Wednesday, January 18, 2012

Bulu Babi, dari Sampah menjadi Emas

Pics: www.bbc.co.uk
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lebih dari 17.000 pulau yang terbentang sepanjang garis khatulistiwa. Sebagai negara maritim, tentu saja Indonesia mempunyai potensi kekayaan laut yang luar biasa. Bahkan kita memiliki keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia, setelah Brazil. Namun sayangnya, kita belum memaksimalkan potensi bahari kita karena kurangnya dukungan pemerintah, rendahnya pengetahuan, belum tingginya semangat kewirausahaan, dan sebagainya. Komoditas ekspor utama kita masih dari sektor perminyakan, pertambangan, perkebunan, kayu, dan tekstil.

Saat ini, pengembangan potensi perairan lebih banyak difokuskan pada wisata bahari dan industri perikanan. Ikan laut sudah lama diketahui memiliki kandungan protein tinggi dan merupakan komoditas utama. Namun, selain ikan, udang, kepiting, dan lain-lain, laut kita juga sebenarnya memiliki potensi lain, seperti rumput laut, kuda laut, bulu babi atau landak laut yang seringkali dianggap tidak menguntungkan. Pandangan seperti itu terjadi karena rendahnya pengetahuan masyarakat bahkan pemerintah sendiri akan manfaat dan nilai ekonomi hewan-hewan laut tersebut.

Wednesday, January 11, 2012

Kisah Bocah Penjinak Angin dari Afrika

(Pic: ulas-buku.blogspot.com)
Membaca buku ini, membuka mata saya bahwa betapa beruntungnya saya hidup di Indonesia. Afrika adalah benua yang serba kekurangan, tanah yang sebagian besar tandus, musim kering yang panjang, serta penduduk yang mayoritas memiliki fanatisme kesukuan. Selalu ada kisah sedih dari Afrika, entah itu yang disebabkan oleh bencana kelaparan, wabah penyakit, ataupun perang antar-etnis.

Namun selalu ada setitik embun di tengah padang pasir. Dalam buku ini, embun itu bernama William Kamkwamba. Seorang bocah Malawi miskin yang tinggal di desa kecil bernama Masitala, dekat kota Kasungu. Kekeringan dan gagal panen chimanga (jagung) di tahun 2002 yang melanda negeri itu, membuatnya terpaksa putus sekolah karena ayahnya tidak punya panen untuk dijual.

Gagal panen juga sama artinya dengan bencana kelaparan. Di tahun itu, konon bencana kelaparan telah membunuh ratusan penduduk Malawi. UNICEF memperkirakan ada 46 ribu anak Malawi yang kekurangan gizi. Saat itu William masih 14 tahun.

Saturday, January 7, 2012

Gaya Hidup Sehat ala Adventist

Pics: www.newstart.com
 "Orang sering kali mengorbankan kesehatan demi mencari uang. Tapi kemudian, mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesehatan."

Itulah ironi yang sering terjadi. Makan fast-food, makan tidak teratur, kurang istirahat, stress, terpapar polusi, kurang berolahraga adalah bagian dari keseharian kita. Sulit menghindari itu semua, karena tuntutan pekerjaan yang sangat menyita waktu. Barulah ketika sakit, kita memperhatikan makanan yang kita makan dan beristirahat lebih lama dari biasanya. Padahal, bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Untunglah, kini makin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan, mulai rajin makan buah dan sayur, pantang makanan tertentu, ikut fitness, atau bersepeda ke kantor.

Ternyata beberapa agama juga mengatur tentang bagaimana menjaga kesehatan itu. Di agama Islam, nabi Muhammad mengajarkan, "Makanlah jika lapar dan berhentilah sebelum kenyang." Agama Buddha dan Hindu menjadikan meditasi sebagai bagian dari doa dan keseimbangan hidup. Agama Kristen-Advent menganjurkan penerapan gaya hidup NEW START. Lho, apa itu?

Sunday, January 1, 2012

Indonesia Raya pun Berkumandang di Konser Kantata Barock

Kantata Barock adalah sebuah nama yang saya tahu tapi tidak saya kenal. Saya tahu Iwan Fals. Saya tahu Setiawan Djody. Saya juga tahu Kantata Takwa. Saya tahu mereka dari artikel-artikel musik yang saya baca. Katanya, mereka adalah legenda musik Indonesia. Tapi saya tidak pernah mengenal karya-karya mereka. Satu-satunya lagu Iwan Fals yang saya tahu adalah 'Kumenanti Seorang Kekasih', sebuah lagu kenangan ketika SMA.

Mungkin karena wawasan dan selera musik saya memang 'ecek-ecek' sebagai akibat komersialisasi lebay musik pop, cengeng, alay, dan lipsync di industri musik kita. Hmm...jangan salahkan saya kalau begitu. Atau juga karena dunia saya yang 'adem-adem' saja, jauh dari dimensi perjuangan dalam lirik-lirik lagu mereka. Sayang, saya tidak bisa menjadikan perbedaan generasi sebagai alasan berikutnya, karena faktanya sebagian penonton konser Kantata Barock di GBK adalah remaja! Dan mereka hapal beberapa lagu lawas yang mungkin lahir sebelum mereka diciptakan, luar biasa!