makan siang di mall Citywalk persis di seberang hotel tempat saya menginap. Jauh-jauh ke Hongkong, makan siangnya KFC juga. Menunya hampir sama dengan yang ada di Jakarta, hanya saja orang-orang sana menggunakan sarung tangan plastik waktu memakannya. Hmmm...

Malamnya, bersama dengan wanita-wanita shopaholic di rombongan tur, saya pergi ke sebuah Pasar Malam di kawasan Mong Kok dengan menggunakan kereta subway (MRT). Saya sempat terbengong-bengong melihat mesin penjual tiket kereta yang hampir mirip dengan ATM. Cara kerjanya: sentuh stasiun yang kita tuju di monitor, masukkan uang (bisa kertas maupun logam), nanti tiket dan uang kembalian (jika berlebih) akan muncul. Itupun, saya baru tahu cara kerjanya setelah ditunjukkan oleh teman saya. Saya kembali terbengong-bengong di ruang tunggu kereta ketika melihat papan digital yang menunjukkan bahwa kereta akan tiba dalam sekian menit. Wah, kapan ya Jakarta punya subway kayak gini? Tapi bagaimana mungkin?

Merasa sudah tahu caranya menggunakan kereta subway, paginya saya memberanikan diri untuk pergi sendirian ke Victoria Harbor. Perjalanan kereta dari stasiun Tsuen Wan West menuju East Tsim Sha Tsui hanya memakan waktu kira-kira 25 menit ditambah berjalan kaki kira-kira 10 menit, tibalah saya di Victoria Harbor. Tadinya saya cuma mengharapkan adanya pemandangan kota Hongkong, tapi ternyata di sana juga adalah kawasan Avenue of Stars. Semacam walk of fame bintang dan sutradara ternama Hongkong. Pengunjung bisa berpura-pura syuting film karena ada patung kru film. Bisa juga berfoto dengan patung sang legenda, Bruce Lee atau sekedar berfoto di atas cap tangan bintang pujaannya.

Saya lalu menuju Museum of Art dan Museum of Space yang berjarak hanya beberapa meter dari sana. Sayangnya, kedua museum itu baru buka pukul 10, sedangkan saya harus kembali ke hotel sejam kemudian. Akhirnya saya memilih masuk ke Museum of Space saja. Museum ini pada dasarnya mengisahkan sejarah asal mula ilmu astronomi hingga sejarah penjelajahan ke luar angkasa, model roket generasi pertama hingga miniatur pesawat ulang-alik. Ada juga modul praktek dari teori-teori fisika yang digunakan, seperti teori Black Hole, gaya sentrifugal, gaya dorong roket, dan sebagainya. Untuk pertama kalinya, saya jadi tertarik dengan Fisika. Museum ini juga punya bioskop yang menayangkan film-film dokumenter tentang antariksa. Sayang, saya tidak punya waktu menontonnya. Tapi saya cukup puas dan terkesan dengan museum ini. Tadinya saya mengira sisa liburan saya di Hongkong akan membosankan, tapi ternyata saya begitu menikmati petualangan kecil saya hari itu.

TIPS DI CINA

1. Bagi yang terbiasa dengan makanan Indonesia yang pedas dan berbumbu, siap-siap untuk kecewa. Berbeda dengan masakan Cina di Indonesia yang lezat, di negeri aslinya ternyata hambar: kurang garam, kurang pedas, kurang....maknyus. Jadi, bawa saja saos sambal untuk memberi sedikit ‘citarasa’.

2. Pelayan-pelayan Cina rata-rata tidak bisa berbahasa Inggris, bahkan untuk kata-kata sederhana seperti: sambal, mangkok, sendok, toilet. Jadi bawa kamus atau hapalkan bahasa Cina-nya: sambal (lajiao), sendok (shaozi), toilet (cesuo), dan untuk yang muslim penting kiranya mengetahui ini, daging babi (zhurou).

3. Cina adalah surga barang-barang lucu nan murah dan Hongkong adalah surga barang-barang branded. Kalau Anda adalah shopaholic sejati, bawa satu kopor kosong dari Indonesia untuk menampung barang-barang belanjaan Anda. Jika Anda non-shopaholic tapi emotional buyer, sebaiknya tinggalkan kartu kredit Anda di rumah karena orang Cina pintar mempengaruhi emosi Anda untuk membeli dagangannya.

4. Jangan kaget, jika tour leader membawa Anda ke pabrik/toko milik pemerintah setidaknya sekali sehari. Tercatat, selama di Cina saya mengunjungi toko/pabrik obat, pabrik teh hijau, toko mutiara, pabrik tembikar, dan pabrik kain sutra. Dalihnya itu merupakan permintaan dari pemerintah Cina. Jangan ngambek dulu, ambil sisi positifnya saja karena pengetahuan dan wawasan kita jadi bertambah. Misalnya saya baru tahu jika ada tipe mutiara air tawar, tembikar ternyata dibuat dari perunggu bukan tanah liat, teh hijau yang asli ternyata berupa pucuk-pucuk daun, kain sutra asli jika dibakar asapnya berwarna putih, dan sebagainya. Hanya saja, sebaiknya tinggalkan kartu kredit Anda di tempat yang tak terjangkau karena Anda akan tergoda untuk menggeseknya.

5. Jika Anda wanita muda dan cantik (seperti saya), hindari berjalan sendirian ketika mengunjungi pusat pertokoan di malam hari. Karena sudah dua kali saya didekati pria Cina yang sepertinya hendak menawarkan sesuatu. Kalau sudah seperti itu, pura-pura tak mengerti bahasanya (emang gak ngerti sih) sambil berjalan cepat. Pokoknya jangan lihat matanya atau wajahnya walau seganteng Takeshi Kaneshiro.

6. Jika Anda suka fotografi (alias banci kamera), pastikan chargernya dibawa dan kapasitas memorinya sudah memadai. Hati-hati membeli memory card di Cina, karena teman seperjalanan saya ternyata tidak bisa membukanya begitu di Indonesia.

[28 Desember 2009]

No comments:

Post a Comment