Monday, December 19, 2011

London: A December to Remember (Bag. 2)

Waktu kecil, saya pernah bercita-cita menjadi arkeolog. Favorit saya adalah mata pelajaran sejarah. Senang banget waktu sekolah diajak dharmawisata ke museum, candi, dan peninggalan sejarah lainnya. Saya juga menyukai novel-novel Agatha Christie, yang suaminya seorang arkeolog, yang terkadang menyisipkan sedikit bumbu arkeologi dan sejarah dalam cerita detektifnya. Komik favorit saya sepanjang masa adalah Master Keaton, detektif asuransi yang juga dosen arkeologi.

Maka ketika merencanakan pergi ke London, The British Museum menjadi tempat yang wajib saya kunjungi. Saya mengalokasikan waktu satu hari hanya untuk melihat koleksi di museum itu saja. Namun, waktu satu hari itu ternyata tidak cukup. Mungkin butuh 3-4 hari untuk bisa melihat semua koleksi di salah satu museum terbesar di dunia itu.

Minggu, 19 Desember 2010

Saya bangun pagi dengan penuh semangat, sarapan dengan cepat, membaca sekilas berita tentang bandara Heathrow yang ditutup karena salju melalui Blackberry. Sesaat muncul rasa khawatir. Tapi saya tepis rasa itu, biarlah salju turun seharian, toh saya akan berada di dalam gedung The British Museum dari pagi sampai sore.

Saya harus ganti kereta 3 kali menuju stasiun Russel Square dan berjalan kaki kira-kira 15-20 menit, melewati taman dan flat apartemen untuk sampai ke The British Museum. Jalanan sepi, siapa juga yang mau keluar dingin-dingin di pagi hari Minggu. Meski demikian, belasan turis berjalan kaki ke arah museum dengan semangat '45. Yang menyenangkan adalah kita bisa masuk museum dengan gratis. Kotak besar donasi tersedia di pintu masuk bagi yang ingin menyumbang dana pemeliharaan. Museum juga menyediakan fasilitas audio guide portable yang bisa disewa seharga 5 Poundsterling (Rp 75.000).

Satu kesalahan yang saya lakukan sejak awal adalah tidak mempelajari dulu denah museum dan judul koleksinya. Maklum, saking excited-nya. Padahal dengan mengetahui denah dan judul koleksi, kita dapat menyeleksi bagian mana yang mau kita lihat lebih dahulu dan memperkirakan alokasi waktu yang diperlukan. Bayangkan saja, bangunan museum terdiri dari 3 lantai, yakni: Lower Floor, Ground Floor, dan Upper Floor dengan total koleksi lebih dari 8 juta item! Mabok gak sih?!

Lower Floor menyimpan koleksi dari Afrika, Romawi dan Yunani Kuno, serta ruangan studio atau theater. Ground Floor berisi peninggalan sejarah dari benua Amerika, Asia, Timur Tengah, Mesir Kuno, Romawi dan Yunani Kuno, serta sejarah awal berdirinya museum. Rupanya Upper Floor menampung sebagian koleksi yang tidak muat di Ground Floor, ditambah dengan peninggalan Eropa, jam dinding dan jam tangan antik, dan juga koleksi uang kuno dari berbagai negara.


The British Museum Hall - Indonesian Collection - Antique Clock
Ruangan pertama yang saya masuki adalah ruangan 'Enlightenment' yang pada dasarnya berisi koleksi-koleksi awal museum yang dikumpulkan pada abad 18-19. Di ruang 'Asia', saya bangganya luar biasa melihat koleksi dari Indonesia, walau cuma seiprit. Cuma ada patung kepala dan badan Buddha, prasasti, patung-patung kecil, infografis tentang Borobudur, serta dinding ukiran besar dari Bali. Begitu pentingnya dinding Bali itu, sampai-sampai pihak museum memasukkan barang sebesar itu ke dalam kotak kaca. Namun yang menjadi favorit saya adalah ruang 'Clocks and Watches' karena ada jam-jam antik serta contoh mekanisme kerjanya.

Jika lapar dan haus, kita bisa pergi ke kantin di lantai dasar. Untuk kenang-kenangan, kita bisa berbelanja suvenir berupa t-shirt, go green bag, mug, kalender, gantungan kunci, dan lain-lain, juga di lantai dasar. Harganya lumayan mahal, jadi saya memutuskan tidak membeli apa-apa.

Hari baru menunjukkan pukul 3 sore. Saya masih ingin berada lebih lama disana sebenarnya. Tapi berhubung mata sudah pedih dan otak sudah gosong karena melihat koleksi yang bejibun banyaknya, saya memutuskan untuk pergi. Perut juga sudah lapar. Untungnya di dekat pintu gerbang museum, ada tukang hotdog seharga 2.5 Poundsterling (Rp 37.500). Sehabis makan, saya masuk ke toko suvenir di seberang museum. Ada juga suvenir berupa kondom yang tulisan di bungkusnya lucu-lucu, seperti (kalau tidak salah) "Do U love my London Tower?". Harga suvenir termurah adalah 1.5 Poundsterling (Rp 22.500) untuk gantungan kunci. Wew! Maaf ya teman-teman, saya tidak sanggup membelikan oleh-oleh untuk kalian.

Malamnya saya mencoba restoran kebab Turki di dekat stasiun London Bridge. Astaga, itu kebab benar-benar untuk porsi bule, gede bener! Harganya 7 Poundsterling (Rp 105.000). Sayang, kalau setengahnya dibuang begitu saja. Jadi sebagian saya simpan untuk keesokan hari.
Khusus untuk penonton VIP - Shakira on Stage

Senin, 20 Desember 2010

Hari ini adalah jadwal konser Shakira di O2 Arena. Namun, berita bandara Heathrow ditutup akhirnya benar-benar merisaukan saya. Sebab setahu saya, malam sebelumnya Shakira sedang konser di Glasgow, Skotlandia. Bagaimana dia bisa ke London kalau bandaranya ditutup? Saya mencari info di fansite dan twitter Shakira, tapi tidak ada berita sama sekali. Saya pun berangkat ke O2 Arena dengan kekhawatiran bahwa konsernya akan ditunda.

Saya tiba di O2 Arena sekitar pk 11.30, lebih awal dari saat saya antri masuk ke konser Lady Gaga, karena kali ini, saya ingin berada di barisan terdepan. Saat itu, sudah ada sekitar 15 orang yang antri di depan saya. Berbeda dengan penggemar Lady Gaga yang rata-rata masih ABG, usia penonton yang antri konser Shakira lebih dewasa, antara 20-30 tahun. Karena itu pula, antrian penonton tidak seramai konser Lady Gaga sebab rata-rata masih bekerja di siang hari. Mungkin karena itu pula, saya lebih nyaman dan nyambung mengobrol dengan sesama penggemar Shakira, Lindsey dan Al. Ada juga Jack yang aksen Inggrisnya medok banget. Begitu nyambungnya, kami pun meneruskan pertemanan kami via Facebook.

Meski demikian, saya masih khawatir dengan keberlangsungan konser tersebut. Sampai akhirnya sebuah truk tronton bergambar Shakira memasuki O2 Arena, membawa properti konser, saya pun bernapas lega. Belakangan saya baru tahu kalau Shakira naik kereta dari Glasgow ke London saat bandara ditutup.

Menjelang sore, antrian semakin panjang di belakang saya. Beberapa di antara mereka membawa bendera Kolombia, negara asal Shakira. Saya sempat mengobrol dengan mereka, menanyakan apakah mereka dari Kolombia dan dijawab, "Bukan". Hahaha. Boleh dibilang Shakira telah mengharumkan nama Kolombia yang dulu lebih dikenal sebagai negara kartel narkoba. Bukan cuma lewat musik, tapi juga lewat pendidikan. Ia adalah pendiri yayasan Pies Descalzos (atau Barefoot Foundation) yang sudah membangun 6 sekolah gratis untuk anak-anak miskin Kolombia.

Pukul 5 sore, petugas ticketing pun muncul untuk men-scan tiket dan memasangkan gelang khusus. Dua jam kemudian, pintu masuk dibuka dan penonton pun berebutan mencari posisi paling depan. Seperti halnya Lady Gaga, konser Shakira pun dipadati sekitar 20 ribu orang. Range usia penonton Shakira juga sangat beragam, mulai dari anak kecil hingga orang tua paruh baya yang mungkin sudah mengenal Shakira sejak baru populer di Amerika Latin.

Kali ini, saya akhirnya dapat posisi terdepan yang memang menjadi incaran saya. Rencananya Shakira akan masuk dari area Festival, di antara kerumunan fans. Jalan yang akan dilewati Shakira dibatasi dengan tali dan dijaga sejumlah petugas pengamanan. Nah, saya berdiri persis di samping pintu masuk Shakira menuju panggung. Shakira akhirnya memasuki venue sambil menyanyikan lagu lawasnya 'Pienso en Ti'. Wow cantiknya! Tulisan mengenai konser Shakira bisa dilihat disini.

Shakira menutup konsernya dengan lagu 'Waka Waka' dan confetti pun berterbangan. Meski sudah usai, lagu Loca bergema dari pengeras suara dan banyak penonton Festival yang belum mau meninggalkan venue. Mereka berdansa dan menerbangkan confetti di lantai. Sebagian malah membawa pulang kertas-kertas confetti itu, termasuk saya. Norak ya?

The Serpentine Hyde Park - CD Anggun di HMV Oxford Street - Big Ben - London Eye
Selasa, 21 Desember 2010

Pagi itu, setelah mengecek berita dibukanya kembali bandara Heathrow untuk penerbangan internasional, fans Shakira dari Polandia meng-email saya, memberitahu kalau Shakira menginap di Mandarin Oriental dekat Hyde Park. Lha memangnya saya stalker, mengikuti Shakira kemanapun dia pergi? Tapi akhirnya saya pergi juga kesana hehe. Sekalian saya juga mau ke Hyde Park, taman terluas di London.

Ternyata Mandarin Oriental adalah hotel yang benar-benar eksklusif, lobinya sangat kecil untuk melindungi privasi para tamunya. Jadi saya langsung mengayunkan langkah ke Hyde Park di belakang hotel tersebut. Taman itu terdiri dari beberapa bagian. Ada area untuk taman bermain anak-anak 'Winter Wonderland'. Ada pula danau besar bernama The Serpentine, dimana angsa-angsa dengan anggunnya berenang. Tempat yang sangat nyaman untuk duduk-duduk sambil membaca dan minum segelas kopi.

Bosan bengong di Hyde Park, saya pun naik Tube ke Oxford Street. Bisa dibilang Oxford Street adalah daerah pusat perbelanjaan seperti halnya Dago di Bandung atau Champs Elysees di Paris. Tujuan utama saya adalah music store HMV, mencari dan menemukan CD-CD berbahasa Spanyol Shakira dan CD titipan sahabat saya. Iseng-iseng saya ke bagian CD Import di lantai bawah dan betapa senangnya ketika melihat CD Prancis Anggun yang Elevation. Tapi harganya mahal sekali, 20 Poundsterling (Rp 300.000).

Setelah melihat-lihat toko di sekitarnya, saya pun melanjutkan perjalanan dengan kereta ke stasiun Westminster. Di dekat stasiun itu ada Big Ben, Parliament Square, dan Westminster Abbey. Saya berada tepat di bawah Big Ben ketika jam itu berdentang menunjukkan pukul 5 sore. Namun hari sudah gelap, mengingat saat itu adalah musim dingin. Big Ben merupakan bagian dari gedung parlemen Inggris. Di seberang pintu masuk Houses of Parliament itu, terdapat Parliament Square, di mana terlihat kemah-kemah para pemrotes perang Irak. Wah hebat, dingin-dingin begini mereka malah berkemah.

Di sisi kiri Parliament Square, Westminster Abbey terlihat kokoh berdiri. Gedung itu merupakan gereja Inggris dan tempat resmi Kerajaan Inggris untuk memahkotai, memakamkan dan menikahkan raja/ratunya. Pangeran William dan Kate Middleton pun menikah di sini. Saya lalu berbalik arah menyeberangi Westminster Bridge, memandangi London Eye yang terlihat seperti tiara menghiasi langit London. Musik Skotlandia yang dimainkan pengamen jalanan mengiringi pemandangan malam itu. Malam terakhir saya di London.

5 comments:

  1. WoW........ Shakira cin... gila banget keren pastinya. menarik sekali, ga cukup hanya dengan mimpi dan keberanian tuk mewujudkanya, butuh banyak Materi pastinya secara.....gitu loh, LONDON kota termahal didunia.
    Selamat deh sudah sampai sejauh itu berpetualang.
    dasar Bolang hehehe.... Just kidding mbakyu..
    Ok, ini aja mampir komentnya.

    ReplyDelete
  2. ga sempat ke science dan V&A museum, ya...

    ReplyDelete
  3. Lilis: Hehehe nabung bung.

    Iwan: Wah saya gak rencana ke situ. Bagus ya museum-nya?

    ReplyDelete
  4. Sempet Ke Little venice? ada miniatur kanal venesia di london namanya Little venice....ada diantara stasiun tube nothing hill n warwick avenue..bagi yg stay di UK tapi terkendala visa dan doku bisa mengunjungi little venice di weekend...(cuma buka pas weekend soalny)

    ReplyDelete