Sunday, March 20, 2016

Balada F1 & Membangun Bisnis

Source: gpf1.cz
Terakhir kali saya mengikuti F1 itu pas hebohnya persaingan antara Michael Schumacher dan Mika Hakkinen. Buset itu udah lama banget ya hahaha. Berbeda dengan orang lain, saya mendukung Mika Hakkinen. Habis bosan lihat Schumacher juara melulu.

Gara2 Rio Haryanto lah, saya mengikuti lagi F1. Mirip CLBK gitu deh hahahaha. Kebetulan banget banyak sekali 'drama' yg muncul di GP perdana Melbourne ini. Yg paling dramatis tentunya tabrakan mobil antara Alonso dan Guttierez. Thank God, Alonso selamat dan masih bisa jalan. Padahal mobilnya udh ringsek abis.




Source:news.sportauto.fr
Tapi bukan Rio dan Alonso yg menjadi topik tulisan ini. Banyak sekali kejadian di laga tadi yg membuat saya berpikir ttg kesamaan F1 dan proses membangun bisnis.
1. Being the 1st doesn't guarantee you to be the winner. 
Hamilton menempati pole position pertama, tapi begitu start dia langsung disalip dan berada di posisi 6. Berkat ketangkasan dan kerjasama tim, Hamilton bisa memperbaiki posisi dan menjadi juara 2.
2. No Man can do it all alone, he needs a great team and resources. 
Pembalap superhebat sekalipun gak bakal bisa menang tanpa didukung mobil yg oke, tim teknisi yg kredibel dan tim di kokpit yg kompak. Raikonnen harus stop membalap gegara ada api keluar dr mobilnya. Atau kecepatan kinerja tim kokpit akan berpengaruh ke posisi pembalap di balapan.
3. Don't push yourself too hard, save your breath til the end of the competition. 
Ambisi boleh tinggi, tapi mesti sadar diri. Mesti disesuaikan dgn kapasitas yg dipunya saat ini, mesti tahu kapan saatnya tekan tombol Turbo, kapan momen utk menyalip. Kalau gak ntar kejadian kayak Alonso atau Rio yg terpaksa mundur demi mempertahankan gearbox mobilnya.
4. Make a good plan, if not, you plan your own failure. 
Ngapain sih bikin rencana, bukannya hidup itu serba gak pasti? That's true, kan tetaplah Tuhan yg menentukan. Tapi kalo gak ada rencana, gimana bisa kerjasama tim? Pembalap dan teknisi kan harus sama2 paham mau ngapain dan untuk apa. Apalagi di F1 setiap detik itu berharga. Masa mau buang waktu pas balapan diskusi dulu, ganti ban di lap berapa, pake jenis ban apa. Aduh itu teknisi total 30 orang lho, klo mereka ga punya rencana dr awal, pasti bingung mengkoordinir mereka.

Udah gitu aja, sampe ketemu di Martabak Factory buat nonton GP Bahrain!  grin emoticon

No comments:

Post a Comment