Wednesday, July 12, 2017

Indahnya dan Ramahnya Sawarna!

video

Lebaran kemarin, sebenarnya saya tidak punya rencana berlibur. Selain sedang berhemat, juga malas bermacet-macet ria ke tempat-tempat wisata. Saya berencana pulang kampung saja ke Rangkasbitung, Lebak, Banten. Tapi karena Ibu saya kekeuh ingin ‘main’, saya pun menawarkan beberapa alternatif pergi ke Bandung atau Cirebon, asal naik kereta. Eh sayangnya tiket kereta pun sudah ludes, maklum Lebaran, sedangkan saya paling anti terjebak kemacetan panjang menuju Bandung.

Akhirnya muncul ide ke Pantai Sawarna, yang dari dulu sebenarnya ingin saya kunjungi. Apalagi pas saya cek Google Map, wow garisnya biru, bukan merah! Karena perjalanannya jauh, sekitar 150km (3.5 – 4 jam dari Rangkasbitung), saya harus pastikan penginapannya ada, soale bawa emak-emak. Kalau sampai dia marah, bisa kelar hidup gue.

Di Google Map ternyata cuma ada 3 penginapan. Sempat deg-degan karena 2 penginapan pertama tidak ada kamar kosong. Tinggal Penginapan Srikandi. Saya hubungi orangnya, namanya Pak Encep (Sunda banget euy) yang bilang kamarnya tinggal 2, pakai AC dan non-AC. Saya bilang pakai AC dong, namanya juga orang kota hehe. Katanya harganya Rp 600ribu untuk 6 orang. Saya pikir-pikir sayang juga ya kalau kapasitas 6 orang cuma diisi 2. Akhirnya saya ajaklah tante, om dan sepupu-sepupu saya, sekalian penuhin mobil hehe.
Yowiss, besoknya kami pun berangkat. Lancar banget lho. Cuma bisa senyum-senyum manja pas tahu di berita kalau jalan ke Anyer dan Carita macet berjam-jam sampai pada pingsan-pingsan. Kasihan deh, mau liburan malah pingsan. Buat yang belum pernah ke Sawarna, tinggal buka Google Maps aja, tapi sebaiknya pakai provider Telkomsel yah. Soalnya sinyalnya paling kencang di situ, gak ada lawan. 

Dari Bayah menuju Sawarna, kami melewati Pantai Pulomanuk, Karang Bokor, Pantai Goa Langir dan Pantai Ciantir. Jalanannya lumayan sempit, bisa sih 2 mobil tapi seperti Tantri Kotak bilang, pelan-pelan saja. Kalau 2 mobil ketemu, salah satu mesti ngalah dan minggir dikit biar gak kesenggol. Bis juga bisa lewat kok. Karena libur panjang, lalu lintas agak ramai terutama motor. 

SUNSET DI SAWARNA

Setelah melewati Ciantir, nanti di kanan jalan ada lapangan parkir luas bertulisan Pantai Tanjung Layar. Parkir mobil saja disitu, tiket parkirnya Rp 25.000, terserah mau sampai kapan. Buat pemotor, saya kurang tahu biayanya berapa. Masih ada tiket masuk untuk pengunjung juga cuma Rp 5000. Dari lapangan parkir itu, kamipun dijemput oleh Pak Encep dan beberapa tukang ojek dengan biaya Rp 10.000/orang hingga ke penginapan.

Suasananya mirip dengan di kepulauan Seribu atau Gili Trawangan (minus bule). Sempat bingung pas kami diantar ke penginapan Aliya, bukannya Srikandi. Tapi bener sih kamarnya ber-AC dan muat 6 orang, bisa 10 orang malah. Tau gitu, bawa rombongan lagi ya biar tambah rame. Ohya ada kamar mandi dalam dan lumayan bersih. Sayang air ledengnya keluarnya seiprit, jadi yang mau mandi mesti nunggu airnya penuh dulu.

Mumpung masih sore, kami mau lihat sunset dong. Ternyata masih harus jalan kaki dulu menuju pantai, lumayan jauh, sekitar 15 menit (500m – 1 km). Tapi perjalanan itu tidak sia-sia kok. Indah sekali sunsetnya. Keunikan pantai Sawarna adalah ada sisi pantai yang berpasir dan sisi pantai yang penuh karang. Disarankan berenang di pantai berpasir yang berkarang, karena karangnya akan memecah ombak pantai selatan yang besar sekali.

video


Di tepi pantai itu juga ternyata banyak sekali penginapan homestay, biasanya dengan kamar mandi luar atau kamar mandi umum yang berbayar (tarif untuk mandi Rp 5000, buang air Rp 3000). Saya pernah coba kamar mandi umumnya, pas kebelet hehe, ternyata lumayan bersih lho. Saya juga baru tau ternyata banyak juga kamar penginapan yang masih kosong, sayang belum terdaftar di Google Maps. Tapi banyak juga anak-anak muda yang berkemah persis di tepi pantai. Wah seru juga ya, sayang saya bawa anak-anak tua… uhuk uhuk.

Untuk makanan, don’t worry be kenyang. Banyak warung kok disana dan harganya sama ama makan di warteg. Gak digetok seperti biasanya terjadi di tempat wisata. Tapi kami sekeluarga memilih makan di warung persis sebelah kamar kami. Tinggal teriak, “Masak apa bu?!” Terus dijawab, maunya dimasakin apa? Mantap kan! Makanan enak, harga murah, puasnya.

PANTAI TANJUNG LAYAR

Besoknya barulah kami ke Pantai Tanjung Layar yang terkenal dengan 2 karangnya yang menjulang. Sayangnya kami kesiangan, karena suasana pantai saat itu persis kayak pasar. Banyak banget orang-orangnya. Saya juga agak naas, karena saat menyebrangi karang, saya lupa kalau HP masih di kantong celana, padahal air lautnya lumayan dalam. Rusak deh HP saya, sedihnya. Udah gitu, orang buang sampah dimana-mana lagi (walau bukan di lautnya). Beneran kayak pasar.

But the vacation must go on. Sorenya kami memutuskan menyewa ojek Rp 125.000/orang untuk mengantar kami ke obyek wisata lain, seperti Goa Lalay, Legon Pari, Karang Taraje dan Karang Beureum. Kalau dilihat di peta kayaknya dekat-dekat tuh, sempat merasa sayang juga sih bayar segitu. Tapi setelah ke sana, melihat tempat wisatanya dan melewati medan yang cukup sulit, ternyata memang worth it. 

Peta Sawarna

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Goa Lalay (tiket Rp 5000). Saya pun menceritakan pengalaman horror teman-teman saya yang pernah ke sana. Katanya pas foto di dalam goa, di hasil fotonya ada penampakan hiiiiiiyyyy. Pas sampai di Goa Lalay, lihat didalamnya yang gelap banget dan auranya gimana gitu, saya juga jadi takut deh. Sempat mikir, duh apa batal aja ya, tapi udah telanjur basah. Akhirnya kami berempat (om dan tante gak ikut) bareng guide pun jalan beriringan, menyusuri gua yang gelap dan airnya selutut. Mana saya paling belakang pula, ntar kalau ada ‘sesuatu’ di belakang saya gimana dong. Mana guidenya arahin senternya ke langit-langit goa lagi, kalau ada ‘penampakan’ gimana. Rasanya udah mau pulang aja. Saya cuma bisa berdoa supaya Tuhan menjaga kami. Saat perjalanan mau berakhir dan melihat cahaya di ujung gua, itu rasanya legaaaaaaaa banget. Huff, gak jadi pipis di celana.

LEGON PARI

Next destination: Legon Pari. Ternyata jalan kesananya susah. Saking sulit medannya, pantat sampai sakit dan jantung deg-degan takut jatuh bo. Udah gitu lewat jembatan kayu yang goyang-goyang lagi. Ibu saya yang naik ojek di depan, beberapa kali menengok ke belakang dan teriak ke ojek saya, “Bang, bawanya hati-hati ya! Bawa anak saya itu!”. Saya pun ngomong ke abangnya, “Tuh bang, kalo saya kenapa2, ntar digampar ibu saya lho.” Si abang pun mendadak selow bawanya hehe.

Karang Taraje

Ternyata Legon Pari, Karang Taraje dan Karang Beureum itu tetanggaan. Cantik banget! Karena akses kesananya susah, turis-turis tidak seramai di Tanjung Layar. Kelebihan yang lain adalah pantai berpasirnya lebih aman untuk berenang. Ada gossip dari abang ojek, kalau tanah disitu sudah dibeli oleh Prabowo. Wow! Sayang tidak bisa lihat sunset di sini, jadi kamipun kembali ke Pasir Putih dekat penginapan demi sunset.

Tidak puas dengan keramaian orang di Tanjung Layar, kami pun bertekad untuk datang lebih pagi besoknya dan ingin berenang lagi sebelum pulang. Dan memang pagi-pagi itu, masih sedikit orang. Air laut pun masih dangkal untuk disebrangi. Cuma semata kaki, kemarin sepaha! Kali ini kami lebih puas, puas foto-foto, puas berenang.

Tanjung Layar


Terima kasih, Sawarna. Senang sekali ada pantai seindah ini di provinsi Banten tercinta. Orang-orangnya ramah, harga penginapan dan makanannya juga ramah. Sayangnya, kebersihannya kurang terjaga, juga karena memang gak ada tempat sampah! Akses dari Jakarta memang jauh (sekitar 250km atau 6 jam), tapi worth it!

Yang mau kesana, untuk penginapan, silakan kontak Bang Encep 081224999887. Atau silakan cek blog ini: http://info-wisata-pantai.blogspot.co.id/2015/07/awas-calo-daftar-30-pengapan-atau.html 


No comments:

Post a Comment