Wednesday, January 11, 2012

Kisah Bocah Penjinak Angin dari Afrika

(Pic: ulas-buku.blogspot.com)
Membaca buku ini, membuka mata saya bahwa betapa beruntungnya saya hidup di Indonesia. Afrika adalah benua yang serba kekurangan, tanah yang sebagian besar tandus, musim kering yang panjang, serta penduduk yang mayoritas memiliki fanatisme kesukuan. Selalu ada kisah sedih dari Afrika, entah itu yang disebabkan oleh bencana kelaparan, wabah penyakit, ataupun perang antar-etnis.

Namun selalu ada setitik embun di tengah padang pasir. Dalam buku ini, embun itu bernama William Kamkwamba. Seorang bocah Malawi miskin yang tinggal di desa kecil bernama Masitala, dekat kota Kasungu. Kekeringan dan gagal panen chimanga (jagung) di tahun 2002 yang melanda negeri itu, membuatnya terpaksa putus sekolah karena ayahnya tidak punya panen untuk dijual.

Gagal panen juga sama artinya dengan bencana kelaparan. Di tahun itu, konon bencana kelaparan telah membunuh ratusan penduduk Malawi. UNICEF memperkirakan ada 46 ribu anak Malawi yang kekurangan gizi. Saat itu William masih 14 tahun.

Sejak kecil, William adalah bocah yang memiliki rasa ingin tahu besar terhadap cara kerja alat apapun yang dilihatnya. Mengapa bahan bakar bisa membuat truk berjalan, dinamo membuat lampu sepeda menyala, bagaimana orang bisa menyimpan lagu ke CD, apa yang membuat radio mengeluarkan suara? Ia selalu bertanya pada ayahnya atau orang-orang yang dianggapnya mengerti. Namun mereka hanya tahu cara menggunakannya dan tidak bisa memberikan jawaban.

Akhirnya William menemukan jawabannya dalam buku-buku di perpustakaan desa. Sejak putus sekolah, dia memang banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan itu. Suatu hari, William menemukan buku bergambar kincir angin, dengan judul 'Using Energy'. Membaca buku itu, dia pun mengerti prinsip energi gerak dan cara kerja kincir angin.


"Angin akan memutar bilah kincir angin, menggerakkan magnet di dalam dinamo (sepeda), lalu menciptakan arus listrik. Jika kita sambungkan sepotong kawat ke dinamo itu, kita akan mendapatkan tenaga untuk berbagai benda, seperti bola lampu. Tidak perlu lagi memakai lampu minyak tanah yang asapnya pedih di mata dan menyesakkan nafas. Dengan sebuah kincir angin, aku dapat membaca di malam hari, bukannya tidur pukul 7 seperti orang-orang lain di Malawi."

Pemikiran sederhana itu akhirnya berkembang ketika William menyadari bahwa kincir angin itu juga dapat memompa air untuk irigasi. Itu adalah solusi untuk masalah kekeringan di Malawi.

"Kalau pompa itu dipasang di sumur dangkal dekat rumah kami, kami akan bisa panen dua kali dalam setahun. Jika seluruh penjuru Malawi kekurangan makanan di bulan Desember dan Januari, kami malah sedang memanen jagung yang kedua kalinya. Dengan itu, aku tidak akan lagi kekurangan makan dan tidak akan putus sekolah."
William dan kincir angin buatannya
 
Terbakar oleh motivasi, William pun mempelajari dan mempraktekkan cara membuat kincir angin. Keterbatasan ekonomi dan peralatan mendorong William untuk menggunakan bahan-bahan bekas pakai yang diperolehnya dari sekitar rumahnya, tempat-tempat sampah, maupun Kacholoko, yakni tempat penimbunan rongsokan mesin, mobil, dan traktor.

Namun, ada saja komponen yang harus dibeli, seperti dinamo sepeda. Untuk membelinya, William bekerja ganyu, yaitu pekerjaan fisik yang dibayar per jam atau per hari. Dia juga sangat dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Gilbert dan Geoffrey.

Seperti biasa, orang yang berbeda selalu dipandang sebelah mata. Penduduk sekitar memanggilnya 'misala', orang gila. Para pelajar sekolah di belakang Kacholoko menuduhnya sebagai penghisap chamba (mariyuana). Namun, sang Ayah selalu mempercayai dan mendukung anaknya.

Ketika kincir angin itu berdiri dan benar-benar menghasilkan listrik untuk rumahnya, orang-orang pun berbalik menghormatinya. William berhasil. Namun ia tidak cepat puas. Berbagai perbaikan dilakukannya agar kincir angin itu bisa menghasilkan listrik yang lebih besar dan juga lebih aman.

Kerja keras William akhirnya diketahui oleh Dr. Mchazime, yang bekerja di badan pendidikan MTTA. Beliau mengundang berbagai media massa terkenal untuk datang ke Masitala. Dr. Mchazime bermaksud menjadikan William sebagai contoh untuk pemerintah Malawi dan dunia, yaitu contoh anak berbakat yang mungkin akan tersia-sia karena kemiskinan. Bukan hanya itu, Dr. Mchazime lah yang mengupayakan agar William dapat meneruskan sekolah lanjutannya.
Headline di Daily Times

Kisah bocah pembuat kincir angin itu tidak berhenti sampai di situ. Internet telah mengubah dunia seorang William Kamkwamba. Sebuah artikel Daily Times, koran Malawi berbahasa Inggris, yang memuat kisah William di halaman depan, telah menarik perhatian Mike McKay, pemimpin NGO Amerika yang bekerja di Malawi. McKay menulis tentang William di blognya, Hacktivate. Blognya dibaca oleh Emeka Okafor, pengusaha dan blogger dari Nigeria. Emeka juga merupakan program director TEDGlobal 2007, konferensi besar yang akan diselenggarakan di Tanzania. Dia mengundang William sebagai salah satu pembicara.

Setelah itu, nama William pun semakin dikenal dunia. Semakin banyak orang yang ingin membantunya dan juga negerinya. William kemudian mendapat beasiswa untuk bersekolah African Leadership Academy di Johannesburg, Afrika Selatan. Misi sekolah itu adalah untuk mendidik calon-calon pemimpin Afrika di masa depan. Kini William kuliah di Dartmouth College, Amerika Serikat. Setelah lulus kuliah nanti, William berencana membangun lebih banyak kincir angin di negerinya.

Di tengah berbagai pujian dan harapan yang diberikan kepadanya, mungkin kata-kata inilah yang paling diingat oleh William. Ketika untuk pertama kalinya ia berhasil memasang bola lampu di ruang tengah rumahnya, William berkata pada ayahnya, "Mister Kamkwamba, ruangan ini dulunya begitu gelap dan menyedihkan pada jam-jam seperti ini. Sekarang coba lihat, Anda sedang menikmati listrik seperti orang kota!"

"Oh," kata Ayah sambil tersenyum. "Aku menikmatinya lebih dari orang kota."

"Karena tidak akan ada pemadaman listrik dan Anda tidak perlu membayar kepada ESCOM (PLN-nya Malawi)?"

"Ya, itu betul," kata Ayah. "Tapi juga karena anakku yang membuat listrik ini."


Video:
Moving Windmills: The William Kamkwamba story

William Kamkwamba: 'How I Harnessed the Wind' (TED Talks, 2009)



References:

William Kamkwamba dan Bryan Mealer. Bocah Penjinak Angin, Perjuangan Membangkitkan Arus Listrik dan Harapan di Tengah Padang Afrika. 2011. Tangerang: Literati

http://williamkamkwamba.typepad.com/
http://www.ted.com/speakers/william_kamkwamba.html
http://en.wikipedia.org/wiki/William_Kamkwamba

28 comments:

  1. semangat luar biasa di saat keterbatasan, itulah orang maju, bgaimanapun dgn keadaan apapun dia akan trus berpikir trus berpikir karena hati dan pikirannya yg tidak mau di belenggu oleh keadaan

    ReplyDelete
  2. sangat inspiratif.. patut dicontoh :-)

    ReplyDelete
  3. Kage, Aziz: Terima kasih sudah mampir.

    Izal: Berkat Anda, saya jadi tahu kalau tulisan saya masuk headline vivanews. Trims ya

    Ajik, Kira, Pribadi: Terus terang pas saya baca bukunya, kadang jadi malu sendiri lihat semangat belajar dan pantang menyerah William. Padahal kesulitan hidupnya tak terbayangkan.

    ReplyDelete
  4. hebat, tapi biasanya orang-orang sukses lahir dari rasa penasaran, miskin kaya saya, hehe ;)

    ReplyDelete
  5. Keren banget cerita Sob, semoga hal ini akan menjadi motifasi para generasi anak bangsa manapun, bahwa kemiskinan tidak akan mematahkan semangat mereka untuk maju dan berkembang.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  6. Mantap.
    Di tengah kekurangan, ada yang masih bersemangat untuk maju.
    Ikut terharu mendengar ceritanya dan merasa malu karena tidak bisa berbuat banyak seperti william.

    ReplyDelete
  7. ini namanya teknologi pedesaan untuk pemanfaatan energi alam secara sederhana

    ReplyDelete
  8. Sip.... bisa merambah duia juga berkat internet. Semoga semakin banyak angin yang bisa dijinakan di Malawi dan semakin bisa mengeerti ari persahabatan dan perdamaian dan bukan nya selalu mengedepankan permusuhan dan peperangan :D


    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    ReplyDelete
  9. Stupid: Penasaran dan juga gak gampang puas.

    Ejawantah, I2: Tidak mengeluh dan memaksimalkan apa yg dimiliki. Memang patut dicontoh.

    Asaz: Kayak Macgyver ya :D

    Sugeng: Amin.

    ReplyDelete
  10. ayo anak indonesia, buatlah energi mandiri macam Will

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mereka dikasih tahu caranya, mungkin lewat bacaan, mereka juga bisa kali ya.

      Delete
  11. Klo baca ne buku tidak ada yg lebih pantas tuk kita ucapakan Selain kata Syukur, Negeri kita kan Ibarat Kolam Susu Lautan Luas Tanahnya jg subur.
    Biji jatoh aja bisa tumbuh, Kita tinggal dinegeri yg serba ada.

    lagi lagi You punya ini Blog Sangat menginspirasi Mba Ika, Klo kita memahami keterbatasan dan menyikapinya dgn lebih kreatif dan aktif ternyata bisa menghasilkan "Sesuatu" Salud Yuk... Anak2 bangsa sudah harus mulai berfikir tuk mengoptimalkan apa yg ada dinegeri kita.

    Jangan bertanya apa yg telah negeri ini beri tuk kita
    Tapi marilah bertanya apa yg tlah kita beri untuk Negeri ini.

    Semoga Semanagat Will Dibawa oleh Anggin Malawi dan bisa sampai ke Indonesia.
    Profisiat Mbakyu...!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mulai rajin membaca seperti William ;)

      Delete
    2. bagus" ceritanya tentang william, itu bisa kita contoh
      mangkannya kita tidak boleh memandang orang dengan sebelah mata

      follow back yah....
      happy blogging...:P

      Delete
  12. Subhanallah... mantap...
    Keterbatasan lingkungan tak harus membuat kita menyerah...
    Bagus jadi inspirasi nih... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Seperti lagunya d'Masive 'Jangan Menyerah' hehehe

      Delete
  13. Kisah sukses yang bisa jadi motivasi bagi semua orang..
    bahwa ditengah segala kekurangan, masih ada satu yang tak pernah hilang: HARAPAN...

    tetap semangat...

    ReplyDelete