Sunday, January 1, 2012

Indonesia Raya pun Berkumandang di Konser Kantata Barock

Kantata Barock adalah sebuah nama yang saya tahu tapi tidak saya kenal. Saya tahu Iwan Fals. Saya tahu Setiawan Djody. Saya juga tahu Kantata Takwa. Saya tahu mereka dari artikel-artikel musik yang saya baca. Katanya, mereka adalah legenda musik Indonesia. Tapi saya tidak pernah mengenal karya-karya mereka. Satu-satunya lagu Iwan Fals yang saya tahu adalah 'Kumenanti Seorang Kekasih', sebuah lagu kenangan ketika SMA.

Mungkin karena wawasan dan selera musik saya memang 'ecek-ecek' sebagai akibat komersialisasi lebay musik pop, cengeng, alay, dan lipsync di industri musik kita. Hmm...jangan salahkan saya kalau begitu. Atau juga karena dunia saya yang 'adem-adem' saja, jauh dari dimensi perjuangan dalam lirik-lirik lagu mereka. Sayang, saya tidak bisa menjadikan perbedaan generasi sebagai alasan berikutnya, karena faktanya sebagian penonton konser Kantata Barock di GBK adalah remaja! Dan mereka hapal beberapa lagu lawas yang mungkin lahir sebelum mereka diciptakan, luar biasa!

Baiklah, saya tidak tahu lagu-lagu Kantata Barock, Kantata Takwa ataupun Iwan Fals. Lantas mengapa saya hadir di konser mereka malam itu? Jawabannya cuma satu: rasa ingin tahu. Saya penasaran sehebatkah apakah musik mereka hingga mereka sanggup bertahan hingga lebih dari dua dekade dan layak disebut legenda. Terakhir, saya penasaran bagaimana sih rasanya menonton konser rock di stadion sepak bola terbesar di Asia Tenggara. Tentu saja, saya lebih suka merasakan atmosfer konser dari kejauhan (Tribun Atas) daripada setengah mati berada di tengah himpitan ribuan manusia di kelas Festival. Saya tidak bermaksud membicarakan perbedaan 'kelas' di sini.

Sebelum datang ke konser, saya sempat mencari tahu dan melihat penampilan Kantata Takwa di Youtube. Ada lagu Bongkar, Hio, Balada Pengangguran, dan Kesaksian. Sepertinya sih menjanjikan, karena saya ternyata menyukainya. Meski pada akhirnya selama konser, tetap saja saya terus bertanya pada teman atau penonton lain tentang lagu yang sedang dimainkan.

Karena itu, dalam review konser ini, saya merasa tidak 'layak' untuk membicarakan tentang aspek musikalitas. Biarlah aspek itu dibicarakan oleh orang-orang yang lebih paham dan mengetahui sejarah di balik lagu-lagu tersebut. Meski demikian, saya bisa menceritakan sisi lainnya yang juga cukup menarik.

KONSER KANTATA BAROCK
30 Desember 2011
Gelora Bung Karno, Jakarta



Layout konser (sumber: Rajakarcis.com) - Lapangan rumput dipagari

Tiba di Gelora Bung Karno sekitar pk 17.00. Sudah ada ratusan penggemar, umumnya penggemar Iwan Fals, sambil membawa bendera OI (Orang Indonesia) di sekitar arena GBK. Tapi anehnya, hanya puluhan orang yang mengantri di beberapa pintu masuk. Bahkan di gate sektor 23 untuk Tribun Atas, saya dan teman-temanlah kelompok pertama yang mengantri. Tadinya saya mengira akan ada ratusan penonton yang antri, mengingat semua Gate dibuka jam 5 dan konser akan dibuka oleh band Kotak sejam kemudian.

Saya jadi bertanya-tanya. Di konser Metallica di Perth yang saya hadiri dua tahun lalu, ratusan penonton Festival sudah mengantri sejak 3-4 jam sebelumnya. Bahkan di konser penyanyi pop Shakira dan Lady Gaga di London, ratusan penggemar sudah antri 6-8 jam sebelum pintu dibuka. Semua penggemar sejati umumnya ingin berada di paling depan dan paling dekat dengan idolanya. Hanya puluhan OI yang mengantri, tentu tidak sebanding dengan kapasitas stadion GBK yang begitu besar. Mungkin saya salah, karena saya sudah berada di Tribun Atas sejak pukul 5 itu. Mungkin para OI masuk dari pintu-pintu yang tidak saya lewati.

Layout area Festival juga agak aneh, karena menempati lintasan lari yang mengelilingi lapangan sepakbola. Lapangan hijau tersebut ditutup oleh pagar setinggi orang dewasa. Mungkin pihak stadion tidak ingin rumputnya rusak diinjak-injak oleh penonton. Tapi kan jadinya lucu, masa area penonton konser rock, bagian tengahnya kosong melompong. Di Tribun Atas, jumlah penonton juga sedikit, hanya sekitar 100-an orang. Itupun termasuk 20-25 petugas keamanan.

Panggung utama dilengkapi dengan LCD raksasa di bagian tengah panggung dan 4 LCD berukuran lebih kecil. LCD raksasa itu untuk menampilkan animasi, sedangkan yang lebih kecil untuk menampilkan close-up. Terdapat atap untuk melindungi para personel dan alat-alat musik dari kemungkinan hujan. Panggung itu juga dipasangkan puluhan peralatan lighting. Hanung Bramantyo adalah sang penata panggung tersebut. Konser tersebut juga akan diabadikan dalam bentuk video oleh Eros Djarot.

Aksi OI dengan bendera

Perlahan, ribuan penonton mulai memasuki arena Festival. Terjadi insiden bendera di mana beberapa OI menurunkan Sang Merah Putih dengan maksud untuk mengibarkan bendera OI di bawah bendera pusaka. Aparat keamanan pun berlari menuju tiang bendera dan terjadi aksi tarik-menarik. Kondisi mulai memanas hingga akhirnya OI mengalah, menurunkan bendera keramat mereka. Namun tidak lama berselang, mereka beralih ke tiang bendera yang mengibarkan bendera promotor AIRO. Mereka menurunkan bendera tersebut dengan terburu-buru sampai-sampai talinya putus. Tapi ada salah seorang OI yang nekat memanjat tiang tersebut dan mengibarkan bendera OI walau ia hanya sanggup memanjat hingga ke tengah tiang. Aksinya itu mengundang tepuk tangan riuh penonton.

Hari mulai gelap dan gerimis pun turun. Ribuan penonton Festival dengan cepat (dan nakalnya) melompati pagar pembatas lapangan hijau dan menginjak-injak rumput lapangan sepakbola itu. Sia-sia sudah usaha PSSI untuk melindungi aset mereka. Pukul 18.30, konser pun dimulai, diawali dengan dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sontak, semua penonton Tribun Atas berdiri. Ajaibnya, gerimis pun berhenti. Cuaca di GBK cukup cerah meski dikabarkan hujan mengguyur beberapa wilayah Jakarta.

Band Kotak lalu membuka konser, diawali dengan aksi solo nan memukau sang drummer. Total 6 lagu yang mereka tampilkan dan berhasil memanaskan para penonton, meski yang dimainkan bukan lagu-lagu hit mereka. Kotak memang sangat layak untuk membuka konser Kantata Barock. Meski hanya beranggotakan 3 orang ditambah drummer sementara pengganti Posan, mereka sanggup membakar semangat para penonton.
Kotak membuka konser

Sekitar jam 7 malam, tiba-tiba ratusan penonton memasuki area Tribun Atas. Sepertinya mereka adalah para penonton tanpa karcis yang mendobrak masuk, yang diberitakan oleh beberapa media. Suasana Tribun Atas pun mendadak berubah menjadi seperti di kereta ekonomi. Asap rokok mencemari udara dan para pedagang asongan berkeliaran. Saya tidak habis pikir, bagaimana para pedagang itu bisa masuk. Mungkin begitulah suasana sejati konser 'rakyat'.

Tidak lama kemudian, layar LCD raksasa mulai menampilkan kilas balik perjalanan Kantata Barock dan bagaimana mereka menyuarakan perjuangan menentang ketidakadilan dan korupsi. Tampak alm. WS Rendra membacakan puisi-puisinya. Satu per satu, para personel memasuki panggung diiringi histeria massa.

'Nocturno'

Setiawan Djodi berseru, "Dua puluh satu tahun lalu, siapa yang di sini? Kita kangen kalian semua. Sekarang, kita resolusi sosial dan menghibur saudara-saudara sekalian." Ia lalu mengajak penonton menyanyikan lagu 'Padamu Negeri'. Stadion GBK terasa bergetar ketika ribuan penonton menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat.

Konser sesungguhnya pun dimulai. Berikut adalah setlist lagu yang ditampilkan malam itu:
1. Nocturno
2. Partai Bonek
3. Goro-goro
4. Balada Pengangguran
5. Kemarin dan Esok
6. Megalomania
7. Badut
8. Mata Dewa
9. Tikus Ngongrong
10. Panji-Panji Demokrasi
11. Beraksi
12. Mukjizat
13. Barong! Aku Bento
14. Puing
15. Proyek 13
16. Nyanyian Jiwa
17. Ombak
18. Pangeran Brengsek
19. Bongkar
20. Nyanyian Preman
21. Bento
22. Cinta
23. Hio
24. Kesaksian

Animasi lagu 'Partai Bonek'

Setiap lagu didukung oleh animasi menarik di LCD raksasa, yang membantu memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Berbagai ilustrasi membahas tentang isu korupsi, sosial, politik, lingkungan hidup, perang dan terorisme. Baik Iwan Fals maupun Setiawan Djodi cukup aktif berinteraksi dengan penonton, menceritakan kisah dibalik sebuah lagu atau berorasi menyampaikan kritik mereka terhadap situasi negeri ini.

"Selamat malam, selamat datang di negeri para calo!" kata Iwan Fals, seusai menampilkan lagu 'Nocturno'. Wajah-wajah presiden RI, mulai dari Ir Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, serta para pemimpin dunia yang terlibat konflik, menjadi latar belakang saat Iwan Fals menyanyikan lagu 'Partai Bonek'.

Di lagu 'Balada Pengangguran' tampak ilustrasi Gayus Tambunan memakai seragam astronot dan ada di gambar uang seribu rupiah, sehingga memancing tawa penonton. Iwan Fals juga mengkritik para diktator dunia dan pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan mereka lewat lagu 'Megalomania'. Terlihat gambar animasi Fidel Castro, George W. Bush, Khadafi, dan Saddam Hussein.
Gayus dalam ilustrasi 'Balada Pengangguran'

 "Ini kisah hidup di negara calo, bangga lagi. Dasar badut," seru Iwan Fals sebelum menyanyikan lagu 'Badut' dengan latar belakang wayang di layar LCD. Tanpa dikomando, sebagian besar penonton lalu bersama-sama menyanyikan lagu 'Mata Dewa'.

Para sesepuh Kantata Barock juga berkolaborasi dengan musisi yunior mereka. Bersama drummer Kotak yang sangat menonjol malam itu, mereka membawakan lagu 'Panji-Panji Demokrasi'. Lalu bersama Kotak dan Once menampilkan lagu Kotak, 'Beraksi'.

Sebelum menyanyikan lagu 'Mukjizat', Setiawan Djodi berkata, "Saya syukuran karena dapat kembali survive. Dokter pernah bilang kesempatan sembuh saya kecil, 20 persen saja enggak ada. Tetapi, saya diberi kesempatan hidup. Ini mukjizat, saya harus mengisi hidup dengan perbuatan baik.” Di layar tampak adegan operasi bedah, yang seolah menceritakan bagaimana dulu Djodi selamat dari penyakit lever yang dideritanya.

Mereka juga menampilkan versi baru lagu Bento, yakni 'Barong! Aku Bento'. Kemudian Iwan Fals bersama penonton satu stadion menyanyikan lagu 'Puing'. Suasana terasa bergetar, melihat beberapa adegan perang, rapat umum PBB, juga pidato JFK. Selain mengkritisi korupsi, pemerintahan diktator, dan perang, mereka juga membahas isu lingkungan hidup di lagu 'Proyek 13'. Layar menampilkan bahaya nuklir seperti yang terjadi di Chernobyl dan bagaimana sumber energi alternatif bisa didapat dari air, angin, dan matahari.

Ilustrasi George W. Bush untuk 'Megalomania'

Koor penonton kembali terulang di lagu 'Nyanyian Jiwa'. Setiawan Djodi pun mengenang, "Waktu saya di rumah sakit, antara ada dan tiada, saya minta anak saya menyetel lagu ini."

“Sebelum meninggal, WS Rendra bilang kita harus bikin Kantata lagi tapi namanya Kantata Samudra karena Indonesia banyak memiliki samudra. Dia berpesan kita harus jaga laut kita, karena 70 persen Indonesia isinya laut. Harusnya dengan banyak laut kan harga ikan enggak mahal-mahal. Harusnya kita makmur tapi kenapa nelayan kita miskin-miskin?,” ujar Iwan Fals yang kemudian menyanyikan lagu 'Ombak' secara solo, sambil bermain gitar dan meniup harmonika. Penonton pun spontan menyalakan korek api atau layar HP mereka, menambah syahdu suasana.

Di lagu-lagu hit seperti 'Bongkar', 'Bento', dan 'Hio', penonton ikut menyanyi dengan lantang. Di latar belakang lagu 'Hio' tampak ilustrasi kerusuhan Mei 1998 dan kasus pembunuhan Munir yang sampai sekarang belum tuntas. Rekaman video puisi Rendra, mengawali lagu terakhir berjudul 'Kesaksian'.
Penonton koor menyanyikan lagu 'Bongkar'

Total 4 jam konser Kantata Barock berlangsung. Stamina para musisi veteran tersebut memang luar biasa. Iwan Fals, Sawung Jabo, dan Setiawan Djodi yang didukung oleh Dody "Elpamas" Katamsi sebagai backing vocal dan beberapa pemusik dari Sirkus Barock, menampilkan komposisi musik yang hidup dan kaya akan warna. Nyata-lah mengapa mereka layak menyandang gelar legenda musik Indonesia.

Selain itu, visualisasi konser ini pun spektakuler. Mulai dari animasi yang memperkuat pesan setiap lagu, hingga tata lampu yang memukau. Meskipun, lampu-lampu itu kerap langsung mengarah ke Tribun Atas dan menyilaukan mata penonton. Sound system cukup baik, meski agak tertahan sehingga terdengar 'mendem' di Tribun Atas. Namun hal itu wajar terjadi di venue outdoor.

Selain itu, saya juga ingin mengkritik beberapa hal, seperti:
1. Durasi terlalu lama untuk setiap lagu. Setelah 5 menit pertama, lagu pun jadi membosankan.
2. Orasi kepanjangan, padahal pesan konser sudah terjewantahkan dalam lirik lagu dan visualisasi.
3. Agak ironis bahwa Kantata Barock mengkritik korupsi (mencuri), tetapi sebagian kecil penonton malah menyerobot masuk tanpa mau membayar tiket.
4. Budaya penonton merokok masih bisa saya mengerti, tetapi kok pedagang asongan bisa masuk ke venue sekelas GBK? Bahkan di bagian Festival, saya melihat ada beberapa pedagang tahu gejrot. Katanya ada 2500 personel polisi yang mengamankan konser, tapi kok mereka melewatkan para pedagang asongan itu.

Bagaimanapun, salut untuk Kantata Barock!


Credits:
Adit, BJ, Neena, dan Budi Mendoza yang sudah menemani saya nonton konser.
Special thanks untuk  Adit yang sudah membelikan tiket dan Neena untuk foto-fotonya.
Adib Hidayat yang posting foto Setlist konser di twitternya.

References:
1. http://www.tribunnews.com
2. http://www.kompas.com
3. http://sidomi.com
4. http://hot.detik.com
5. http://rajakarcis.com

11 comments:

  1. Budaya masyarakat kita memang begitu, susah untuk tertib dan disiplin. Buat mereka Gw punya aturan main sendiri maka pedagang asonganpun bisa dengan leluasa menawarkan prodaknya. Low soal polisi mah... ga usah dibahaslah polisi kitakan harganya murah, asal ada uang pelicin smua bisa diatur.
    Semoga mereka mengerti ini harus diubah dan mau berubah Tugas kita bersama pastinya.

    Emm..... Banyak sekali lagu lagu yg saya kenal menarik juga, Tapi yg paling saya Suka Mata dewa N Bongkar dari kecil aku sudah suka banget lagu itu. awalnya karna kakak sering muter lama2 Voling in love deh... hehehe...
    Gambaran cerita yg menarik tidak bisa liat tapi jadi tau jalan ceritanya.
    Sukses ya Mbakyu... N Thanks wat postingan cerita ini. Yuk mariiii........

    ReplyDelete
  2. Wong Cilik: Jadi lucu sih sebenarnya, mereka menyukai Kantata Barock karena lagunya dianggap mewakili mereka yg mengkritik penguasa. Tapi mereka tidak mengkritik diri sendiri. Btw lagu2nya memang bagus2, jadi tambah penasaran ingin dengar albumnya.

    ReplyDelete
  3. ika,sudah bisa nulis panjang sekarang ya? :) good job. Dan satu lagi, detail...

    ReplyDelete
  4. Mungkin itu yg dimaksud dengan istilah Gajah dipelupuk mata ga keliatan tapi semut diujung sana keliatan. Ya... apapun itu semua memang perlu bercermin. Emm.... Anda tentu mengenal saya kan....? maksudku bahasa2ku ini Pembaca setia Blog anda saya akan usahakan tuk selalu mampir di postingan cerita Anda.
    Sukses Mbakyu.....

    ReplyDelete
  5. nice posting ika , saran sedikit buat judulnya,terdengar terlalu biasa, kayak judul keberhasilan team meraih emas dipertandingan olahraga, tapi isi tulisannya juara bgt, dan fair.

    dan hal hal kecil yg ada di tkp itu gak pernah lepas dari pantauan lu, inilah kekuatan tulisan ini, bikin yang ngak nonton bisa merasakan kayak ada di sana, sangat membantu.

    Konser yang bagus dengan reportase tulisan yang bagus pula... saling melengkapi. thx my dearest Ika...

    ReplyDelete
  6. eh yang di atas itu koment gw ya hehehe... Mulyadi mizar

    ReplyDelete
  7. Taufan: Dari dulu juga tulisannya udah panjang. Tapi dulu agak ngebosenin bacanya hehe

    Wong Cilik: Siapa ya? Terima kasih udah mampir dan baca. Semoga bermanfaat.

    Mulyadi: Harap maklum, saya belum pinter cari judul bombastis hehe

    ReplyDelete
  8. Legenda musik indonesia adalah IWAN FALS
    mampir di blog aku ya

    ReplyDelete