Friday, November 18, 2011

Nyamannya Jalan Kaki di Sydney dan Melbourne

Sydney merupakan kota terbesar di Australia dan ibukota negara bagian New South Wales. Kota ini terkenal dengan even-even musik, seni, olahraga, dan bisnis berskala internasional. Gedung yang paling mendunia adalah Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge di seberangnya. Saking tersohornya sampai-sampai Oprah Winfrey pun ingin mengakhiri acara bincang-bincangnya di sana. Padahal, Sydney tidak hanya memiliki gedung opera dan jembatan itu, tapi juga pemandangan alam mulai dari pegunungan Blue Mountains, Royal National Park, Manly Beach dan kawasan selancar Bondi Beach. Sayangnya karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Bondi Beach, North Sydney, kawasan CBD, serta satu paket gedung opera dan jembatan Sydney.

Setibanya di bandara, saya langsung menuju hostel dengan menggunakan kereta, turun di stasiun Kings Cross. Ongkosnya sebesar AUD 15, lumayan mahal juga. Ternyata pihak hostel juga menyediakan jasa antar ke bandara sebesar AUD 10, lebih murah kan. Jika kebingungan cari tempat menginap di Sydney, google saja hostel ChilliBlue Backpackers. Kamar dan toiletnya bersih, ada air panas, dapur umum, tempat kumpul, wifi, internet dan sarapan gratis. Ada xbox juga. Selain itu, pengelolanya orang Indonesia lho. Mantap deh promosinya hehehe.



Kembali ke topik. Kereta memang merupakan alat transportasi andalan untuk berbagai tujuan di Sydney. Perlu diketahui, harga tiketnya relatif sama (AUD 3.2) untuk jarak jauh maupun dekat. Jadi sebelum menggunakan kereta, sebaiknya buat rencana terlebih dahulu biar gak rugi. Selain kereta, manfaatkan semaksimal mungkin bis gratis yang akan mengantar kita keliling CBD Sydney.

Bagaimana dengan makanan? Sama seperti di Perth, harga makanan di Sydney relatif mahal kalau dikonversi ke rupiah, minimal AUD 7.5. Untungnya di sebelah hostel saya (di Victoria Street) ada restoran Thailand yang menyediakan berbagai menu dengan nasi yang lezat. Kalau keuangan tipis, terpaksa makan malam dengan roti dan susu saja yang bisa dibeli di Woolworths atau minimarket dekat hostel. Penghuni hostel yang bule-bule malah memasak bareng di dapur umum.

>>> CBD, Sydney Opera House, & Sydney Harbour Bridge

Kawasan CBD Sydney merupakan pusat bisnis dan pertokoan yang di dalam dan sekitarnya terdapat tempat-tempat ibadah (St. Andrew Cathedral, St. James Church,  The Great Synagogue), taman kota Hyde Park, museum (Museum of Sydney, Australian Museum, Museum of Contemporary Art). Pusat perbelanjaan terkenal bernama Queen Victoria Building (yang mahal) dan Paddy’s Market di Chinatown (yang lebih murah). Untuk mengelilingi area CBD, kita bisa menggunakan bis gratis (Free Shuttle No 555) yang akan berhenti di setiap halte. Namun jumlah bis ini terbatas sehingga kita harus menunggu agak lama dan di titik atraksi turis kita harus bersaing dengan penumpang lainnya. Maklum gratisan... Kalau merasa masih muda dan sehat walafiat, silakan berjalan kaki dan menjadi bagian dari hiruk-pikuk kehidupan warga Sydney.

Jika ingin pergi ke Sydney Opera House, dari CBD turunlah di Stasiun Circular Quay. Tidak jauh dari stasiun itu, sudah terlihat kubah putih Opera House dan rangka besi Sydney Harbor Bridge di seberangnya. Di sekelilingnya banyak terdapat kafe dan restauran untuk menikmati pemandangan ‘spektakuler’ itu. Kalau mau yang lebih murah, beli saja kopi dan snack di toko makanan kecil dekat pintu masuk Circular Quay Station. Lalu duduk-duduk di ruang tunggu untuk naik feri. Kita bisa puas-puasin lihat jembatan di sebelah kiri dan gedung opera di sebelah kanan. Tentu saja, penting banget untuk mengabadikan diri kita di depan dua bangunan itu.

Kalau ada waktu, sempatkan untuk mengunjungi Manly Beach dengan menggunakan feri yang berangkat dari port Circular Quay. Harga tiket PP-nya kurang lebih AUD 13. Jadwal keberangkatan feri ini terpampang di port, dari pagi hingga sore.

>>> North Sydney, Chinatown & Bondi Beach

North Sydney adalah kawasan perkantoran di sebelah utara CBD. Untuk mencapainya, kita harus melewati Sydney Harbour Bridge dengan menggunakan kereta dan turun di stasiun bernama sama yang berada di dalam sebuah mall. Jangan bayangkan North Sydney seperti kawasan Sudirman-Thamrin yang macetnya gak kenal waktu. Kondisi jalanan di sana justru sepi dari kendaraan bermotor. Ngapain saya kesana? Cuma karena ingin bersilaturahmi dengan cabang (bekas) kantor saya di Australia dan ingin tahu sedikit tentang kehidupan pekerja kerah putih di sana. Kurang kerjaan banget ya hehe.

Dari North Sydney, saya kembali ke CBD, tepatnya ke Chinatown untuk mencari oleh-oleh di Paddy’s Market. Sayangnya hanya ada satu toko khusus suvenir yang menjualnya. Selain itu, di sana kita dapat membeli dan menawar bahan makanan, baju, sepatu, aksesoris, dan perhiasan.

Hanya beberapa puluh meter dari Chinatown, terdapat Sydney Central Station, stasiun terbesar Sydney tempat saya membeli tiket menuju stasiun Bondi Junction. Dilanjutkan dengan naik bis menuju Bondi Beach, kawasan wisata pantai di bagian timur Sydney. Pantai ini berupa teluk dan terkenal di kalangan surfer dengan ombak Samudera Pasifik-nya. Pasirnya sangat halus dan lingkungannya bersih. Meski matahari bersinar terik, di musim semi, angin bertiup kencang dan udaranya dingin. Jadi jangan harap bisa melihat bule berbikini atau bertelanjang dada. Kalau emang niat banget, datanglah pada saat musim panas (Desember – Maret).

MELBOURNE

Melbourne berada di selatan Sydney dan terletak di negara bagian Victoria, serta merupakan kota terpadat kedua di Australia. Jika di Perth terdapat Swan River, maka di sini ada Yarra River yang melewati kawasan CBD Melbourne. Mungkin karena lokasi hostel saya dekat dengan kampus RMIT dan State Library, saya merasa seperti berada di kota pelajar.

Melbourne memiliki 2 bandara domestik dan internasional yakni Tullamarine dan Avalon. Dari Tullamarine ke CBD bisa ditempuh dengan menggunakan Skybus hingga ke Southern Cross Station, stasiun kereta terbesar di Melbourne. Kalau tidak salah biayanya sekitar AUD 16. Kalau mau lebih mudah, ada fasilitas semacam Airport Direct Shuttle yang mengantar-jemput kita hingga ke hostel/hotel. Biayanya tergantung lokasi tempat kita menginap. Karena hostel saya berada di kawasan CBD, maka ongkosnya AUD 20 sekali jalan.

Melbourne mempunyai jaringan trem terpanjang di dunia dan yang lebih penting, ada yang gratis lho untuk mengelilingi CBD (City Circle Tram). Selain trem gratis, ada juga bis gratis (Melbourne City Tourist) buat keliling-keliling pusat kota. Selain itu ada juga penyewaan sepeda (Bike Share Station) yang gratis untuk 30 menit pertama, AUD 2 untuk 30 menit berikutnya dan AUD 5 untuk sejam kemudian. Pembayarannya harus dengan kartu kredit untuk membuka ‘kunci’ sepeda. Jadi jangan coba-coba mencuri atau merusak sepeda, karena pasti ketahuan siapa pelakunya. Sepeda yang digunakan bisa dikembalikan di cabang Bike Share Station manapun.

Meski banyak pilihan transportasi gratis, jangan lupa untuk menikmati kota dengan berjalan kaki karena Melbourne punya beberapa bangunan historis (Parliament House, Flinders Station, Federation Square), museum-museum (Old Melbourne Gaol, Gold Treasury Museum, Immigration Museum), taman kota (Flagstaff Garden, Fitzroy Garden), yang lokasinya berdekatan. Ada juga Queen Victoria Market, pasar tradisional yang wajib dikunjungi kalau mau beli oleh-oleh. Jangan lewatkan pula galeri ‘jalanan’ di Exhibition Street di mana terdapat lukisan-lukisan grafiti di sepanjang tembok. Saya juga sempat mengunjungi Melbourne Central, mall sekaligus stasiun kereta yang terletak persis di seberang State Library, perpustakaan terbesar kota ini. Banyak sekali warga dan turis yang duduk-duduk menikmati sore di halaman State Library.

Kalau ingin menikmati suasana pantai, Melbourne memiliki St. Kilda. Sayang, saya tidak sempat mengunjunginya. Ada juga tur sehari ke Great Ocean Road, di luar kota Melbourne yang bisa dipesan secara online ataupun lewat bantuan resepsionis hotel atau hostel.

>>> Great Ocean Road

Adalah jalan raya sepanjang 243 km di pinggir pantai tenggara Australia yang dibuat oleh bekas tentara Australia antara tahun 1919 – 1932 untuk mengenang rekan-rekan mereka yang gugur dalam Perang Dunia I. Di sepanjang jalan itu, kita dapat menikmati keindahan pantai-pantai Australia yang khas dengan batu-batu besar dan tebing tingginya. Di antaranya adalah Bells Beach, pantai yang ombaknya cocok untuk berselancar. Di kejauhan tampak para peselancar sedang mendayung papan selancarnya ke tengah laut. Padahal saat itu suhu sangat dingin lho. Selain Bells, kami juga mengunjungi 12 Apostles (pantai yang memiliki 12 batu raksasa), Loch Ard Gorge (pantai tempat karamnya kapal The Loch Ard), London Bridge (dinamai demikian karena bentuknya memang seperti jembatan, namun sekarang jembatan itu sudah hancur terkikis air laut) dan Apollo Bay untuk makan siang.

Selain pantai, kami juga mengunjungi hutan lindung di Kennet River, habitat koala yang dibiarkan berkeliaran dengan bebas. Lalu ada juga, Mait’s Rainforest tempat hidup pohon-pohon berusia ratusan tahun. Geli juga melihat turis-turis bule heboh berfoto dengan latar belakang batang atau akar pohon yang tua. Biasa aja kali, di Indonesia banyak tuh.

[22-28 Oct 2010]

2 comments:

  1. halo mbak, bisa dishare hostel yg recommended di Melbourne ? trims untuk infonya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga. Maaf baru reply...dulu saya menginap di hostel Victoria Hall Acomodation, sekarang namanya Space Hotel. Link: http://www.hostelbookers.com/hotels/australia/melbourne/4584/. Waktu itu sih wifi-nya bermasalah dan computer nya lambat. Gak tau sekarang. Monggo dicek aja :)

      Delete