Thursday, November 17, 2011

Mengejar Kereta di Singapura!

"Life is not measured by the number of breaths we take,
but by the number of moments that take our breath away..."


DAY 01
Pesawat kami mendarat mulus di bandara Changi, Singapura menjelang pukul 10 pagi. Bandara Changi memang luar biasa, modern dan canggih (mungkin karena itu dinamakan changi?), membuat kami tidak berani membuang sampah sembarangan, mungkin karena terpengaruh atmosfer higienis ataupun karena takut kepergok petugas. Seram juga kalau hari pertama sudah terkena kasus. Hebatnya lagi, ada kursi pijat Osim untuk memanjakan penumpang di beberapa sudut bandara. Saya pun berniat untuk mencobanya saat berkunjung lagi ke bandara itu.

Kami berlima lalu menuju taxi counter untuk mendapatkan taksi yang akan mengantar kami ke daerah Chinatown, tempat kami menginap. Mata langsung membelalak ketika melihat ada taxi Jaguar (ya benar, Jaguar saudara2! Bukan Kijang, Panther apalagi Zebra) sedang menanti penumpang. Alhasil mata pun sulit beralih dari taxi Jaguar tersebut, walau kaki ini otomatis melangkah ke taksi sebelahnya, Hyundai apa gitu, karena kami cukup sadar diri. Begitu masuk ke taksi, langsung berasa ada di toko, soalnya ada mesin gesek kartu. Wuih bisa bayar taksi pake kartu kredit, coba di Indo bisa bayar Blue Bird pake kartu BCA.

Sesampainya di People's Park Apartment, di kawasan Chinatown, kami tidak bisa langsung masuk. Karena rupanya di Singapura sedang ada razia penggunaan apartemen untuk turis, yang membuat tingkat hunian hotel menurun. Jadi kami pun bergiliran naik lift ke apartemen biar tidak dicurigai petugasnya (hari pertama udah main kucing2an). Ternyata satu apartemen di sana dibagi-bagi lagi ke dalam beberapa kamar, seperti rumah kos-kosan di Indo gitu lah. Karena kami berlima, kami pun memesan dua kamar apartemen namun beda lantai. Ruangannya lumayan bersih, dilengkapi AC, TV dan yang satu kamar memiliki kamar mandi dalam. Lumayan lah untuk apartemen dengan biaya sekitar Rp 210ribu/orang/malam.

Setelah menaruh barang-barang dan mendiskusikan rencana kami hari itu, kami pun menuju foodcourt di lantai dasar. Harga makanan yang ditawarkan disana relatif terjangkau, mulai dari 1.8 – 4 SGD (sekitar Rp 12.000-27.000). Yang unik sekaligus menyebalkan, setiap stand makanan di sana tidak menyediakan tissue, dan bukan cuma di foodcourt itu saja, tapi yang di mall-mall juga. Mungkin juga itu bagian dari kampanye mereka untuk melestarikan lingkungan atau memang pada dasarnya pelit ya (?).

Bersama Felix, adik Suling yang kuliah di Singapura, kami berkeliling ke beberapa tempat dengan menggunakan bus. Tidak seperti di Jakarta dimana kita bisa menghentikan bus sesuka hati penumpang dan seenak jidat supir bus, bus di Singapura hanya berhenti di halte (seperti busway gitu deh). Tarifnya juga bervariasi berdasarkan jarak, tidak seperti di sini yang jauh dekat tarifnya sama. Untuk membayarnya, penduduk Singapura biasanya mempunyai kartu berlangganan yang bisa diisi ulang, yang didekatkan di alat sensor dekat pintu masuk bus. Sedang yang tidak punya kartu bisa membayar tunai dengan memasukkan uang ke kotak dekat pintu masuk. Masalahnya adalah jika tarifnya 1,9 SGD dan kita cuma punya 2 SGD untuk dimasukkan ke kotak, sebaiknya jangan mengharapkan uang kembali.

Selain bus, penduduk Singapura juga menggunakan MRT (Mass Rapid Transit), jaringan kereta bawah tanah yang nyaman dan bersih. Kartu berlangganan untuk bus juga dapat digunakan untuk MRT ini. Namun kita juga bisa membeli kartu atau tiket sekali jalan di mesin-mesin penjual tiket. Praktis, mudah, efisien, dan bikin sirik karena di Jakarta mana ada kayak gini. Sayangnya, bus dan MRT hanya beroperasi sampai jam 12 malam. Di atas itu, hanya taksi yang beroperasi dengan tarif 2 kali lipat.

Dengan jaringan transportasi mumpuni seperti itu, rakyat Singapura sepertinya tidak butuh mobil. Di samping itu, pemerintah Singapura juga menerapkan pajak tinggi untuk kendaraan pribadi. Di jalanan, lebih banyak taksi daripada mobil pribadi. Akibatnya praktis hampir tidak ada kemacetan di sana. Meski berdampak positif, kalau aturan pajak mobil tinggi dipraktekkan di sini, pasti banyak yang protes, termasuk saya hehehe.

Tujuan pertama kami di Singapura adalah Bugis Street, semacam pasar tradisional. Namun sayangnya (atau untungnya) kami tidak sedang bernafsu belanja. Jadi setelah melihat-lihat sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke mall khusus elektronik tidak jauh dari sana, Burlington Square. Susah memang menghilangkan naluri GfK walau sedang berlibur. Saya juga sempat tergoda dengan sebuah kamera SLR merek Sony, tapi untungnya logika saya lebih dominan daripada emosi saya karena saya sadar: 1. Uang saya terbatas, masa hari pertama liburan langsung 'jatuh miskin' dan 2. Saya malas bawa kamera SLR ketika bepergian, karena waktu saya akan habis untuk mencari obyek foto daripada menikmati pemandangan sekitar saya.

Setelah puas melihat-lihat barang-barang elektronik yang cuma bisa kami impikan, kami pun naik bus ke arah Singapore River dengan tujuan foto-foto dengan latar belakang Marina Bay Sands, Merlion Park dan Esplanade Theaters. Sayangnya cuaca sedang gerimis, jadi agak basah gitu deh dan suhunya cukup dingin. Kata Felix, Singapura biasanya panas banget. Jadi untung juga sih sedikit gerimis. Sesi foto pun dimulai dan kami mesti bersaing dengan turis-turis lainnya untuk mendapatkan pose terbaik.

Karena kami berencana Safari Night di Singapore Zoo malamnya, kami lanjutkan berjalan kaki ke arah stasiun MRT City Hall. Kami melewati semacam stadion dengan lapangan terbuka yang dirancang untuk merayakan hari kemerdekaan Singapura tanggal 9 Agustus. Dari City Hall kami menuju stasiun Ang Mo Kio yang jadi satu dengan mall, tempat kami makan malam. Dari Ang Mo Kio, kami naik bus menuju Singapore Zoo selama sekitar 30 menit. Dalam perjalanan kami melewati danau buatan, sumber air bagi penduduk Singapura yang dulu sempat tergantung pada pasokan air dari Malaysia. Kini mereka sudah bisa berswasembada air, teladan bagus dari Singapura yang menyadari kekurangannya dan menemukan solusinya. Waktu kami tiba di Singapore Zoo, sudah sekitar pukul 7 malam, tapi hari masih terang (waktu Singapore lebih cepat 1 jam daripada Jakarta).

Setelah mengecek jadwal bus dan kereta untuk pulang, kami memasuki Singapore Zoo dan ditawari paket Safari Night sebesar 35 SGD. Dengan paket itu, kami bisa mengelilingi kebun binatang dengan menaiki trem, menonton 2 pertunjukan dan mendapat suvenir gantungan boneka binatang (pemaksaan supaya beli?). Setelah berunding, kami setuju mengikuti paket itu.

Sebenarnya kasihan juga melihat binatang-binatang itu harus 'lembur' jadi obyek tontonan manusia. Bagi binatang waktu malam adalah waktu tidur dan mungkin juga bikin anak. Kami sempat mengintip buaya dan pakaya lagi 'begituan' lho. Ngomong-ngomong soal obyek tontonan, ada beberapa kumpulan binatang yang justru sedang 'menonton' trem kami melewati mereka. Jadinya tidak jelas, siapa yang nonton siapa yang ditonton.

Begitu serunya kami melihat koleksi Singapore Zoo sampai hampir lupa waktu. Terburu-buru kami berusaha mengejar bus terakhir ke Ang Mo Kio. Setibanya disana, Felix memisahkan diri karena rumahnya dekat stasiun tersebut. Di stasiun Ang Mo Kio, kami balapan lari dengan penumpang kereta lain, mengejar kereta terakhir ke Dhoby Gaut, untuk pindah kereta menuju Chinatown. Sekali lagi di Dhoby Gaut kami terkaing-kaing mengejar kereta. Namun kali ini, cuma saya dan Danny yang berhasil masuk kereta. Tiga lainnya terlambat beberapa detik sebelum akhirnya pintu menutup. Oh tidak!!!!

Tapi, siapa bilang saya dan Danny 'beruntung' bisa keburu masuk kereta? Karena faktanya, kami malah melewatkan stasiun Chinatown, gara-gara: 1. Saya tidak mengerti bahasa Mandarin (setiap berhenti di stasiun, ada pengumuman nama stasiun tersebut dalam bahasa Mandarin ataupun Inggris. Sialnya, waktu itu pengumumannya cuma pake bahasa Mandarin); 2. Danny mengira tujuan kami adalah Harbour Front (stasiun terakhir), jadinya dia malah santai2 saja dan parahnya saya pun ikut-ikutan santai karena mengira kereta bergerak dari Harbour Front menuju Chinatown. Maka ketika kereta akhirnya berhenti di Harbour Front dan tidak bergerak lagi, saya cuma bisa terpana tak percaya. Kami pun harus bayar denda sebesar 20 sen/orang. Karena waktu sudah lewat jam 12 dan bus tidak beroperasi lagi, kami pun terpaksa naik taksi yang rate-nya jadi 2x lipat. Yang menyebalkan, ketiga orang yang ketinggalan kereta itu justru masih dapat bis. Parah! Tapi kejadian seperti itulah yang malah bikin seru (tapi jangan kejadian lagi deh).

Aksi kucing-kucingan dengan petugas apartemen kembali berulang malam itu. Untungnya Suling bisa bahasa Mandarin, jadi petugasnya tidak curiga. Kebetulan juga ada beberapa orang lain yang ikut naik lift, sehingga petugasnya tidak bertanya-tanya lebih lanjut. Begitu berkumpul lagi di apartemen, kami langsung menertawakan kebodohan kami malam itu.

DAY 02

Di hari kedua, kami berkunjung ke Pulau Sentosa. Untuk sampai ke sana, kami harus ke stasiun Harbour Front dan melanjutkan perjalanan dengan naik bis (bisa juga dengan monorail) selama sekitar 30 menit. Semula, gambaran saya tentang Pulau Sentosa adalah pulau seperti pulau pada umumnya dengan pantai berpasirnya. Tapi ternyata gambaran saya berbeda dengan kenyataannya. Pulau Sentosa ibarat mall raksasa dengan kasino, pertokoan, hotel, taman hiburan, kebun binatang, dan pantai di dalamnya. Pulau itu terbagi-bagi ke dalam beberapa area yakni: Resorts World (Casino, Universal Studio, Hard Rock Hotel, dll), Imbiah Lookout (Merlion Walk, Sentosa Nature Discovery, dsb), Serapong, Siloso Beach, Palawan Beach, dan Tanjong Beach. Untuk ke area-area tersebut, kita dapat menggunakan monorail.

Ketika bus memasuki Pulau Sentosa, yang pertama kami masuki adalah tempat parkir basemen yang sangat luas, di dalam area Resorts World. Untuk masuk ke Casino, kita harus memakai celana panjang dan sepatu. Karena sebagian dari kami bercelana pendek dan ada yang bersandal jepit, kami memutuskan untuk tidak masuk dan foto-foto di depannya saja. Universal Studio juga merupakan tempat wajib untuk berfoto 'keluarga'. Jika ingin masuk kesana, kita harus book tiket beberapa hari sebelumnya via online. Harga tiketnya sekitar Rp 500ribuan. Selain foto di kedua tempat itu, berhubung saya suka coklat, saya berfoto di depan Hershey's Store. Dan berhubung saya juga suka Shakira, saya pun berfoto di depan posternya yang terpampang di bagian depan Hard Rock Cafe. Sepertinya Shaki jadi Artist Spotlight-nya Hard Rock Cafe di seluruh dunia, karena posternya ada juga di Hard Rock Cafe Jakarta.
Setelah puas berfoto ria, kami lalu menggunakan monorail menuju Imbiah Lookout yang mempunyai venue gratis maupun yang harus bayar. Tentu saja kami memilih yang gratisan seperti Merlion Walk dan Sentosa Nature Discovery. Merlion Walk merupakan taman memanjang dengan kolam di tengah-tengahnya. Kolam-kolam itu bermotifkan ular dengan warna-warna menarik. Di beberapa bagian, terdapat air mancur. Banyak anak kecil yang senang bermain di sini. Tidak jauh dari situ terdapat patung Merlion raksasa, yang bisa kita naiki. Sayang, naiknya tidak gratis. Di Sentosa Nature Discovery, terdapat sejarah Pulau Sentosa dan koleksi tumbuhan yang di temukan di sana. Meski cuma mengunjungi yang gratisan, tapi cukup melelahkan juga karena kami berjalan kaki lumayan jauh di tengah cuaca terik.

Berhubung kami akan terbang ke Bangkok malamnya, kami memutuskan pulang ke apartemen lebih awal. Namun ketika memasuki kamar, kok tas-tas kami tidak ada, yang ada malah tas orang lain. Kami sempat bingung, apa kami salah masuk kamar ya (wah bahaya juga). Setelah yakin bahwa itu memang kamar kami, kami langsung menghubungi pemilik apartemen yang kemudian mendatangi kami dan menjelaskan kalau dia sudah SMS Irene beberapa kali bahwa tas kami dipindahkan ke kamar rekan laki-laki yang berbeda lantai. Alasannya karena tamunya yang lain sudah datang. Kami pun bergerombol menuju TKP eh kamar satu lagi. Dan benarlah tas-tas kami ditumpuk disitu. Kami pun bergiliran mandi. Eh pas giliran Danny (terakhir), pemilik apartemen datang dan meminta kami untuk mengeluarkan tas kami dari kamar itu karena tamu dia yang berikutnya sudah datang. Jadi kami diusir nih ceritanya.

Kami lalu menggunakan MRT menuju Changi Airport, selama sekitar 45 menit. Setibanya di bandara, setelah menyelesaikan urusan tiket dan imigrasi, saya langsung memanfaatkan internet gratis di area bandara. Lumayan, bisa update status hehehe. Saya juga mencari-cari kursi pijat Osim, yang sayangnya sedang dipakai oleh sekelompor turis Korea. Pakainya santai dan sambil ngobrol pula. Karena boarding-nya cukup lama, kami pun kelaparan dan bermaksud makan bekal roti (biar irit) di area bandara. Tapi berhubung ada petugas kebersihan di dekat kami serta CCTV, kami jadi sungkan makan. Ntar kalau didenda bagaimana? Jadilah kami menahan lapar, sampai akhirnya kami menaiki pesawat yang membawa kami ke Bangkok.


(30-31 JULY 2010)

1 comment:


  1. kami sekeluarga ingin mengucapkan
    puji syukur kepada AKY SANTORO
    atas nomor togel.nya yang AKY
    berikan 4 angkah alhamdulillah
    ternyata itu benar2 tembus
    dan alhamdulillah sekarang saya
    bisa melunasi semua utan2 saya yang
    ada sama tetangga dan bukan hanya
    itu AKY. insya
    allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
    kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKY SANTORO
    sekali lagi makasih banyak ya AKY bagi saudara yang ingin di bantu melalui jalan di bawa ini
    >TOGEL JITU
    >PESUGIHAN UANG GAIB
    >PESUGIHAN JIN KHODAM
    >PESUGIHAN ASMA
    >PESUGIHAN UANG SEPASANG
    >PESUGIHAN TUYUL| PELARIS USAHA
    >PESUGIHAN UANG BALIK
    yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi AKY SANTORO,,di
    0852-1320-2855, ATAU KLIK DI SINI dan saya sudah membuktikan sekarang giliran saudara yg di luarsana

    ReplyDelete