Friday, December 16, 2011

London: A December to Remember (Bag. 1)

Hari ini setahun yang lalu, saya berada di London dengan dua tujuan. Tujuan pertama adalah menonton konser Lady Gaga dan Shakira di O2 Arena. Yang kedua adalah mengelilingi kota London dan mengunjungi tempat-tempat historisnya. Bagi saya, kedua tujuan itu merupakan satu momen istimewa yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Kapan lagi bisa melihat konser 2 penyanyi paling terkenal dunia di suatu kota utama seperti London? Hanya saja, saat saya mengunjungi ibukota Inggris tersebut, cuaca sedang tidak bersahabat.

Pada hari pertama, cuaca kadang gerimis, kadang hujan, kadang cerah. Tidak tentu. Yang jelas, suhu udara begitu dingin antara 5 hingga di bawah nol derajat Celcius. Pada hari kedua dan ketiga, salju pun turun dengan lebatnya hingga membatalkan jadwal pertandingan Arsenal vs Stoke City yang ingin saya tonton. Namun buruknya cuaca tidak memudarkan antusiasme saya untuk menikmati jalanan kota London. 

Setelah setahun berlalu, saya mencoba mengingat kembali dan menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk jurnal. Bagi saya, hal terindah dari suatu perjalanan bukanlah tempat tujuan itu sendiri, melainkan orang-orang yang kita temui, hal-hal baru yang kita dapatkan, dan kejadian-kejadian yang kita alami. Saya dan jutaan turis berkunjung ke London dan mungkin membuat foto Big Ben yang mirip satu sama lain. Namun akan selalu ada faktor pembeda, seperti waktu, latar belakang, sudut pengambilan gambar, dan orang-orang di dalam foto tersebut. Perjalanan setiap orang tidak pernah sama.


London Underground - Tower Bridge on Thames River

Kamis, 16 Desember 2010

Tiba di bandara Heathrow, London pagi hari. Saya langsung menuju London Underground (stasiun kereta bawah tanah) dan membeli Oyster Card Weekly Zone 1-2 seharga 33 Poundsterling (Rp 495.000). Itu adalah kartu terusan kereta bawah tanah untuk periode seminggu. Karena saya tinggal di pusat kota London yang berdekatan dengan tempat-tempat wisata, maka saya membeli yang Zone 1 dan 2 saja. Tidak lupa, saya mengambil peta subway yang tersedia dekat loket. Perjalanan dari Heathrow ke stasiun London Bridge (5 menit dari hostel saya) memakan waktu sekitar 45 menit. Lumayan jauh, karena Heathrow berlokasi agak di luar kota London.

Yang menyebalkan adalah saya harus berganti kereta di stasiun Green Park. Masalahnya stasiun bawah tanah itu banyak naik-turun tangga dan saya membawa kopor yang maha berat. Tapi pria Inggris memang 'gentleman', ada seseorang yang membantu membawakan kopor berat saya ke atas tangga. Kebetulan wajahnya mirip milyuner Richard Branson, atau jangan-jangan memang dia ya? Itu bukan orang Inggris terakhir yang membantu saya. Ketika keluar stasiun London Bridge, saya yang buta arah hostel, dibantu oleh wanita keturunan Afrika yang menunjukkan arah dengan jelas. Kebaikan mereka menghangatkan hati saya di tengah dinginnya cuaca kota London.

Begitu tiba di hostel St. Christopher's Inn - Oasis (khusus female traveler) di Borough High Street, betapa terkejutnya saya ketika diberitahu petugas hostel bahwa lembaran 100 Poundsterling saya tidak berlaku lagi. Wah itu kan 'nyawa' saya selama di London. Dia menyarankan agar saya segera menukarkan uang tersebut ke kantor pos, sekitar 100 meter dari hostel, menyeberangi jembatan London Bridge di atas Sungai Thames.

Sesudah sarapan dan mandi, saya langsung menuju kantor pos. Namun saya sempat berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan Sungai Thames dan Tower Bridge di kejauhan, di tengah rintik hujan. Sesampainya di kantor pos, petugasnya berkata kalau jumlah lembarannya terlalu banyak dan sebaiknya saya tukarkan di Bank of England, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Gedung Bank of England berada di kawasan City of London, yang merupakan daerah pusat bisnis dan keuangan (seperti halnya Sudirman-Thamrin di Jakarta).

Di pintu masuk, tas saya diperiksa dan petugasnya dengan ramah bertanya ada keperluan apa. Saya tidak perlu mengantri lama, kasirnya dengan gaya elegan khas Inggris menanyakan saya membawa uang itu darimana dan berapa banyak. Tidak sampai sepuluh menit, urusan saya sudah selesai. Saya senang. Sebelum ke London, saya selalu berpikir orang Inggris itu angkuh, tapi ternyata tidak juga. Sejauh ini mereka cukup ramah kepada saya. 

The Monument - Museum of London - The Gherkin

Karena sudah kepalang basah (basah beneran karena hujan juga), jadi saya sekalian saja mengunjungi sepintas obyek wisata di dekat sana yakni: The Monument, St. Paul Cathedral, Museum of London, dan The Gherkin. The Monument adalah semacam tugu peringatan yang dibangun untuk mengenang Great Fire of London yang terjadi selama tiga hari di tahun 1666. Kita bisa naik ke puncaknya (seperti tugu Monas) dengan membayar 3 Poundsterling (Rp 45.000). St. Paul's Cathedral adalah gereja Anglikan (The Church of England) terbesar kedua di Inggris setelah Liverpool Cathedral dan merupakan tempat pernikahan Pangeran Charles dan Lady Diana Spencer tahun 1981.

Beberapa menit berjalan dari katedral, terdapat Museum of London yang di sekitarnya terdapat reruntuhan London Wall, peninggalan pendudukan tentara Romawi pada abad 2-3 Masehi. Reruntuhan Romawi tersebut tampak kontras dengan bangunan museum dan gedung-gedung perkantoran modern yang mengelilinginya. Saya terus mengayunkan langkah menuju gedung beralamat di 30 St. Mary Axe atau yang lebih dikenal dengan nama The Gherkin, karena bentuknya seperti mentimun. Begitu uniknya sampai-sampai Hollywood pun menjadikannya sebagai setting film-film seperti Basic Instinc 2, Harry Potter and Half Blood Prince, dan Match Point.

Saya sempat makan siang sejenak di EAT, sejenis kafe kecil yang menyajikan sandwich, salad, kopi, dan lain-lain. Kebanyakan pembelinya adalah orang-orang kantoran yang akan memakannya di taman atau di kantor mereka sendiri. Saya masih memiliki banyak waktu.

Karena keesokan harinya saya akan menonton konser Lady Gaga, saya pun memutuskan untuk melihat-lihat venue konser di O2 Arena, yang terhubung dengan stasiun North Greenwich. Bentuk The O2 Arena menyerupai tenda raksasa berbentuk bulat. Lokasi konser sendiri berada di tengah-tengah, dikelilingi oleh aneka restoran, kafe, minimarket, dan bahkan tempat bermain. Di dekat pintu masuk utama terdapat stand merchandise untuk menjual pernak-pernik konser. Venue konsernya memiliki beberapa pintu masuk. Setelah puas mengamati, sayapun meninggalkan tempat itu menuju hostel dengan Tube (kereta bawah tanah).


Merchandise booth O2 Arena - Lady Gaga Live

Jumat, 17 Desember 2010

Saya sarapan cukup banyak pagi itu, mengingat saya akan mengantri dan menonton konser Lady Gaga sampai malam. Sambil sarapan di restoran hostel, Belushi Cafee, saya menonton televisi. Rupanya lempar dart dan kriket merupakan olahraga yang populer di London. Seru juga melihatnya walaupun saya tidak paham aturan permainannya.

Saya tiba di O2 Arena sekitar pukul 13.00 dan terkaget-kaget melihat panjangnya antrian. Sebagian besar penonton konser Lady Gaga adalah anak-anak sekolah atau kuliah. Temperatur udara saat itu mencapai 3 derajat Celcius, tapi beberapa penonton wanita cuek saja walau hanya memakai stocking jala dan jaket tipis. Sebagian membawa selimut tebal untuk dipakai beramai-ramai. Menarik sekali melihat perilaku penggemar Lady Gaga atau Little Monsters ini. Ada yang membuat tato temporer berbentuk bintang di wajahnya, membuat poster, bahkan ada yang menelanjangi dan menato Barbie untuk diberikan kepada Lady Gaga.

Para Little Monsters pun cukup ramah kepada saya. Penting sekali untuk berkenalan dengan mereka, supaya bisa menjagai antrian selama saya ke toilet ataupun membeli makanan. Semakin sore, suhu udara semakin dingin tak tertahankan. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat para penggemar wanita cuma berstocking ria. Saya yang sudah pakai baju berlapis-lapis saja masih menggigil kedinginan. Ketika ditanya apakah mereka tahan walau kedinginan, mereka menjawab dengan semangat, "Of course! We are little monsters!" Wew!

Sekitar pukul 17.00, petugas pemeriksa tiket muncul dan mendatangi kami satu per satu. Mereka men-scan barcode dari print-out tiket online saya dan memakaikan gelang penanda ke tangan saya. Gelang itu terkunci dan tidak mudah dilepaskan. 2 jam kemudian, pintu masuk dibuka dan para penonton pun berhamburan mencari tempat kosong yang terdekat dengan panggung. Meskipun saya sudah mengantri 6 jam, tetap saja masih ada 3-4 orang berdiri di antara saya dan panggung konser, mana mereka jangkung-jangkung pula. Tapi tak apa, posisi saya sudah lumayan dekat kok.

Selama menunggu konser dimulai, saya melihat-lihat sekeliling venue. Luar biasa rasanya melihat sekitar 20.000 penonton memenuhi O2 Arena. Tulisan mengenai konser Lady Gaga dapat dilihat disini.
Sepulang konser, saya dan ribuan penonton berbondong-bondong menuju stasiun North Greenwich. Saya terkejut melihat adanya tumpukan tipis salju yang rupanya sempat turun selama konser berlangsung. Begitu tiba di hostel, barulah salju turun dengan lebatnya. Dari balik jendela, saya terkesima memandang jalanan kota yang mulai memutih.


Waterloo Station - London Eye

Sabtu, 18 Desember 2010

Esoknya. Setelah salju turun, temperatur menjadi minus 3-6 derajat Celcius. Saya pun menambah satu lapis pakaian saya menjadi 5 lapis. Karena hostel dan Belushi Cafee terpisah, saya harus berjalan kaki 5 menit demi sarapan dan minuman hangat. Dinginnya menusuk, telinga berdengung dan hidung pun berair. Di kafe, sesudah sarapan, saya lalu menyeduh Pop Mie made in Indonesia. Orang-orang pun memperhatikan saya. Ngiler kali ya.

Setelah merasa siap mental menghadapi dinginnya dunia luar, saya pergi ke Waterloo Station dengan menggunakan Tube (kereta bawah tanah). Waterloo Station adalah stasiun tersibuk di Eropa. Kereta yang menghubungkan Inggris dan daratan Eropa, Eurostar, berlabuh di sini. Konon, pihak Prancis pernah menyurati Perdana Menteri Inggris untuk mengganti nama stasiun karena mengingatkan akan kekalahan Napoleon melawan Inggris dalam Battle of Waterloo. Namun permintaan tersebut ditolak. Sebagai balasannya, pemerintah Prancis menamakan salah satu stasiun keretanya (Metro) di Paris, Gare d'Austerlitz, untuk mengenang wilayah dimana Napoleon meraih kemenangan terbesarnya.

Di dekat Waterloo Station, terdapat London Eye, komidi putar terbesar di Eropa, untuk menikmati pemandangan kota London dari atas. Harga tiketnya sangat menguras kantong, yakni 29 Poundsterling (Rp 435.000). Saya sih cukup puas dengan foto-foto di bawahnya dan membelakangi gedung parlemen dan Big Ben di seberang Sungai Thames.

Emirates Stadium - Residence near Arsenal Station

Berhubung saya ingin merasakan atmosfer pertandingan Liga Inggris, saya pun pergi ke Emirates Stadium yang rencananya mempertandingkan Arsenal dan Stoke City pk 15.00. Sayangnya, karena salju tebal hingga 10 cm, pertandingan tersebut dibatalkan dan stadion ditutup untuk umum. Jadilah saya mengelilingi luar stadium megah itu, melihat-lihat toko merchandise resmi Arsenal, juga bermain dan melempar bola salju. Ternyata salju itu lebih halus daripada es serut dan kalau dipegang malah tidak begitu dingin lho.

Emirates Stadium berlokasi agak di pinggiran kota, berdekatan dengan lokasi perumahan dan stasiun Arsenal. Jadilah saya berjalan-jalan di sekitar perumahan tersebut. Atap-atap rumah, mobil, jalanan, semak-semak, semuanya diselimuti salju tebal. Putih salju di mana-mana.

Saya pun memutuskan pulang dan makan malam di Belushi Cafe. Rupanya kalau malam, restoran itu menjadi bar. Sepertinya ada acara istimewa karena hampir semua pengunjung bar, pria maupun wanita, memakai kostum Santa Claus. Nuansa Natal menjadi semakin terasa. Ho ho ho...

Bersambung.....

8 comments:

  1. Bener bener Nekad ne Mbakyu......
    Hebat Mba Ika, Salud deh.... Ini baru seperti kata Walt Disney "kalo Anda dapat memimpikanya maka Anda dapat mewujudkanya"
    Traveling anda keliling Dunia bener2 Luar Biasa Emm............ Banyak Duit donk pastinya. hehehe... Ok. cerita yg bagus n menarik. Bener2 pemberani MONE Abis...!!! Xixixixi...
    Baiklah silahkan dilanjutkan Monggo..............

    ReplyDelete
  2. Lilis: Hahaha saya nabungnya udah lama banget, dari zaman sekolah. Terus nabung di Logam Mulia. Syukurlah sebagian bisa digunakan untuk membiayai dan mewujudkan mimpi-mimpi saya.

    ReplyDelete
  3. Bener donk kata penanyi cilik itu.
    bank bink bunk yuk..... Kita Nabung.
    PROFISIAT Deh....

    ReplyDelete
  4. ika...ditunggu kelanjutan ceritanya :)
    (monic-recis... masi inget kan? :D )

    ReplyDelete
  5. Monik yg kosnya dekat kos gue? Bagian 2nya udah muncul lho :)

    ReplyDelete
  6. iya yg kos nya deket recis situ :D

    ReplyDelete
  7. Tulisan yang menarik terutama si Richard Branson itu... Hehehe

    ReplyDelete
  8. Monik: Haloooo apa kabar??? Udah merit ya? :D

    Cut Ayu: Sampe skarang kepikiran lho, itu Mr. Branson atau mirip doank :D

    ReplyDelete