Tuesday, December 13, 2011

Kembali ke Alam untuk Hidup Lebih Sehat

Pics: eugenedailynews.com
Bagaimana sih hidup selaras dengan alam? Bagi sebagian orang, termasuk saya, mendengar kata 'alam' pasti langsung membayangkan hidup di pedesaan, pegunungan atau tepi pantai. Tidak mungkin untuk hidup bersahabat dengan alam di perkotaan, terutama di Jakarta yang sumpek, macet, polusi, bahkan terkadang banjir. Makan pun di warung-warung hingga restoran yang menyajikan masakan enak namun belum tentu sehat.

Dalam suatu pertemuan Rotary Batavia Jakarta, saya berkesempatan memperoleh wawasan baru dari Gobind Vashdev yang datang dari Bali untuk membagi pengalaman dan kebiasaannya hidup dekat dengan alam. Penulis buku "Happiness Inside" dan seorang vegetarian ini juga memberikan tips-tips yang bermanfaat dan bisa dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Dari situ, saya baru menyadari bahwa walaupun hidup di perkotaan, kita masih bisa memberikan sumbangsih bagi lingkungan hidup kita, dimulai dari hal-hal sederhana. Seperti kata Bunda Teresa, "Tidak semua orang bisa melakukan hal-hal besar. Tapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar."

KURANGI MAKAN DAGING

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, disebutkan bahwa usia Nabi Adam dan keturunannya hingga zaman Nabi Nuh dapat mencapai ratusan tahun (Nabi Adam meninggal di usia 930 tahun dan Nabi Nuh di usia 950 tahun).  Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena pada zaman itu, manusia hanya makan buah-buahan dan kacang-kacangan sesuai dengan nubuat Kitab Kejadian 1:29 yang isinya:

"Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.""
Setelah bencana air bah dimana hampir semua tumbuhan mati, maka manusia mulai menternakkan dan mengkonsumsi daging binatang sebagai alternatif makanan. Sejak itulah umur hidup manusia semakin pendek. Anak cucu Nuh berumur rata-rata dibawah 500 tahun dan terus berkurang hingga berusia di bawah 100 tahun. Dalam Kitab Kejadian 9:2-4 tertulis:

"Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau."'

Pics: open.salon.com
Akan tetapi di jaman modern ini, dimana kubutuhan akan makanan meningkat seiring bertambahnya populasi dunia, peternakan berkembang pesat menjadi industri skala besar. Gobind menjelaskan bahwa peternakan adalah salah satu kontributor terbesar pemanasan global. Mengapa? Karena:
1. Untuk membangun peternakan dan sumber pakan ternak, hutan harus ditebang sehingga mengurangi sumber paru-paru dunia.
2. Kotoran ternak dalam jumlah besar mengandung metana dan mencemari udara dan perairan.
3. Perlakuan terhadap hewan ternak sendiri kadang tidak berperikebinatangan, mulai dari sapi yang digantung sebelum dipotong ataupun susu yang diperah dengan mesin.
4. Lahan peternakan yang luas sebenarnya bisa juga dijadikan lahan pertanian (padi, gandum, kentang, kacang-kacangan) yang bisa memenuhi kebutuhan konsumsi lebih banyak orang dengan harga lebih terjangkau.

Berkaitan dengan kesehatan, saya pun menceritakan hal ini kepada teman saya yang juga seorang dokter. Dia pun menjelaskan bahwa menjadi vegetarian memang lebih menyehatkan dan terbukti dapat membuat umur lebih panjang. Sayur-sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan merupakan antioksidan alami dan mampu menjaga keseimbangan kadar pH dalam tubuh kita. Adapun kadar pH yang normal adalah 7,35 - 7,45. Semakin asam, kadar pH menjadi di bawah 7,35 hingga 1. Sebaliknya, semakin basa kadar pH-nya antara 7,45 hingga 14.

Sebaliknya daging ayam, sapi, kambing, dan ikan yang diolah dengan cara digoreng atau dibakar justru meningkatkan kadar asam dalam tubuh. Itulah yang menyebabkan naiknya kolesterol jahat dan asam urat di tubuh kita. Karena itu perlu diimbangi dengan makan sayur-sayuran hijau dan buah-buahan yang cukup untuk meningkatkan kadar basa dalam tubuh.

Berkaitan dengan hal ini, Gobind menjelaskan tentang air basa yang memiliki kadar basa relatif tinggi hingga di atas 7. Air basa sangat baik untuk menetralkan kadar asam atau lebih jauh dapat menurunkan kolesterol jahat. Gobind lalu melakukan percobaan sederhana dengan menggunakan 3 jenis air: air oksigen (yang mengklaim mengandung oksigen), air minum biasa (merek terkenal) dan air basa. Ketiga jenis air itu diukur pH-nya dengan menggunakan pH tester sejenis bahan pewarna yang diteteskan ke masing-masing air. Hasilnya setelah diteteskan, air oksigen berwarna orange kekuningan (bersifat asam), air minum biasa berwarna biru muda (netral) dan air basa berwarna biru pekat (basa). Jadi jangan terkecoh dengan air oksigen yang harganya relatif lebih mahal ya.

Contoh air basa yang terkenal adalah air zamzam di Arab Saudi dan air Lourdes di Prancis. Dengan demikian tidak mudah mendapatkan air basa itu. Namun Gobind memberikan alternatif lain yang mudah didapat, yakni dengan mencampurkan air minum biasa dan air jeruk nipis. Meskipun air jeruk nipis rasanya asam, namun di dalam tubuh, ia bersifat basa.

Mengenai buah-buahan, Gobind menyarankan untuk mengkonsumsi buah lokal. Selain buah lokal lebih murah dan lebih segar, juga karena umumnya belum mengalami proses rekayasa genetik. Untuk menghilangkan pestisida, Gobind memberikan tips berikut. Rendam buah (dan sayuran) dalam campuran air hangat (tidak lebih dari 40 derajat Celsius, perasan jeruk nipis, dan garam dapur selama kira-kira sepuluh menit untuk melarutkan bahan pestisida di permukaannya. Kemudian bilas dalam air mengalir.

Saat ini saya belum bisa menjadi vegetarian seperti Gobind. Habis daging enak sih. Tapi setidaknya saya bisa mengurangi konsumsi daging dan menambah konsumsi sayuran dan buah.

Pics: geraigreen.blogspot.com
MEMBERSIHKAN DIRI DENGAN BAHAN ALAMI

Yang mengejutkan, Gobind ternyata tidak menggunakan sabun, shampo dan odol untuk membersihkan diri karena kuatir deterjen dalam produk-produk itu akan mencemari lingkungan. Sebagai gantinya, Gobind menggunakan garam kasar (sejenis garam mandi) untuk mandi dimana garam ternyata efektif untuk membunuh bakteri jahat, namun tidak melenyapkan bakteri baik di tubuh kita. Untuk keramas, Gobind menggunakan larutan biji larek yang kadang ditambahkan larutan bunga-bungaan supaya wangi. Sebelum bercukur, Gobind mengoleskan sari lidah buaya di wajahnya.

Bagaimana dengan gigi? Gobind sama sekali tidak menggunakan odol, hanya sikat gigi saja, kadang ditambahkan garam untuk membunuh kuman gigi. Lebih lanjut, Gobind menjelaskan bahwa kandungan pasta gigi malah lucu. Misalnya terdapat kandungan glucose yang sama saja dengan gula, itu kan merusak gigi. Atau fluoride, yang bisa mengurangi kemampuan organ perasa di bawah lidah kita.

Menarik. Saya jadi teringat cerita ibu saya kalau waktu kecil beliau menggunakan merang (batang padi yang dibakar) untuk keramas. Saya juga teringat aturan orang-orang Baduy Dalam, bahwa kalau mandi/mencuci tidak boleh menggunakan sabun agar tidak mencemari sungai. Orang-orang jaman dulu ataupun suku-suku terasing kadang memang lebih bersahabat dengan alam.

Tapi sepertinya tidak mudah bagi saya untuk mengikuti langkah Gobind yang ini. Karena bagaimanapun saya terlalu terbiasa dengan pakem "kalau tidak berbusa, sepertinya kurang bersih". Untungnya sudah ada beberapa perusahaan yang melirik bisnis 'hijau' ini di Indonesia. Salah satunya adalah Geraigreen Indonesia yang sudah memproduksi sabun Eco Soap berbahan utama minyak kelapa.

Pics: purseblog.com
KURANGI SAMPAH PLASTIK DAN KERTAS

Sampah plastik tidak mudah diurai dan bisa bertahan seratus tahun. Karena itu Gobind menyarankan untuk membeli botol minuman yang bisa dibawa kemana-mana. Botol itu bisa kita isi dengan air minum di rumah. Selain lebih hemat karena tidak perlu membeli air minum kemasan, juga dapat mengurangi sampah plastik. Memang sih kurang praktis, tapi mari kita lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Saya jadi teringat waktu saya kecil, saya biasa membeli produk minuman bersoda ukuran 1,5 liter dalam botol beling. Kalau sudah habis, botol beling itu bisa ditukar tambah dengan botol baru. Jadi harganya lebih murah dan tentu saja, tidak ada sampah. Tapi sekarang semua produk minuman menggunakan botol plastik untuk alasan kepraktisan. Memang sih, masih ada botol-botol beling tapi itu hanya dijual di toko atau warung.

Selain botol plastik, ada juga kantong plastik yang kerap diberikan pada saat kita berbelanja di supermarket atau toko. Bayangkan berapa ribu lembar kantong plastik diproduksi dan dibuang setiap tahunnya. Di Australia dan Inggris, orang-orang sudah 'aware' dengan sampah plastik ini dan tas 'go green' pun menjadi populer sebagai pengganti kantong plastik. Di Prancis, orang harus membayar kantong plastiknya setelah berbelanja. Duh, saya jadi teringat tas go green saya yang tidak pernah saya pakai. Baiklah, saatnya membawa tas go green kemana-mana!

Kertas. Tahukah Anda, berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan 1 ton kertas? 1 ton kertas membutuhkan 3 ton pohon. Hitung saja sendiri kira-kira berapa pohon yang harus ditebang, berapa hektar hutan yang harus kita korbankan? Memang saat ini, kita masih belum bisa menghilangkan sepenuhnya kebutuhan akan kertas. Tapi kita bisa memulainya dari langkah sederhana, seperti mengganti tisue dengan sapu tangan, mencetak dokumen bolak-balik, mendaur ulang kertas, dan sebagainya.

Mudah kan untuk melakukan ketiga hal di atas? ; )

Credits:
1. Gobind Vashdev (http://www.gobindvashdev.com) dan Kartika Damayanti
2. Rotary Batavia Jakarta
3. dr. Jurian Kaunang
4. GeraiGreen (http://geraigreen.blogspot.com)

8 comments:

  1. alam memang sudah menyediakan segalanya bagi kita, namun kebanyakan dari kita lupa untuk menjaga mereka, sehingga alam marah maka impaslah bila kita kena imbasnya, ;)

    ReplyDelete
  2. Ahir ahir ini banyak orang memang kurang dekat dengan alam... kurang bersahabat, saya tdk bermaksud sombong tapi saya sungguh orang yg peduli dengan Lingkungan sampah dan penghijauan.
    Membaca artikel diatas saya merasa makin beruntung n bersyukur krn saya ga suka daging. selain ngerasa ga enak kasian klo liat binatang disembelih hehehe... Hati ini terasa ga enak gimana gitu.
    ya... smoga dgn ini orang makin peduli dgn go green. mari ramai2 hijaukan kembali negeri ini.

    ReplyDelete
  3. Kalo bukan kita syapa lagi...........

    ReplyDelete
  4. Stupid monkey: Mari lakukan apa yg bisa kita lakukan :)

    Lilis T: Wah kamu vegetarian kah? Saya sih suka makan daging. Tapi sekarang lagi mengurangi dan memperbanyak makan sayur dan buah krn alasan diet dan kesehatan juga.

    ReplyDelete
  5. Vegetarian sih enggak, cuma.... ga suka aja Mba kecuali bener2 kepingin itupun cuma secuil alias sedikit..... ga mesti sebulan sekali. seafood jg ga suka rasanya kok berbau amis meskipun gizinya tinggi. Selera N Lidahku, Lidah Rakyat biasa sayur Tahu Tempe N Krupuk jadi deh... hehehe..

    Oklah Mba ika Sharingin apa yg Anda tau sering2 berbagi Ilmu dan pengetahuan karna itu jg sangat membantu.
    Bukankah kita tidak bisa menjadi bijaksana dgn kebijaksanaan orang lain, Tapi kita bisa
    berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. jadi bagikanlah apa yg anda tau.
    LET YOUR FINGERS CONTINUE TO DANCE.

    ReplyDelete
  6. Lilis: Bagus tuh selera makanmu, murah meriah dan bergizi hehehe

    ReplyDelete
  7. Ya..... Selera Rakyat kecil Mbakyu.....
    Xixixixi Monggo......

    ReplyDelete
  8. ijin copas mbak

    ReplyDelete