Friday, December 9, 2011

Impian ke Eropa: Semua akan Indah pada Waktu-Nya

Waktu saya masih SMA, saya pernah membaca buku perpustakaan tentang Venesia, Italia. Begitu terpesonanya, saya kerap mendatangi perpustakaan cuma untuk melihat pemandangan di buku itu. Lagi dan lagi. Dalam hati saya berharap suatu saat bisa melihat pemandangan yang sama dengan mata saya sendiri. Saya tidak tahu kapan dan bagaimana. Karena orang tua saya adalah pedagang yang selalu berpikir bahwa "Toko tutup = rugi", maka kami hampir tidak pernah melakukan perjalanan jauh yang membutuhkan waktu berhari-hari apalagi berminggu-minggu. Bahkan sampai waktu itu, perjalanan terjauh yang pernah kami lakukan bersama-sama adalah ke Surabaya. Itupun waktu saya masih SD.

Ketika kuliah, saya punya sahabat pena perempuan Prancis, Ayla, yang saya kenal bertahun-tahun dari forum fans Anggun. Dia pun datang ke Indonesia dan untuk pertama kalinya kami bertemu. Saat tahu dia akan ke Bali, saya pun bereaksi, "Saya yang orang Indonesia aja belum pernah ke Bali." Dia pun mengajak saya. Saya senang sekali bisa punya teman bepergian. Dengan berbagai cara, saya merayu orang tua saya untuk mengizinkan saya pergi. Itulah pertama kalinya saya travelling dengan teman, bukan dengan orang tua/keluarga atau darmawisata sekolah. Bagi saya, bepergian dengan teman ternyata lebih menyenangkan karena lebih bebas dan obrolan kami lebih nyambung. Setelah itu, saya jadi lebih berani untuk bepergian sendiri, menemui teman-teman/sepupu-sepupu saya di Yogyakarta dan Bandung. Orang tua saya pun mulai percaya bahwa saya bisa menjaga diri dengan baik.

Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan pendidikan S2 dan mulai memindahkan tabungan saya ke dalam bentuk emas. Tujuan awal saya menabung emas adalah untuk menghindari pemborosan karena toh emas saya disimpan oleh ibu saya. Berbeda dengan menyimpan uang di bank, yang bisa saya ambil sewaktu-waktu kalau tergoda barang bagus. Waktu itu, saya belum berpikir untuk menggunakannya sebagai dana untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Bahkan rencana perjalanan ke luar negeri saya tak muluk-muluk, ke Malaysia saja sepertinya sudah luar biasa. Tapi waktu itu, keinginan saya pergi ke Malaysia adalah bersama orang tua saya. Setiap tahun saya menanyakan ke ayah saya, "Kapan berangkat?". Dan ayah saya tercinta selalu menjawab, "Tahun depan." Setelah ayah saya terkena stroke dan diabetes, harapan pergi ke luar negeri bernama Malaysia itu pun sirna dengan sendirinya.

Lulus S2, saya pun bekerja. Saat itulah, nuansa Australia ada di sekeliling saya. Dimulai dari pertemuan dengan sepupu saya yang ingin sekolah di Perth, Australia. Saya jadi teringat sudah ada 2 sepupu yang lama tinggal di Melbourne dan sepupu yang lain pernah kuliah di Sydney. Dengan demikian, sudah 4 sepupu yang akan/sedang/pernah tinggal di Australia. Belum lagi suami-istri tua tetangga saya juga akan pindah ke Melbourne. Lho lho lho? Memangnya ada apa sih di Australia? Jadilah saya tertarik untuk pergi ke Australia. Tapi begitu saya cari info di biro perjalanan, alamak! Biayanya USD 1600++! Waduh duit dari mana? Saya segan minta uang ke orang tua secara saya sudah bekerja dan ayah sakit-sakitan. Akhirnya, saya menemukan alternatif perjalanan ke Cina dengan biaya USD 800++. Masih bisalah saya biayai dari tabungan saya sendiri di bank (saya memang hobi menabung). Waktu itu buat saya, Cina lebih menarik karena memiliki peninggalan-peninggalan historis lebih kaya daripada Australia dan sebagai orang keturunan, bukankan lebih baik saya menengok tanah leluhur saya? Untuk pertama kalinya saya pergi ke luar negeri.


Sejak itu, saya mulai kecanduan. Saya jadi teringat buku tentang Venesia yang saya baca waktu SMA. Maka destinasi berikutnya adalah Eropa. Ternyata biaya termurah untuk pergi ke Eropa Barat dengan biro perjalanan adalah sekitar USD 2100++. Wow! Tapi jangan kuatir, saya punya simpanan emas. Meski saya sempat merasa 'sayang' mencairkan tabungan saya selama bertahun-tahun, namun saya teringat kata-kata John Wood (penulis 'Leaving Microsoft to Change The World'), "Apa gunanya tabungan, kalau kamu tidak bisa menggunakannya untuk membiayai impian-impianmu?". John memilih keluar dari kursi nyamannya di Microsoft dan membangun lembaga nirlaba Room to Read dari tabungannya sendiri. Jika impian John adalah membantu menyediakan perpustakaan anak-anak di Nepal, impian saya saat itu adalah pergi ke Eropa!

Sayang, sepertinya Tuhan belum mengizinkan saya untuk menjejakkan kaki di Eropa. Dua minggu sebelum pesawat saya berangkat, gunung berapi di Islandia meletus, mengacaukan ribuan penerbangan di seluruh dunia, termasuk penerbangan saya. Yang lebih menyakitkan, saya baru mendapat kepastian perjalanan saya batal justru sehari sebelum berangkat! Impian dan rencana-rencana saya kandas. Meski uangnya dikembalikan, butuh 2 minggu bagi saya untuk bisa menerima kenyataan. Jalan-jalan penghibur hati yang luka pun dibuat bersama sahabat-sahabat saya, yaitu pergi ke Gunung Bromo, menikmati pemandangan matahari terbit bertepatan dengan ulang tahun saya. Bromo begitu indah dan teman-teman saya begitu menyenangkan hingga bisa menghapus kekecewaan saya. Saya tak akan lupa waktu mereka dengan surprisenya menyanyikan Happy Birthday. It was the sweetest birthday I've ever had!

Saya tak kapok lagi membuat rencana jalan-jalan. Bersama teman-teman kantor, saya bersemangat pergi ke 3 ibukota negara ASEAN: Singapore, Bangkok dan Kuala Lumpur (akhirnya bisa ke Malaysia juga!). Dari semua pengalaman seru di sana, yang paling saya ingat justru peristiwa memalukan di Singapura: setengah mati mengejar kereta terakhir - berhasil masuk kereta - tapi stasiunnya kelewatan - akhirnya naik taksi juga - sama juga bo'ong dong!


Tak lama kemudian, teman kantor mengajak saya nonton konser Metallica di Perth. Buat saya, Metallica-nya gak penting (ooops!), tapi kata 'Perth' langsung membunyikan bel di kepala saya. Ya ampun, setahun lalu kan saya mau banget ke Australia. Dan setelah saya hitung-hitung, biaya pergi sendiri lebih murah daripada ikut agen travel. Akhirnya saya menantang teman saya, oke saya temenin nonton Metallica, tapi dia harus mau temenin saya backpacking setidaknya ke Sydney. Gak apa-apa deh saya ke Melbourne sendiri, soalnya ada sepupu di sana. Deal. Perjalanan ke Australia membuat saya sadar, ternyata seru juga yah nonton konser band kelas dunia (baca: Metallica) dan asyik juga melakukan perjalanan seorang diri di Melbourne (saya menginap di hostel, bukan di rumah sepupu).

Maka tanpa ragu, bulan Desember tahun lalu, saya pergi ke London sendiri untuk menonton konser 2 penyanyi favorit saya, Shakira dan Lady Gaga. Tanpa ragu pula, teman-teman dan keluarga besar menyebut saya 'GILA'. Karena waktu saya berada di London, Inggris mengalami musim salju terparah dengan suhu minus 8, salju dimana-mana hingga bandara Heathrow ditutup. Saya cemas kalau-kalau konser dibatalkan dan saya harus memperpanjang masa tinggal saya. Belum lagi begitu sampai di London, ibu mengabarkan kalau ayah masuk rumah sakit. Namun meski situasi sepertinya tidak menguntungkan bagi saya, sepertinya Tuhan memberkati perjalanan itu: kondisi ayah saya membaik, konser berjalan dengan lancar dan luar biasa, penerbangan pulang saya pun sesuai jadwal dan saya tiba di Jakarta dengan sehat selamat sentosa. Saya bersyukur mempunyai orang tua yang selalu mempercayai, mendukung dan mendoakan langkah saya, apapun kata orang tentang saya.

2 bulan kemudian, lagi-lagi saya melakukan perjalanan ke Ho Chi Minh Vietnam bersama sahabat-sahabat saya. Dibanding pergi sendiri, pergi bersama teman2 memang lebih menyenangkan dan lebih hemat karena bisa patungan: makan, transportasi, hotel, oleh-oleh (beli banyak, diskon lebih besar). Walau demikian, saya belum mengubur impian saya ke Eropa.


Kesempatan itu datang begitu ada promo dari Air Asia X untuk penerbangan ke Paris. Saya pun pesan tiketnya. Tapi saya masih trauma dengan kegagalan ke Eropa setahun sebelumnya. Karena itu saya tidak mau membuat rencana, hingga setidaknya 1-2 bulan sebelum saya berangkat. Keterbatasan dana dan waktu membuat saya memilih mengunjungi 2 negara saja: Prancis dan Italia. Alasan lainnya, saya ingin santai menikmati pemandangan, suasana dan kehidupan orang-orang di negara yang saya kunjungi. Saya tidak kuatir pergi sendiri, karena saya tahu saya akan selalu bisa menemukan teman dalam perjalanan saya. Di Paris, saya bertemu sahabat saya Ayla dan teman baru, Wisnu. Di Venesia, saya bertemu Iman dari Prancis. Di Florence, saya menikmati keindahan kota bersama turis dari Cina, Eva namanya, juga sekamar dengan Kate dari Taiwan. Saya pergi ke Siena bersama teman dari Polandia, Rafal. Dan terakhir, saya menikmati hari-hari saya di Roma bersama Nelly (Equador) dan Michel (UK).

Kata-kata 'semua akan indah pada waktu-Nya' benar adanya. Setahun lalu saya marah, kenapa sih gunung itu harus meletus? Tapi sekarang saya malah bersyukur saya tidak jadi ke Eropa waktu itu. Kalau jadi, saya mungkin tidak akan pergi merayakan ulang tahun paling berkesan di Gunung Bromo, lari-lari mengejar kereta di Singapura, menjadi fans Metallica gadungan di Perth, melihat langsung betapa cantiknya Shakira di London, menikmati harumnya kopi Vietnam, bertemu teman-teman baru dari berbagai bangsa, dan membiarkan diri tersesat di labirin kota Paris, Lourdes, Venesia, Florence, Siena dan Roma.


Waktu memandangi matahari terbenam di Venesia, saya teringat halaman-halaman buku yang saya baca waktu SMA. Tepat 10 tahun berlalu. Impian saya sudah terwujud. Saatnya membuat dan menggapai impian baru karena saya ingin hidup saya digerakkan oleh mimpi.

12 comments:

  1. kita hampir ketemuan di Amsterdam, sayang waktu itu perjalananmu di cancel .. ketika kamu kesana aku sudah balik di Indonesia langsung ke Bali. Europa memang indah untuk berjalan2 tetapi untuk tinggal disana sudah lain hal... lebih enak di Indonesia :)

    ReplyDelete
  2. Wow...cerita yang menarik dan bermakna. Paling tidak menabung biar bisa bepergian ke tempat yang diinginkan.

    ReplyDelete
  3. Rizferd: Waktu itu di-cancel krn gunung meletus, sedih banget saat itu karena udah bikin janji sama kamu, Ayla, Nano, Anthony, Hera. Memang lebih enak tinggal di Indonesia, duit 100ribu bisa dipake makan seminggu. Di Eropa buat sehari aja ga cukup :p

    CIAR: Selamat menabung dan semoga bisa sampai ke tempat impian. Amin. ;)

    ReplyDelete
  4. Maaf numpang, tapi bagus untuk di contoh. Seeepppppppppppp

    ReplyDelete
  5. kan kata Anggun, kalau punya mimpi jangan balik tidur lagi hahaha

    selamat ya Mbak, biasanya sih begitu impian udah tercapai, rasanya jadi gimana gitu, maksudnya tantangan2nya udah terlewati, n jadi berpikir ternyata ga seberat yg kita duga sebelumnya, dan ; contoh ; begitu udah sampe Eropa, ya udah, gitu aja (haha, ribet amat sih nulisnya), bisa jadi istimewa, tapi begitu dah dilewati ya udah gitu aja, apalagi misalnya saat di eropa ketemu juga dgn orang2 indonesia yang sudah tinggal lama disana, yg artinya mereka sudah melakukan perjalanan ini jauh sebelum kita melakukannya, ya perjalanan kita menjadi bukan sesuatu yg luar biasa, dan akhirnya membuat kita menjadi lebih legowo (hahaha, bisa jadi ini yg membuat Anggun selalu rendah hati saat datang ke Indonesia meski sudah kelas internasional)

    impian gw yg belum tercapai pengin liat menara Eiffel langsung, dan suatu ketika itu tercapai, ya sudah, done, gitu aja haha, dan akan membuat mimpi2 baru yg mungkin orang lain sudah jauh2 hari melakukan dan mendapatkannya

    selamat mengejar mimpi2 baru ...

    Charles

    ReplyDelete
  6. ADI: Gapapa kok numpang 'baca' disini :D

    Charles: Emang bener sih kata Trinity Traveler, setelah melakukan perjalanan ke LN, gue malah makin cinta ama indonesia. Soalnya ketemu orang dr berbagai negara, otomatis kita juga cerita yg baik2 ttg Indonesia. Mungkin Anggun juga berpikir begitu. Smoga mimpi manjat menara Eiffel-nya bisa kesampaian Mas ;)

    ReplyDelete
  7. Mau banget bisa ikutan jalan-jalan ke LN. Tapi masih dalam tahap "menanti kesempatan" ha.ha.. kalo sekarang sih lagi gencar cari modal jalan2 ke LN yg gratis, kayak ikutan kontes2 blog atau FB yg hadiahnya jalan2 ke LN .he.he. siapa taukan?
    Contohnya saya lagi ikutan kontes My Korea Winter Story di FB-nya Korea Tourism Organization Indonesia.

    Salam kenal ya, mampir juga ke blog saya.

    ReplyDelete
  8. Aji: Makasih info liburan gratis ke Korea-nya. Sering2 sharing info kayak gini ya. Apalagi kalo liburan gratis ke Turki. Beuh pengen banget! :)

    ReplyDelete
  9. wah keren banget bisa jalan2 kesana kemari!! rajin menabung banyak manfaatnya ya?

    ReplyDelete
  10. Popi: Iya dong. Menabung nya harus punya tujuan, biar semangat kerja dan nabung nya.

    ReplyDelete
  11. wahhh congrat ya mbakk
    haddeh setelah denger pengalamannya, impianku jadi menggebu-gebu neh, ternyata kita punya impian yang sama untuk yang satu ini, bedanya yg mbak sudah terwujud, yang aku masih harus menunggu waktu yang indah hehehhe do'akan ya :))
    oh ya, salam kenal :))
    ebi 18, bandung

    ReplyDelete
  12. Ebi: Mungkin sebelum melakukan perjalanan jauh ke Eropa, kamu juga harus melakukan perjalanan yg dekat2 dulu, buat latihan ;)

    ReplyDelete